Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 50


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Sarrah dengan seseorang yang berada disebarang telepon.


"Cincin itu memang palsu, Nona Sarrah. Dan kami sebagai pihak yang menjual perhiasan tersebut dapat memastikan kepada Anda, bahwa cincin itu bukanlah buatan pengrajin kami," sahutnya.


Wajah Sarrah memerah, ia benar-benar marah setelah mendengar penuturan dari Manager Toko Perhiasan langganannya. Ia yakin sekali bahwa ini ada campur tangan dari gadis nakal itu.


"Baiklah, terima kasih. Nanti akan ku selidiki sendiri bagaimana cincin itu bisa tertukar dengan yang palsu."


Sarrah segera mematikan ponselnya kemudian bergegas menuju kamar Marissa. Kebetulan saat itu Marcello tidak ada di Mansion. Sekarang, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari keberadaan Marissa.


Sarrah membawa beberapa orang Pelayan untuk membantunya menggeledah kamar gadis itu. Sebenarnya para Pelayan itu menolak, tetapi setelah mendengar ancaman Sarrah yang akan memecat mereka, merekapun bersedia.


"Geledah kamar ini dan jangan ada yang terlewat sedikitpun!"


"Baik, Nona!"


Para Pelayan itupun mulai menggeledah ruangan itu, begitupula Sarrah. Iapun turut mencari keberadaan cincin berliannya yang asli. Setelah beberapa menit,


"Nona, apakah ini cincin yang Anda maksud?" ucap salah seorang Pelayan yang berhasil menemukan sebuah cincin diantara tumpukan pakaian Marissa.


Dengan menggebu-gebu Sarrah menghampiri Pelayan itu kemudian meraih cincin berlian yang dipegang olehnya.


"Benar! Ini punyaku! Marissa, aaarghhh!!!"


Sarrah sangat kesal, ia bahkan sampai berteriak didalam ruangan itu dan membuat para Pelayan ketakutan.


"Awas, kamu Marissa! Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu bahagia diatas penderitaanku! Aku hampir saja kehilangan jariku gara-gara kamu, akan ku tuntut kamu!" hardiknya sambil menggenggam erat cincin itu.


Para Pelayan tidak ada yang berani mendekat. Mereka berdiri dipojokkan sambil menundukkan kepala. Sarrah berbalik kemudian kembali memerintahkan para Pelayan itu untuk membereskan kamar Marissa sama seperti semula.

__ADS_1


"Bereskan kamar ini sama seperti sebelumnya! Dan kalian boleh kembali ke dapur, jika kalian sudah selesai membersihkannya," titah Sarrah.


Selang beberapa saat, akhirnya ruangan itupun kembali bersih dan rapi sama seperti sebelumnya. Setelah kepergian para Pelayan, Sarrah kembali meletakkan cincinnya didalam lemari pakaian gadis itu.


"Jika kamu berani mengacaukan hubunganku bersama Marcello, maka ini adalah senjataku untuk menghancurkan dirimu, Marissa!" gumamnya sambil menyeringai licik.


Sementara itu,


Marcello berada didalam mobilnya bersama Joe dan beberapa Bodyguardnya. Mereka sedang mengintai pergerakan Fattan yang baru saja tiba di kediamannya.


"Sebaiknya kita segera menghampirinya, Tuan! Sebelum ia pergi lagi," ucap Joe.


"Baiklah!"


Joe segera keluar dari dalam mobil kemudian mempersilakan Marcello untuk melangkah lebih dulu, yang kemudian disusul oleh para Bodyguard.


Fattan terkejut bukan main. Namun ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Fattan yang sedang merapikan bagasinya, segera berbalik dan menatap Marcello.


"Selamat siang juga, Tuan Marcello. Maaf, ada yang bisa saya bantu?" jawab Fattan sembari menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk lelaki itu.


Namun, sayang bagi Marcello itu bukanlah senyuman manis, melainkan senyuman mengejek yang sangat mengesalkan.


"Bawa dia masuk! titahnya kepada para Bodyguard.


Para Bodyguard itupun segera menghampiri Fattan dan membawa lelaki itu memasuki rumahnya. Fattan sempat mengelak, tetapi tidak berhasil. Para Bodyguard itu lebih gesit dari dirinya.


Setelah para Bodyguard berhasil membawa Fattan masuk kedalam rumahnya, Marcello dan Joe pun segera menyusul mereka.


"Lepaskan aku! Sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku," tegas Fattan.

__ADS_1


Marcello menyeringai sambil berjalan melewati Fattan yang tubuhnya ditahan oleh para Bodyguard. Lelaki itu melangkah menuju sofa kemudian duduk disana dengan gaya santainya. Dan kini matanya menatap tajam kearah Fattan.


"Dimana Marissa?" tanya Marcello, masih dengan senyuman yang tersungging di wajah tampannya.


"Marissa? Bukankah dia anak Anda, lalu kenapa mempertanyakan keberadaannya kepada saya?" jawab Fattan.


"Jawab saja yang sejujurnya, Fattan. Kamu tidak ingin, 'kan wajahmu yang tampan itu harus babak belur karena pukulan para Bodyguard ku itu?"


"Maafkan saya, Tuan Marcello. Tetapi saya benar-benar tidak tahu apa yang Anda maksud,"


Marcello mulai kehilangan kesabaran menghadapi Dosen tampan itu. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri lelaki itu dengan wajah memerah.


"Kamu dari mana saja, Fattan! Kamu menghilang, tepat dihari Marissa meninggalkan Mansionku. Dan kabar terakhir yang aku dengar, sebelum ia meninggalkan kota ini, Marissa sempat mengunjungi kampusnya!"


Fattan terkekeh dan hal itu membuat emosi Marcello semakin memuncak.


"Jangan pernah main-main denganku, Fattan! Kamu belum tahu siapa aku," tegasnya.


"Bukan, bukan seperti itu , Tuan Marcello. Saya hanya merasa lucu ketika mendengar ucapan Anda bahwa kepergian saya bertepatan dengan hari kepergian Marissa dari Mansion Anda. Bisa saja itu hanya kebetulan 'kan, Tuan Marcello. Jadi tidak sepatutnya Anda mencurigai saya seperti itu."


Marcello berbalik. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada diruangan itu. Sedangkan Joe berjalan menghampiri Fattan kemudian,


Bugkh!!!


"Akh!" pekik Fattan ketika Joe memberikan sebuah pukulan ke perutnya.


Marcello hanya diam sambil memperhatikan Fattan yang meringkuk menahan sakit akibat pukulan Joe. Joe sudah tidak dapat menahan emosinya menghadapi Fattan yang terlalu bertele-tele ketika ditanya oleh Bossnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2