Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 26


__ADS_3

"Dad, jika Daddy punya permintaan maka Icha pun juga punya permintaan kepada Daddy. Apa Daddy bersedia mengabulkan permintaan Icha?" tanya Marissa yang masih berada didalam pelukan Marcello.


"Ya, katakanlah."


"Icha tidak ingin pindah kuliah. Icha hanya ingin kuliah disana! Dan jika Daddy tetap bersikeras memindahkan Icha, maka icha memilih berhenti saja!" tegas Marissa.


Marcello menghembuskan napas berat sembari memejamkan matanya. Ia sedikit kecewa mendengar permintaan Marissa, tetapi karena tidak punya pilihan lain, Marcello pun dengan sangat terpaksa harus menyetujuinya.


"Baiklah, tetapi ada syaratnya!" ucap Marcello.


Marissa melerai pelukan Marcello kemudian menatap lekat lelaki itu dengan tatapan kesal. "Daddy! Icha mengabulkan permintaan Daddy tanpa ada syarat. Lah, kenapa Daddy malah memberikan syarat kepada Icha?!" kesal Marissa sambil menekuk wajahnya.


Marcello terkekeh pelan sembari mengacak puncak kepala Marissa. "Tidak berat, kok syaratnya. Hanya jauhi Fattan, itu saja."


Marissa tidak mengiyakan keinginan Marcello, ia hanya menatap Lelaki itu dengan wajah malas.


"Ya, sudah! Jangan tatap Daddy dengan tatapan seperti itu. Kamu semakin menggemaskan kalau cemberut, Icha sayang!" ucap Marcello sembari mencubit pipi Marissa.


Marcello bangkit dari tempat tidur Marissa kemudian berdiri tepat dihadapan Gadis itu. "Daddy sudah lelah dan ingin beristirahat. Sebaiknya kamu juga,"


Marcello melangkah menuju pintu sembari melambaikan tangannya kepada Marissa. "Selamat malam, Cha. Mimpi indah!" ucapnya.


Sepeninggal Marcello, Marissa kembali memperhatikan tangan kirinya. Tepat di jari manisnya yang masih terpasang cincin berlian milik Sarrah.


"Kamu beruntung sekali, Sarrah. Seandainya Daddy bukanlah Ayahku, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk merebutnya darimu. Sayangnya Tuhan berkata lain, Dia menciptakan sosok Marcello untuk menjadi Ayahku, bukan untuk menjadi kekasihku," gumam Marissa.


Marissa merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya tanpa melepaskan cincin itu dari jari manisnya. Sama halnya Marissa, Marcello pun sama. Ia bahkan tidak menyadari bahwa cincin pertunangan miliknya masih melekat erat di jari manisnya.


Keesokan harinya.


Setelah selesai sarapan, Marissa bergegas menuju halaman depan Mansion. Ia meminta Joe untuk mengantarkannya pagi-pagi sekali. Joe pun menurut saja, ia segera melajukan mobilnya menuju kampus Marissa.

__ADS_1


"Terima kasih, Om Joe!" ucap Marissa sembari melambaikan tangannya kepada Joe.


Lelaki itu memperhatikan cincin berlian yang masih melingkar di jari manis Marissa. "Bukankah itu cincin pertunangan milik Nona Sarrah? Bagaimana bisa ada padanya?" tanya Joe dalam hati.


Joe segera melajukan mobil yang ia kemudikan setelah Marissa memasuki gerbang kampusnya. Di perjalanan, Joe terus bergumam ria. Ia masih memikirkan soal cincin milik Sarrah yang melingkar di jari manis Marissa.


Sementara itu, di Kampus Marissa.


Marissa berdiri tak jauh dari gerbang sekolahnya. Ia menunggu seseorang yang ingin ia temui sejak kemarin. Tidak berselang lama, orang itupun tiba. Marissa berlari kecil menghampiri laki-laki yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya ditempat parkir.


"Pak!" sapa Marissa sambil memasang senyuman semanis mungkin kepada Dosennya itu.


"Marissa,"


Fattan tidak ingin membalas senyuman Gadis itu sama sekali. Ia hanya menatap Marissa dengan tatapan tajamnya.


"Ehm," gumam Marissa, ia tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf kepada Lelaki itu.


"Pak Fattan, maafkan saya. Saya juga meminta maaf untuk Daddy saya yang sudah bersikap keterlaluan terhadap Anda," ucap Marissa dengan wajah memelas menatap Fattan.


