Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 265


__ADS_3

Marissa bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Shakila.


"Vel, minggir!"


Marvel menggaruk tengkuknya karena Marissa memerintahkan dirinya untuk menyingkir. Mau tidak mau, Marvel pun menggeser tubuhnya dan membiarkan Marissa menggantikan posisinya duduk di samping Shakila.


"Kila," ucap Marissa sembari merengkuh pundak Shakila yang masih kebingungan.


"Mommy, Kila ...."


"Jawablah sesuai dengan isi hatimu, Shakila. Jangan sampai ada keterpaksaan. Katakanlah 'Tidak', jika hatimu memang menolaknya. Namun, jika memang hatimu ikhlas menerima Marvel untuk menjadi pasanganmu, maka katakanlah 'Ya'," tutur Marissa.


Marissa memperhatikan ekspresi wajah Shakila saat itu. Sepertinya Shakila sedang tertekan. Ia tidak berani mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya. Mata Shakila bahkan terlihat berkaca-kaca dan air matanya hampir saja merembes.


"Mom,"


Shakila memeluk tubuh Marissa kemudian menangis di pelukan wanita itu. Marcello, Marissa dan Marvel terheran-heran karena tiba-tiba saja gadis itu menangis pilu.


"Kila, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu malah menagis seperti ini? Apa kami sudah menyinggung perasaanmu? Katakan sama Mommy, Kila!" ucap Marissa sembari mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


Shakila menggelengkan kepalanya pelan. Namun, ia masih enggan melepaskan pelukannya di tubuh Marissa.


"Lalu kenapa kamu menangis? Jangan buat Mommy khawatir, Kila. Bukankah Mommy Icha juga Mommy kamu?" Marissa meraih wajah Shakila yang masih menempel di dadanya kemudian menatapnya lekat.


"Kila takut, Mom."


"Takut? Apa yang kamu takutkan?"

__ADS_1


"Sebenarnya ...."


Shakila melerai pelukannya bersama Marissa kemudian menyeka air mata yang masih membasahi kedua pipinya dengan kepala tertunduk.


"Jujur, selama ini Shakila memang menyukai sosok Tuan Marvel, Mom. Tapi Shakila sadar siapa Shakila disini. Shakila tidak pantas untuk ...." Shakila menggigit bibir bawahnya dan tangannya terus menggulung-gulung ujung dress yang sedang ia kenakan dengan gemetar.


Marvel tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari Shakila bahwa ternyata Shakila juga menyukainya. Namun, saat ini ia tidak tahu apa alasan Shakila yang selalu berusaha menghindarinya.


"Kenapa, Shakila? Kenapa kamu bicara seperti itu?!" pekik Marissa.


"Karena kata Daddy, tugas kami adalah menjadi pengabdi untuk keluarga kalian. Tidak sepantasnya aku menyimpan perasaan seperti itu kepada Tuan Marvel," lirih Shakila.


"Ya Tuhan!" pekik ketiga orang itu secara bersamaan. 


"Kenapa Om Joe bisa berkata seperti itu? Padahal selama ini kami menganggap keluarga kalian seperti keluarga kami sendiri. Aku bahkan menyayangi kamu dan kedua adik kembarmu sama seperti aku menyayangi ketiga anakku," lirih Marissa sambil menggelengkan kepalanya.


"Joe benar-benar sudah gila! Aku harus kasih pelajaran lelaki itu! Sudah tua, tapi otaknya masih tetap dangkal," kesal Tuan Marcello.


"Tuan Marcello, ku mohon! Jangan sakiti Daddyku. Hukum saja aku ... aku rela menggantikan posisi Daddy untuk menerima hukuman darimu," lirih Shakila.


"Eh Shakila, kenapa kamu jadi seperti ini!" Marissa meraih tubuh gadis itu kemudian memeluknya dengan erat.


Marcello terkekeh kemudian menghampiri Shakila yang masih terisak di pelukan Marissa.


"Tak ada yang ingin menghukum pria tua itu, Shakila. Aku hanya ingin menyentil otaknya yang dangkal itu. Berani-beraninya dia berkata seperti itu. Apa dia sudah lupa bahwa dia sudah seperti Kakakku sendiri. Enak saja berkata yang tidak-tidak, memangnya dia siapa!"


Marcello melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu dan segera disusul oleh Marvel. Shakila yang masih ketakutan, menarik tangan Marissa untuk mengikuti para lelaki itu.

__ADS_1


"Mom, Tuan Marcello ...."


"Tidak apa, Shakila. Apa selama ini kamu pernah lihat Daddy Marcello marah-marah. Tidak 'kan?"


"Tapi Kila takut, Mom."


Shakila terus mengajak Marissa mengikuti kedua lelaki yang kini melangkah menuju kediamannya.


"Astaga, aku benar-benar takut," gumam Shakila dengan wajah memucat.


Setibanya di kediaman Joe yang hanya terletak beberapa meter dari kediaman Tuan Marcello.


"Hei, Joe keluar kamu!" ucap Marcello sambil memasuki kediaman lelaki itu.


Joe yang sedang bersantai bersama istri dan kedua anak kembarnya, begitu terkejut karena tiba-tiba saja Marcello datang ke rumahnya sambil memanggil-manggil namanya.


"Sayang, bukankah itu Tuan Marcello?" ucap Sofia yang segera bangkit dari posisi duduknya. Begitupula Joe dan kedua anak kembarnya.


"Ya, kamu benar. Mau apa Tuan Marcello mencariku malam-malam begini?" Joe memperhatikan jam dinding yang menggantung dan saat itu jam sudah menunjukkan pukul 23.00.


Joe bergegas menuju asal suara dan akhirnya ia menemukan lelaki itu sudah berada di ruang tengah sambil bertolak pinggang.


"Hei, Joe! Kenapa kamu mengajarkan anakmu yang tidak-tidak, hah?!" kesal Marcello dengan memasang wajah masam menatap Joe yang sedang kebingungan.


"Maafkan saya, Tuan Marcello. Tapi saya tidak mengerti apa maksud Tuan?" sahut Joe sambil memperhatikan ekspresi wajah-wajah orang yang sedang menyerbu kediamannya .


"Sini, Shakila! Jelaskan apa yang dikatakan oleh lelaki tua ini kepadamu hingga pikiranmu ikut-ikutan sempit sama seperti pikirannya yang dangkal itu," ucap Marcello sembari meraih tangan Shakila yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Shakila semakin ketakutan apalagi saat itu semua mata tertuju padanya termasuk Daddy Joe yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


...***...


__ADS_2