
Dua bulan kemudian.
Marissa dan Sofia duduk di sofa ruang utama sambil mengajak Marvel dan Melvin bersantai di ruangan itu. Kedua bayi itu terlihat sangat menggemaskan karena mereka sudah mulai mengerti saat di ajak bicara.
Celotehan-celotehan kecil yang keluar dari mulut mungil mereka membuat Marissa dan Sofia beberapa kali tertawa lepas di ruangan itu.
"Nona, aku pengen ...."
"Sabar, Tante. Nanti Tante pasti dapet kok yang sama seperti kami," sahut Marissa dengan menirukan suara anak kecil.
Tepat di saat itu ponsel Marissa yang tergeletak di atas meja berdering.
"Nah lo, siapa yang nelpon pagi-pagi begini?" gumam Marissa seraya meraih ponselnya. Marissa memperhatikan layar ponselnya dengan seksama kemudian segera menerima panggilan tersebut setelah tau siapa yang sedang mencoba menghubunginya.
"Ya, Ayah?"
"Cha, Ibumu akan segera melahirkan. Kami sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit XX," ucap Riyadh dari seberang telepon
"Apa?!" pekik Marissa sambil membulatkan matanya. "Baik, Ayah. Icha akan segera menyusul kesana."
Sofia yang sedang menggendong baby Melvin, memperhatikan wajah panik Marissa. Apalagi Marissa nampak bergumam sendiri saat itu.
"Kenapa, Nona?" tanya Sofia.
"Ibuku, Sofia. Ayah bilang Ibu akan segera melahirkan. Padahal kalo menurut HPL dari Dokter, masih beberapa hari lagi," jawab Marissa yang masih mengotak-atik ponselnya.
"Semoga persalinan Nyonya Dian lancar dan bayinya lahir dalam keadaan sehat tanpa kurang apapun," ucap Sofia.
"Amin. Terima kasih doanya, Sofia."
__ADS_1
Marissa meletakkan ponselnya kembali ke samping telinga kemudian menunggu panggilannya di angkat oleh seseorang dari seberang telepon.
"Ya, Cha?"
"Daddy, apa Ayah kamu sudah kasih tau soal Ibu kepadamu? Ibu akan melahirkan dan mereka sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit XX," ucap Marissa panik.
"Ya, Ayahmu sudah mengirim pesan chat padaku. Sebaiknya kamu berangkat saja lebih dulu bersama Pak Sopir. Nanti aku dan Joe akan segera menyusul setelah meeting kami selesai," sahut Marcello dari seberang telepon.
"Oups! Maaf, kamu lagi meeting, ya. Ya sudah, aku duluan ya, Dad."
"Ya," sahut Marcello sambil terkekeh pelan.
Marissa menghampiri Sofia kemudian duduk di samping wanita itu. "Sofia, boleh aku minta tolong padamu?" tanya Marissa sambil menatap lekat kedua bola mata Sofia.
"Tentu saja, Nona. Katakanlah ...," sahut Sofia.
"Tolong jaga Marvel dan Melvin, ya. Untuk hari ini saja," ucap Marissa.
Marissa tersenyum puas mendengar jawaban Sofia. Ia segera bangkit dari tempat duduk kemudian menghampiri kedua bayinya. Setelah menciumi baby Marvel dan baby Melvin, Marissa pun segera pamit kepada Sofia dan bergegas menuju halaman depan.
"Pak, tolong antar aku ke Rumah Sakit XX," titah Marissa seraya membuka pintu mobilnya kemudian duduk di jok belakang.
"Baik, Nona," sahut Pak Sopir dan ia pun segera menyusul Marissa kemudian melajukan mobilnya ke tempat yang ingin di tuju oleh majikannya tersebut.
Setibanya di Rumah Sakit tersebut, Marissa pun bergegas menuju ruangan dimana sang Ibu sedang berjuang melahirkan adik bayinya.
Dari kejauhan, Marissa melihat sang Ayah sedang berada luar ruangan bersalin dengan wajah panik. Marissa menghampiri sang Ayah kemudian menanyakan bagaimana keadaan Ibunya sekarang.
"Ayah, bagaimana Ibu?"
__ADS_1
"Entahlah, Cha. Semoga Ibumu baik-baik saja," sahut Riyadh.
Tidak berselang lama, seorang Dokter keluar dari ruangan Dian. Wajahnya nampak cemas saat menghampiri Riyadh dan Marissa.
"Bagaimana istriku, Dok?"
"Nyonya Dian harus segera dioperasi, Tuan. Karena saat ini kondisi Nyonya Dian sudah lemah dan tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Tekanan darahnya terus meningkat dan itu sangat membahayakan untuk dirinya dan juga bayi dalam kandungannya," tutur Dokter.
"Ya, Tuhan! Ibu ...." Marissa menutup mulutnya dengan kedua tangan dan matanya pun terlihat berkaca-kaca.
Riyadh menghembuskan berat dan mencoba mengontrol kecemasannya saat itu.
"Lakukanlah yang terbaik, Dok. Aku percayakan anak dan istriku kepadamu," jawab Riyadh dengan wajah sendu menatap Dokter.
Setelahe mendapatkan izin dari Tuan Riyadh, Dokter pun segera kembali ke ruangan itu kemudian bersiap melakukan tugasnya.
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya Marcello dan Joe tiba di Rumah Sakit tersebut. Kedua lelaki itu segera menghampiri Marissa dan Riyadh yang masih dalam keadaan cemas.
"Bagaimana keadaannya?"
Marissa menggelengkan kepalanya kemudian memeluk tubuh sang Suami. "Semoga Ibu baik-baik saja," tutur Marissa.
"Pasti, Cha. Ibu pasti baik-baik saja." Marcello mengusap lembut rambut Marissa yang tergerai.
"Mungkin rasa cemas ini juga di rasakan oleh Ibu ketika aku melahirkan dua bulan yang lalu dan sekarang aku pun merasakan kecemasan yang sama," ucap Marissa.
"Ya, Ibumu sangat panik saat itu, Cha. Dia bahkan tidak hentinya mendoakan keselamatanmu dan juga kedua bayi kita."
__ADS_1
...***...