Marissa pun menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah kaki Fattan menuju kursi tersebut.


"Duduklah," ujar Fattan kepada Marissa,


Setelah Marissa duduk di kursi tersebut, Fattan pun turut duduk disamping Gadis itu. Kebersamaan Marissa dan Fattan ditempat itu, membuat gosip tentang hubungan mereka semakin merebak. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan. termasuk sepasang mata milik seorang mahasiswi yang dibayar oleh Marcello untuk memata-matai Marissa dan Dosen tersebut.


Gadis itu terus memperhatikan kebersamaan Marissa dan Fattan sambil sesekali mengambil foto mereka. "Hmm, sepertinya aku bakal dapat duit banyak nih!" gumamnya.


"Marissa, maafkan aku. Entah mengapa aku ragu Tuan Marcello itu adalah Ayahmu," ucap Fattan sembari memperhatikan sekelilingnya.


Marissa menautkan kedua alisnya sambil menatap wajah tampan sang Dosen. "Kenapa Bapak bilang begitu?" tanya Marissa.

__ADS_1


"Entahlah, hanya saja perhatian yang ia berikan kepadamu melebihi dari perhatian seorang Ayah kepada Anaknya. Dan menurutku, lebih condong ke perhatian seorang laki-laki terhadap seorang wanita," tutur Fattan, masih membuang pandangannya kearah sekitar.


"Daddy memang agak over protektif terhadap saya, tetapi saya rasa itu wajar karena saya adalah anak gadis satu-satunya Tuan Marcello," sahut Marissa.


Fattan hanya bisa membuang napas berat setelah mendengar jawaban dari Gadis itu. Walaupun apa yang dikatakan oleh Marissa masuk akal, tetapi bagi Fattan apa yang dilakukan Tuan Marcello kepada Marissa, itu sudah terlalu berlebihan untuk seorang Ayah kepada Anaknya.


"Memangnya Daddy bilang apa sama Pak Fattan kemarin?" tanya Marissa penasaran setelah melihat ekspresi aneh yang ditampakkan oleh Lelaki yang duduk disampingnya.


"Sebenarnya Tuan Marcello sudah mengancamku agar aku tidak berani mendekatimu. Dan aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika ia melihatku disini bersamamu, bisa-bisa aku dihajar sampai babak belur oleh para Bodyguardnya yang mengerikan itu," sahut Fattan sambil terkekeh pelan.


"Ya ampun, Pak Fattan. Jangan bicara seperti itu. Aku kok jadi ngeri mendengarnya. Memangnya itu benar, ya? Daddy ku benar-benar mengancam Anda seperti itu?!" tanya Marissa dengan mata membulat.


Fattan menoleh kepada Gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. "Seperti itulah, tapi jangan bahas masalah ini sama Daddymu, ya! Bisa-bisa dia semakin meradang setelah mendengarnya." sahut Fattan.


Ekspresi wajah Marissa berubah sendu. "Iya, baiklah. Saya tidak akan membahasnya," sahut Marissa dengan kepala tertunduk.


Fattan memperhatikan Marissa dan tiba-tiba saja matanya tertuju pada cincin berlian yang melingkar di jari manis Marissa.


"Apa kamu sudah bertunangan, Marissa? Siapa laki-laki beruntung yang sudah meluluhkan hatimu?" tanya Fattan.


Marissa segera mengangkat kepalanya dan menatap Fattan. "Hah?!" Marissa bahkan lupa bahwa cincin pertunangan Sarrah masih melekat di jari manisnya.


"Tuh!" Fattan menunjuk cincin di jari manis Marissa dengan bibirnya.


Marissa terkekeh seraya memperlihatkan jari manisnya kepada Fattan. "Ini? Ini bukan milik saya. Tadi malam saya mencoba cincin ini dan lupa melepaskannya."


"Benarkah? Aku tidak ingin mendekatimu jika kamu sudah bertunangan. Aku takut digebuk sama tunanganmu," sahut Fattan sambil tergelak.


Sementara itu, di Perusahaan milik Marcello.


"Bagaimana, Joe? Kamu sudah menyewa seseorang untuk memata-matai Marissa, 'kan?" tanya Marcello.

__ADS_1


"Ya, Tuan. Saya sudah menyewa salah seorang Mahasiswi disana untuk memantau Marissa dan Tuan Fattan," sahut Joe mantap.


...***...


__ADS_2