Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 84


__ADS_3

Tidak berselang lama, seorang Bodyguard tiba ditempat itu. Tanpa berpikir panjang, Marcello bergegas masuk ke dalam mobil tersebut kemudian disusul oleh Joe.


"Ke kediaman Melinda! Aku yakin, Marissa pasti sedang berada disana," titahnya.


"Baik, Tuan."


Bodyguard berwajah sangar itupun segera melajukan mobil tersebut menuju kediaman Melinda. Sedangkan Bella, dia masih terdiam di tempat itu sambil memperhatikan mobil yang membawa Marcello, hingga menghilang dari pandangannya.


"Mungkin inilah akhir petualangan cintamu, Marcello," gumam Bella sambil tersenyum kecut.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka berada tidak jauh dari kediaman Melinda. Dari kejauhan, mereka melihat mobil yang dibawa kabur oleh Marissa, teronggok dibawah pohon dengan kondisi mengenaskan.


Marcello panik bukan kepalang. Ia mengacak rambutnya yang tersisir rapi dengan kasar. Matanya terbelalak dan mulutnya pun ikut membulat sempurna.


"Ya Tuhan! Apa yang sudah terjadi?!"


Bodyguard segera menghentikan mobilnya dan Marcello serta Joe bergegas keluar dari mobil kemudian menghampiri mobil Marissa.


"Dimana gadis itu?!" pekik Marcello sembari memperhatikan kondisi didalam mobil tersebut.


Tiba-tiba salah seorang warga menghampiri mereka dan memberitahu bahwa Marissa baik-baik saja.


"Tuan, gadis yang mengemudikan mobil ini baik-baik saja dan sepertinya dia sedang beristirahat di rumah itu." Lelaki itu menunjuk kearah rumah Melinda.


"Ah, syukurlah! Terima kasih informasinya, Pak."


Dengan langkah cepat, Marcello menuju rumah Melinda. Ternyata apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar. Ia melihat Marissa sedang bersandar di sandaran sofa empuknya sambil memejamkan mata.


Perlahan, Marcello masuk kedalam rumah dan menghampiri gadis itu. Ia menjatuhkan dirinya tepat disamping Marissa.


"Mau apa lagi kamu kesini?!" ketus Marissa, masih dengan mata terpejam.


"Cha, Daddy minta maaf," ucapnya sambil memperhatikan tubuh Marissa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia melihat ada beberapa luka lecet di tubuh istri kecilnya itu dan salah satunya, di pelipis kanan Marissa.

__ADS_1


Marcello menyingkirkan rambut Marissa yang menutupi luka tersebut. Ia meraih saputangan miliknya kemudian menyeka darah yang masih terlihat di pelipis Marissa dengan lembut.


"Jangan lakukan ini lagi, Cha. Lebih baik kamu hukum Daddy dengan cara lain, daripada kamu hukum Daddy dengan cara seperti ini."


Marissa membuka matanya kemudian menatap lelaki itu dengan tatapan kesalnya. "Seperti apa contohnya?"


"Apa saja, yang penting jangan sakiti dirimu. Karena hal itu bisa membuat Daddy mati karena cemas memikirkan dirimu," jawabnya, dengan tatapan sendu menatap Marissa.


Marissa tersenyum sinis. "Pergi darimu, mungkin?"


"Jangan, Cha. Daddy mohon,"


Untuk sejenak, tempat itu mendadak hening. Baik Marissa maupun Marcello sama-sama mengunci bibirnya rapat. Marcello terus memperhatikan wajah kesal istrinya sembari mengelus lembut rambut gadis itu.


"Sekarang kita pulang, ya?" ajak Marcello.


"Aku ingin pulang ke Mansion."


Marissa menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya,"


Marcello segera bangkit kemudian menuntun Marissa menuju mobilnya. Tak lupa, Marissa mengembalikan kunci rumah kepada wanita paruh baya yang kini bertugas menjaga sekaligus merawat rumah itu untuknya.


"Terima kasih, Bi. Tolong rawat rumah ini dengan baik, ya" ucap Marissa.


"Ya, Nona Marissa. Tentu saja,"


Marissa dan Marcello segera memasuki mobil dan disusul oleh Joe serta bodyguardnya. Mereka bergegas kembali ke hotel dan bersiap untuk menuju kota kelahiran Marcello, tetapi setelah Joe selesai mengurus semua pembayaran dan ganti rugi akibat ulah Marissa. 


Di perjalanan menuju Mansion.


"Apa kamu ingat, kejadian di depan toko bunga, dimana aku menabrak seorang wanita dan menolongnya?"


"Ya, tentu saja! Jangan katakan bahwa wanita itu adalah Bella?!" sahut Marissa dengan mata membulat menatap Marcello yang sedang tersenyum kecut padanya.

__ADS_1


"Ya, Cha. Wanita itu adalah Bella. Aku tidak sengaja menabraknya dan refleks menyambut tubuhnya. Aku tidak memiliki niatan apapun, murni hanya membantunya saja," tutur Marcello.


"Hhh, mengesalkan!" ucap Marissa sembari memukul lengan lelaki itu.


Setibanya di Mansion, Bi Ani sudah menyambut kedatangan mereka dengan wajah semringah.


"Selamat datang kembali, Nak."


Bi Ani memeluk tubuh Marissa dan Marissa pun membalas pelukannya.


"Terima kasih, Bi."


"Sebaiknya kamu istirahat, Cha."


Marcello meraih Marissa dari pelukan Bi Ani dan menuntunnya ke kamar mereka.


Beberapa hari kemudian.


"Mari, Cha."


Marcello membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan wanita itu masuk. Rencananya hari ini Marcello akan mengajak Marissa berkunjung ke Panti Asuhan, dimana Marcello dan Melinda menemukan dirinya.


Di perjalanan, wajah Marissa terlihat begitu pucat. Ia sangat gugup dan juga takut. Marissa takut, apa yang ia dengar nanti hanya akan membuatnya kecewa.


"Bagaimana jika memang kedua orang tuaku tidak menginginkan aku, Dad? Dan mereka tidak peduli walaupun aku masih hidup sampai sekarang," ucap Marissa sambil menatap Marcello dengan wajah cemas.


"Paling tidak, kita tahu siapa orang tuamu, 'kan? Aku harap kita menemukan mereka sebelum hari pernikahan kita dilaksanakan."


Marcello meraih tubuh Marissa kedalam pelukannya kemudian melabuhkan ciuman ke puncak kepala Marissa.


"Ya, semoga saja."


...***...

__ADS_1


__ADS_2