
"Heh, kamu kenapa sih, Vel? Sepertinya kamu sedang bahagia hari ini." Melvin merengkuh pundak Marvel sembari melangkahkan kaki mereka menuju halaman depan. Dimana mobil yang akan membawa mereka ke kantor sedang terparkir.
"Coba tebak?"
"Cih, main tebakan segala!" kesal Melvin.
Marvel pun tersenyum. "Tadi malam aku berhasil mengutarakan isi hatiku kepada Daddy," ucap Marvel.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti?" tanya Melvin heran.
"Sebentar lagi aku akan melamar Shakila untuk menjadi istriku. Sekarang tinggal kamu, Vin? Kejar cintamu, jangan sampai Daddy turun tangan." Marvel menepuk pundak Melvin dengan lembut.
Melvin terdiam sejenak setelah mendengar bahwa Marvel akan segera melamar Shakila, gadis yang selama ini sudah mengisi hatinya.
"Selamat ya, Vel! Semoga semuanya berjalan lancar hingga hari pernikahan. Aku turut bahagia mendengarnya," tutur Melvin.
Setelah memasuki mobil, mereka pun segera berangkat menuju kantor.
"Baiklah, aku harus semangat! Jika Shakila sudah memutuskan untuk hidup bersama Marvel, kini saatnya aku mengejar cinta Shakila kedua, semangat!"
Dengan wajah semringah Melvin melajukan mobilnya ke arah berbeda dari Marvel dan hal itu membuat Marvel kebingungan. Ia meraih ponselnya kemudian menghubungi saudara kembarnya itu.
"Vin, kamu mau kemana lagi?"
"Mengerjar cintaku, Vel. Bukankah kamu bilang aku harus mengejar cintaku?" sahut Melvin sambil tertawa pelan.
"Ya, ampun!" Marvel menepuk jidatnya. Ini sudah kesekian kalinya Melvin melarikan diri dari pekerjaannya dan ia tidak tahu kemana saudara kembarnya itu pergi.
Sementara itu, Melvin terus melajukan mobilnya menuju tempat kuliahnya Aira. Ia ingin menemui gadis itu dan mengajaknya bicara. Ya, walaupun dia sendiri masih ragu apakah gadis itu bersedia menemuinya.
Setibanya disana, Melvin menunggu kehadiran Aira sambil bersantai di dalam mobilnya. Detik berganti menit dan menitpun akhirnya berganti menjadi satu jam, tetapi Aira tidak juga kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
"Dimana Aira? Apa mungkin dia sudah masuk?" gumam Melvin.
Melvin pun mulai merasa bosan kemudian segera keluar dari mobilnya dan mencoba bertanya kepada Satpam yang berjaga di depan gerbang kampus.
"Permisi, Pak. Ehm, saya mau tanya tentang gadis ini, apa dia sudah masuk ke dalam atau memang dia tidak masuk hari ini?"
Melvin memperlihatkan foto Shakila yang memang sangat mirip dengan Aira kepada salah satu Satpam di kampus tersebut. Pak Satpam memperhatikan dengan seksama kemudian mulai mengingat-ingat.
"Kalau tidak salah ini Nona Aira 'kan?"
"Ya, namanya Aira," sahut Melvin dengan sangat antusias.
"Sebaiknya coba Anda tanyakan pada salah satu temannya. Karena saya dengar-dengar ia sudah keluar dari Universitas ini sejak seminggu yang lalu."
"Benarkah?!" pekik Melvin dengan wajah panik.
"Sebentar." Pak Satpam itu mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman depan kampus tersebut. Hingga tatapannya terfokus pada seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi sambil memainkan ponselnya.
"Nah, gadis itu adalah temannya Nona Aira. Coba saja tanyakan hal itu kepadanya, saya yakin dia pasti tau," ucap Pak Satpam.
Melvin melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Satpam kemudian menghampiri gadis itu.
"Ehem!" Melvin berdehem dan membuat gadis itu mendongak menatap Melvin yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf, boleh minta waktunya sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Melvin.
Gadis itu memperhatikan Melvin dengan seksama. Dari penampilannya yang terlihat begitu keren hingga wajahnya yang begitu tampan. Membuat gadis itu jadi salah tingkah ketika Melvin menatapnya.
"Ya, boleh."
Melvin kembali memperlihatkan foto Shakila kepada gadis itu kemudian bertanya padanya.
__ADS_1
"Kamu teman dari gadis ini 'kan? Kata Pak Satpam, dia sudah keluar dari kampus ini. Apakah itu benar?" tanya Melvin.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Ya, Aira sudah keluar sejak seminggu yang lalu. Memangnya kenapa, Tuan? Dan ... Sebenarnya Anda siapa?" Ia sedikit curiga kepada Melvin karena selama berteman dengan Aira, gadis itu tidak pernah menceritakan tentang lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Padahal selama ini ia dan Aira begitu dekat.
"Saya temannya. Ehm, kalau boleh aku tau apa alasan Aira keluar dari kampus ini?" tanya Melvin penasaran.
"Maaf, Tuan. Kalau itu saya kurang tahu," jawab gadis itu dengan malas.
Karena merasa tidak menemukan titik terang tentang keberadaan Aira, Melvin pun memilih pergi dan kembali melajukan mobilnya.
Di perjalanan, Melvin terus berpikir kemana ia harus menemui Aira. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengunjungi kediaman Aira.
"Apa sebaiknya aku ke rumahnya saja? Tapi, aku malu. Memangnya ada urusan apa hingga aku harus bertamu ke rumah gadis itu. Padahal aku dengannya baru saja kenal," gumam Melvin.
Namun, karena rasa penasaran yang begitu besar, Melvin pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kediaman gadis itu dengan menyingkirkan rasa malunya.
Setibanya di depan kediaman Aira, Melvin sempat terdiam sambil memperhatikan bangunan mewah tersebut. Bangunan mewah itu nampak sepi, seperti tak berpenghuni.
"Maaf, ada perlu apa, Tuan?" Seorang Penjaga keamanan menghampiri Melvin yang terdiam di depan pagar.
"Ehm, bolehkah saya bertemu dengan Nona Aira?"
"Nona Aira dan kedua orang tuanya sudah tidak tinggal disini lagi. Rumah ini sudah di jual dan saya tidak tahu kemana mereka pindah," jawab Penjaga keamanan tersebut.
"Apa?!" pekik Melvin.
Melvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, Tuhan! Kemana lagi aku harus mencari gadis itu," gumam Melvin.
"Ya, sudah. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Melvin pun kembali ke mobilnya.
...***...