
Setelah kepergian Tuan Riyadh, Marissa memilih menemani Ibunya didalam kamar. Kedua wanita berbeda generasi itu sedang duduk di tepian tempat tidur. Marissa merengkuh tubuh Dian dan bersandar di pundaknya.
"Apa Ibu bersedia menikah dengan Ayah?" tanya Marissa.
Terdengar suara hembusan napas berat yang baru saja dikeluarkan oleh Dian. Wajahnya nampak bimbang. Ia sendiri tidak tahu, keputusan apa yang akan ia ambil jika lelaki itu benar-benar ingin bertanggung jawab kepadanya.
"Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu," jawabnya.
Marissa menarik kembali tangannya. Ia membenarkan posisi duduknya dan menatap wajah Bu Dian dengan tatapan serius.
"Apa Ibu tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Ayah? Jawablah dengan jujur, Bu,"
"Ibu tidak tahu, Marissa. Coba kamu bayangkan, Ibu masih berusia 17 tahun ketika bekerja bersama keluarga Tuan Abraham. Ibu bahkan tidak sempat merasakan jatuh cinta saat itu. Karena yang ada di pikiran Ibu hanyalah bagaimana caranya agar esok kami bisa makan, itu saja. Hingga kejadian naas itupun terjadi, dimana kepercayaan Ibu terhadap lelaki sirna. Bagaimana tidak, seseorang seperti Tuan Riyadh yang terlihat baik dan sopan bisa menghancurkan masa depan Ibu dalam sekejap mata. Sejak saat itu, citra seorang laki-laki selalu buruk dimata Ibu," tutur Dian.
"Tapi, semua orang bisa berubah 'kan, Bu. Apalagi kejadian yang terjadi pada Ibu di malam itu bukanlah karena di sengaja. Ayah tidak sadar ketika melakukannya."
Kepala Bu Dian tertunduk menatap lantai kamarnya. Ucapan yang dilontarkan oleh Marissa memang ada benarnya. Namun, ia masih belum siap jika harus memulai hubungan baru dengan lelaki itu, apalagi selama Tuan Riyadh masih berhubungan dengan Ismika. Wanita jahat yang bisa melakukan apapun terhadapnya dan juga Marissa.
"Ayolah, Bu. Berilah kesempatan pada Ayah untuk membuktikan ucapannya. Bahwa Ayah benar-benar akan bertanggung jawab kepada Ibu dan Ibu berhak mendapatkan kebahagiaan," bujuk Marissa sambil tersenyum hangat menatap Dian.
"Entahlah, Nak. Mungkin Ibu tidak akan berpikir ulang jika seandainya status Tuan Riyadh adalah seorang duda. Tapi, untuk sekarang Ibu akan terus berpikir ulang karena statusnya yang masih menjadi suami sah dari seorang wanita yang bernama Ismika Hanif," sahut Dian sambil tersenyum kecut.
Tepat disaat itu, pintu kamar Dian terbuka. Nampak wajah tampan Marcello muncul dari balik pintu.
"Sayang, sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur," ucapnya.
Marissa tersenyum. Ia memeluk tubuh Dian kemudian menciumi wajah wanita itu berkali-kali.
__ADS_1
"Marissa ke kamar dulu ya, Bu. Selamat malam," ucapnya.
"Selamat malam juga, Nak. Mimpi indah."
Dian melambaikan tangannya kepada Marissa yang kini melangkah menghampiri sang suami yang sudah menunggu didepan pintu kamarnya.
"Mari, Dad!"
Marissa meraih tangan Marcello kemudian memeluknya sambil melangkahkan kakinya bersama lelaki itu. Namun, baru beberapa langkah dari kamar Dian, Marcello tiba-tiba mengangkat tubuh Marissa dan membawanya berjalan menuju kamar mereka.
"Ya ampun, Dad. Aku bisa berjalan sendiri," protes Marissa sambil terkekeh. Wajahnya merona, ia malu karena saat itu ada beberapa Pelayan yang masih melakukan pekerjaan mereka.
"Tidak, aku tidak ingin kamu lelah. Nanti bayi ku kenapa-napa dan aku tidak ingin itu," jawabnya tanpa peduli para Pelayan yang mulai memperhatikan kemesraan mereka.
"Astaga," ucap Marissa sembari membenamkan wajahnya ke dada lelaki itu.
"Mulai sekarang aku akan terus mengawasi gerakmu. Kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat membahayakan kandunganmu dan kamu harus mengikuti semua aturanku."
Ia tidak terima jika harus kembali terikat aturan konyol Marcello seperti dulu.
"Ya," jawab lelaki itu dengan wajah datar.
Marissa menekuk wajahnya. "Awas saja kamu, Marcello. Aku akan mengerjaimu nanti!" batin Marissa.
Marcello pun berhasil membawa Istrinya hingga memasuki kamar mewah mereka. Perlahan Marcello meletakkan tubuh Marissa ke atas tempat tidur.
"Tunggulah disini," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Marissa.
__ADS_1
"Mau kemana dia?" gumam Marissa sembari memperhatikan Marcello yang semakin menjauh darinya.
Ternyata Marcello memasuki ruangan, dimana pakaian mereka tersimpan. Ia meraih lingerie milik Marissa secara sembarang kemudian membawanya kembali ke kamarnya.
"Sini, aku bantu menggantikan pakaianmu," ucapnya sembari duduk disamping tubuh Marissa.
Marissa terkekeh pelan. Ia merasa lucu melihat perhatian yang diberikan oleh Marcello kepadanya.
"Aku 'kan baik-baik saja, Dad. Kalau cuma sekedar mengganti pakaian, tidak akan membuat aku jatuh pingsan, kok."
Tanpa mempedulikan omongan Marissa, Marcello tetap melakukan tugasnya, menggantikan pakaian Marissa.
"Nah, sudah selesai. Kini saatnya kita bercinta," desahhnya disamping telinga Marissa sembari menciumi pundak mulus wanita itu.
"Eits! Apa Anda lupa kata Dokter Nisa, Tuan Marcello? Untuk trimester pertama, hindari melakukan hal itu," ucap Marissa sambil menyeringai licik.
Marcello menepuk jidat dengan mata terpejam. Ia benar-benar melupakan hal itu. Marcello menarik napas panjang kemudian mengembuskannya.
"Baiklah, sebaiknya kita tidur saja sekarang."
Marcello mengajak Marissa berbaring bersamanya dengan posisi saling berpelukan. Marissa merasakan benda keramat lelaki itu sedang bangkit dan bergerak-gerak di bawah sana.
"Daddy, apa kamu yakin baik-baik saja? Aku bisa membantumu dengan tanganku?" goda Marissa dengan kerlingan nakalnya.
"Apa maksudmu?" tanya Marcello sembari membuka matanya dan menatap wanita itu dengan wajah serius.
"King Cobra'mu, Daddy! Dia bangkit 'kan?" jawab Marissa sambil terkekeh.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan, demi calon bayiku, apapun aku lakukan. Walaupun aku harus menahan amukan si 'King Cobra'," jawabnya.
...***...