Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 293


__ADS_3

Setahun kemudian.


"Bagaimana Shakila? Kamu mau 'kan?" tanya Aira dengan mata membesar menatap kembarannya itu.


Shakila terlihat bingung, beberapa kali ia mengusap tengkuknya. "Bagaimana kalau mereka salah pilih?"


"Bagus donk kalau begitu! Itu artinya mereka harus menahan hasrat mereka satu malam lagi," sahut Aira sambil tergelak.


Shakila memperhatikan Aira yang masih tergelak sambil terus berpikir. Hingga akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum licik.


"Ok, baiklah!"


"Nah, begitu donk! Itu baru saudariku," ucap Aira sambil merangkul tubuh Shakila.


Tiba-tiba dari balik pintu, Sarrah muncul dan menghampiri kedua putri kembarnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Astaga, kalian ini! Tuan Joe sudah menunggu kalian di bawah dan ternyata belum juga siap!" pekik Sarrah.


Shakila dan Aira tersenyum kecut sambil menatap sang Ibu yang terlihat kesal dengan ulah mereka.


"Lima menit lagi, Mom! Ya 'kan, Shakila," ucap Aira sembari menyikut Shakila yang tidak mungkin membuka suaranya, terlebih kalau Mommy-nya sedang kesal.


Shakila menganggukkan kepala dengan cepat tanpa membuka mulutnya sedikitpun.


Akhirnya Sarrah mengalah kemudian keluar dari kamar itu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, Sarrah kembali mengingatkan Shakila dan Aira.


"Ingat, lima menit!"


"Siap, Mommy!" jawab gadis itu serempak.


Kedua gadis itu dengan tergesa-gesa, mempersiapkan barang-barang keperluan yang akan mereka bawa ke mansion Tuan Marcello.


Lima menit kemudian.

__ADS_1


"Ayo, Shakila! Kamu itu kaya siput, lamban!" seru Aira sembari berlari kecil menuruni anak tangga dan meninggalkan Shakila yang melangkahkan kakinya satu-persatu dengan santainya. 


"Duluan aja, lagipula Daddy Joe pasti akan tetap menungguku, aku 'kan putri kesayangannya," sahut Shakila.


"Hhhh, dasar sombong!" seru Aira sambil mencebikkan bibirnya.


"Nah, itu mereka, Tuan Joe. Maaf, karena mereka Anda harus menunggu lama disini," ucap Sarrah yang merasa tidak nyaman karena kedua putrinya sudah menyusahkan lelaki itu.


"Tidak masalah, Nyonya Sarrah. Lagipula aku sudah terbiasa dibuat susah oleh kedua gadis ini," sahut Tuan Joe sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan Shakila dan Aira.


Shakila segera menghambur ke pelukan Tuan Joe dan segera disambut oleh lelaki itu.


"Baru seminggu kita tidak bertemu, rasanya sudah hampir satu bulan tidak melihat wajah Daddyku yang tampan ini," ucap Shakila.


Aira memutarkan bola matanya. "Hmm, mulai lagi," gumamnya.


"Ya, sudah. Ayo, Tuan Marcello dan Nyonya Marissa sudah menunggu kedatangan kalian."


Mansion Tuan Marcello mendadak berubah 100 persen. Di halaman mansion yang luas itu terdapat tiga buah singasana yang akan mereka tempati. Marvel dan Shakila, Melvin dan Aira, dan tak ketinggalan pasangan fenomenal, Dylan dan Maria.


Tuan Marcello sengaja menyatukan acara pernikahan mereka bertiga agar permintaan 'nyeleneh' Maria tersamarkan dengan adanya pasangan pengantin kembar.


Ya, walaupun secara keseluruhan tidak benar-benar tersamarkan. Kucing-kucing fenomenal jepang itu tetap menjadi pusat perhatian orang-orang. Apalagi Maria bersikeras meminta pelaminannya berada di tengah-tengah.


Tuan Marcello berdiri sambil bertolak pinggang menatap singasana milik Maria. Ia memijit pilipisnya sambil bergumam.


"Ya ampun! Biar bagaimanapun tetap Maria lah yang akan menjadi pusat perhatian besok hari."


Marissa terkekeh pelan sambil memeluk lelaki itu. "Sudahlah, terima saja nasib kita, Dad!"


"Mommy," panggil Shakila yang baru saja tiba di tempat itu bersama Aira dan Tuan Joe.


"Wah, kedua menantu Mommy sudah tiba rupanya!" seru Marissa sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Ia memeluk Shakila dan Aira secara bergantian. Kemudian menuntun kedua gadis itu memasuki mansion. Kini tinggal Joe dan Marcello yang berada disana.


"Joe, orang-orangmu sudah siap, 'kan? Aku ingin besok penjagaan lebih diperketat lagi. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," ucap Tuan Marcello.


"Ya Tuan, semua sudah beres dan para Bodyguard pun sudah siap dengan tugas-tugas mereka."


"Baguslah kalau begitu." Marcello menepuk pelan pundak Tuan Joe kemudian melangkah memasuki mansion.


Keesokan harinya.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pernikahan ketiga anak Tuan Marcello dilaksanakan pada hari ini secara bersamaan.


Dua pasangan pengantin kembar, Marvel dan Melvin serta putri bungsu mereka, Maria Silvana Alexander yang kini usianya sudah mencukupi syarat, yaitu 19 tahun.


Seluruh keluarga besar mereka berkumpul. Baik itu keluarga besar Tuan Marcello maupun keluarga besannya.


Benar saja, hari ini yang menjadi pusat perhatian para tamu undangan adalah sebuah pelaminan yang berbeda dari dua pelaminan lainnya. Yang letaknya tepat di tengah-tengah dengan warna dominan, biru langit, baby pink dan putih.


Dan jangan lupakan banyaknya pernak-pernik kucing jepang fenomenal yang menghiasi setiap sisi dan sudut pelaminan tersebut.


Setiap orang yang melihatnya, menampakkan ekspresi berbeda-beda. Ada yang nampak bingung, terkejut dan merasa lucu. Namun, banyak juga yang berdecak kagum karena mereka salut pada mempelai pria yang bersedia duduk disana.


Tidak berselang lama, para pengantin pun tiba kemudian menempati pelaminan mereka masing-masing. Marvel dan Shakila di samping kanan dan di samping kiri ada pasangan Melvin dan Aira. Serta di tengah-tengah mereka, ada pasangan Dylan dan Maria.


"Sekarang kamu percaya 'kan? Aku tidak minta yang aneh-aneh, hanya dekorasinya saja tapi pakaianmu, semuanya AMAN!" ucap Maria dengan setengah berbisik kepada Dylan yang berdiri dengan gagahnya di samping gadis itu.


"Ya, ya, aku percaya. Tapi, apa kamu percaya bahwa sebentar lagi orang-orang akan mengubah panggilannya kepadaku. Aku yakin sekali teman-temanku akan memanggilku dengan sebutan Tuan Emon, atau mungkin DylanEmon," sahut Dylan sembari melemparkan senyum kepada sahabat-sahabatnya yang sedang memperhatikan dirinya sambil tersenyum konyol.


"DylanEmon? Wah, panggilan yang menggemaskan. Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu?" tanya Maria sambil memperhatikan ekspresi wajah Dylan yang terlihat manyun.


"Tidak!" jawabnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2