
"Silakan masuk, Tuan. Kedua orang itu sudah berada di dalam."
Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar menyambut kedatangan Riyadh dan Zaid. Zaid tidak pernah menyangka bahwa anak buah Papanya begitu banyak dan bahkan mereka memiliki grub tersendiri.
"Mereka semua bekerja sama Papa?" tanya Zaid sambil memperhatikan orang-orang yang mereka lewati dengan seksama.
Riyadh menoleh kearah Zaid kemudian tersenyum tipis. "Ya, Zaid. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana persaingan dalam dunia bisnis itu seperti apa dan kehadiran mereka-mereka ini sangat dibutuhkan."
Zaid menganggukkan kepalanya dan ia mulai mengerti tugas dari orang-orang tersebut. Riyadh dan Zaid terus melangkah bersama seseorang yang tadi menyambut mereka di halaman depan dan sekarang lelaki itu menjadi penuntun mereka menuju ruangan, dimana kedua lelaki kejam itu sedang di interogasi oleh anak buah Riyadh yang lainnya.
Setibanya di depan ruangan itu, lelaki sangar yang tadinya menggiring mereka, segera membukakan pintunya untuk Riyadh dan Zaid.
"Masuklah, Tuan."
"Terima kasih."
Riyadh masuk kedalam ruangan itu bersama Zaid. Kedua bola mata Riyadh kini tertuju pada kedua orang laki-laki yang sedang tertunduk lesu dengan kondisi lemah. Kedua lelaki itu duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan diborgol.
Salah seorang laki-laki yang tadi sedang menginterogasi, segera bangkit kemudian menyerahkan kursi yang ia duduki untuk Riyadh.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Riyadh kepada lelaki yang menyerahkan kursi.
"Jawaban mereka berputar-putar, Tuan. Namun, mereka masih mengakui bahwa mereka memang orang suruhan Nyonya Ismika," jawab lelaki itu.
"Baiklah."
Riyadh duduk tepat di depan kedua lelaki itu dan kini ia mengambil alih tugas anak buahnya. Sedangkan Zaid berdiri di samping Riyadh sembari memperhatikan kedua orang suruhan Ibunya.
Sebelum ia bertanya kepada kedua orang itu, Riyadh menarik napas dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Ia mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak ketika menghadapi jawaban yang keluar dari mulut kedua lelaki itu.
"Hei, angkat wajah kalian dan tatap aku," titah Riyadh.
Kedua orang itu mendengar ucapan Riyadh dan perlaham mulai mengangkat kepalanya. Wajah mereka babak belur, sepertinya mereka sudah di kerjai oleh anak buah Riyadh sebelumnya. Tubuh kedua lelaki itu bergetar ketika melihat Riyadh duduk di hadapan mereka.
Riyadh tersenyum tipis dan mulai bertanya kepada lelaki itu.
"Baiklah, sekarang katakan dengan jujur. Apa yang diperintahkan oleh Ismika kepada kalian pada malam itu? Tidak usah mencoba mengelak, Tuan-Tuan, karena aku sudah tahu semuanya. Disini aku hanya butuh pengakuan kalian saja," tanya Riyadh yang masih nampak tenang.
"Tuan Riyadh, kami mohon ... jangan masukkan kami ke penjara. Kami masih punya anak kecil-kecil dan sebenarnya kami terpaksa melakukan melakukan hal itu. Kami hanya pengangguran, Tuan, dan setelah mendapatkan tawaran dari Nyonya Ismika yang begitu menggiurkan, kami pun bersedia melakukannya," lirih lelaki itu dengan wajah sendu.
__ADS_1
Riyadh tersenyum kecut sambil memijit pelipisnya. Ia cukup senang mendengar pengakuan kedua lelaki itu bahwa mereka adalah orang suruhan Ismika. Namun, ia masih belum percaya bahwa kedua orang itu hanya orang-orang biasa. Ia yakin, mereka memang sudah terbiasa melakukan kejahatan seperti itu.
"Apa yang di perintahkan oleh Ismika pada malam itu? Katakan semuanya dengan jelas dan jangan ada yang disembunyikan. Jika kalian mencoba menutup-nutupi masalah ini, maka aku akan mengetahuinya dan itu bisa berakibat fatal buat kalian," ucap Riyadh sembari menyeringai dihadapan kedua lelaki itu.
Kedua lelaki itu saling bertatap mata kemudian salah satu dari mereka bersedia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada malam itu.
"Hari itu Nyonya Ismika datang kepada kami dengan membawa banyak uang. Ia memberikan tugas berat untuk kami, yaitu menyingkirkan seorang gadis yang tengah hamil bernama Dian Maharani. Setelah uang kami terima, malam harinya kami pun mulai beraksi ...."
Lelaki itu menceritakan kejadian di malam itu secara detail, dari A hingga Z. Semuanya diceritakan dengan jelas dan tanpa ada satupun yang ia tutupi.
Zaid tertunduk lesu setelah mendengar pengakuan lelaki itu. Ia tidak menyangka bahwa Ibu yang begitu ia bangga-banggakan selama ini ternyata memiliki sikap yang begitu kejam dan tidak berperasaan.
Sedangkan Riyadh akhirnya bisa bernapas lega. Semua yang dikatakan oleh Dian sama seperti yang di ceritakan oleh kedua lelaki jahat itu.
"Sekarang bagaimana, Pah?" tanya Zaid dengan wajah sendu menatap Riyadh.
"Maafkan Papa, Nak. Papa harus tetap melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Semua ini untuk kebaikan Mamamu. Dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya agar ia tahu bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar. Kita berdoa saja, semoga setelah ini Mamamu bisa mengubah perilakunya menjadi lebih baik," tutur Riyadh sambil menepuk pundak Zaid.
Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah Zaid. Namun, ia tetap mendukung Papanya untuk memberikan efek jera kepada sang Ibu.
__ADS_1
"Ya, Papa benar. Semoga saja dengan begini, Mama bisa sadar bahwa selama ini dia sudah salah langkah," jawab Zaid.
...***...