Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 125


__ADS_3

Setelah acara pemakaman selesai, mereka pun kembali ke kediaman Riyadh. Zaid masih terisak di sofa yang ada di ruang utama bersama Riyadh dan yang lainnya.


"Cha, sebaiknya kamu temani Kakakmu, ada yang ingin Ayah bicarakan bersama Ibu dan juga suamimu," ucap Riyadh sembari menepuk pelan pundak Marissa.


"Baik, Ayah."


Setelah Tuan Riyadh, Marcello dan Dian keluar dari ruangan itu, perlahan Marissa berjalan menghampiri Zaid kemudian duduk di sampingnya.


"Kak," sapa Marissa pelan sambil mengelus lembut pundak lelaki itu.


Zaid yang tadinya hanya tertunduk menghadap lantai, akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap Marissa dengan mata sembabnya.


"Yang sabar ya, Kak." lanjut Marissa.


"Pantas saja beberapa hari ini perasaanku tidak enak, Marissa. Bahkan disaat Papa mengajakku menemui Bu Dian, entah mengapa hatiku terasa berat," ucap Zaid.


"Memangnya Nyonya Ismika sakit apa, Kak?" tanya Marissa.


Zaid membuang napas berat dengan pandangan menerawang menatap dinding ruangan itu.


"Sebenarnya Mama memang memiliki riwayat penyakit jantung sudah sejak lama. Setelah kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini, Mama tidak lagi menghiraukan kesehatannya, makannya pun sembarang. Apalagi setelah Mama ditetapkan sebagai tersangka, ia benar-benar depresi. Penyakitnya kambuh dan yang lebih parahnya lagi, terjadi komplikasi pada penyakitnya," tutur Zaid dengan mata berkaca-kaca.


"Aku turut prihatin, Kak."


Marissa kembali mengelus punggung Zaid dan berharap bisa mengurangi beban berat yang sedang dirasakan oleh lelaki itu.


Sementara itu di ruangan lain.


"Maafkah aku, Dian. Mungkin dalam waktu dekat ini, aku tidak bisa mempersiapkan pernikahan kita. Sebab Zaid masih dalam masa berkabung, tidak pantas rasanya jika kita merayakan pernikahan, sementara Zaid masih bersedih karena baru saja kehilangan Mamanya," tutur Riyadh.

__ADS_1


"Ya, tentu saja, Riyadh. Aku pun tidak meminta pernikahan kita dipercepat. Sebaiknya fokus pada Zaid, kasihan dia. Dia sangat membutuhkan dukungan darimu sebagai Ayahnya."


"Aku tidak berani ikut campur, ini urusan kalian. Aku hanya bisa mendukung apapun yang terbaik buat kalian," sela Marcello sambil mengangkat kedua tangannya.


. . .


Sehari setelah pemakaman Ismika dilaksanakan, Marcello beserta keluarga kecilnya pun kembali ke negara asal mereka. Kini kediaman Tuan Riyadh kembali sunyi, sama seperti hari sebelumnya.


"Pah," sapa Zaid kepada Riyadh yang sedang duduk di ruang santai sambil menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya.


"Zaid. Kemarilah, Nak."


Riyadh menepuk ruang kosong disampingnya. Ia meminta Zaid untuk duduk disana bersama dirinya. Zaid pun segera menghampiri sang Ayah kemudian duduk ditempat yang ditujukan oleh lelaki itu.


"Kopi?"


"Pah, boleh Zaid bertanya sesuatu?"


"Tanyakanlah," jawab Riyadh sambil tersenyum hangat.


"Kapan Papa melaksanakan pernikahan Papa dengan Bu Dian?"


Riyadh sempat terdiam sejenak sambil menatap lekat wajah Zaid.


"Entahlah, mungkin beberapa bulan lagi."


"Kok, lama sekali? Kenapa tidak dipercepat saja? Aku rasa semakin cepat, semakin baik," ucap Zaid.


"Benarkah? Jadi, kamu tidak masalah jika pernikahan Papa dilaksanakan dalam waktu dekat?" tanya Riyadh dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Ya, tentu saja tidaklah, Pah. Zaid malah mendukung Papa untuk secepatnya menghalalkan Bu Dian agar keluarga ini kembali utuh seperti sebelumnya. Ada Papa dan ada Bu Dian yang akan menggantikan posisi Mama," jawab Zaid.


"Baiklah, kalau begitu. Papa senang mendengarnya. Nanti Papa beritahukan kabar baik ini kepada Dian agar ia bisa mempersiapkan diri untuk menyambut hari pernikahan kami,"


"Zaid ikut senang jika melihat Papa bahagia seperti ini."


"Terima kasih, Nak."


Tidak berselang lama, Riyadh pun segera menghubungi Marcello dan mengatakan bahwa dirinya akan mengurus persiapan pernikahannya bersama Dian.


Sementara semua orang sedang berbahagia menyambut hari pernikahan Dian dan Riyadh yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, Joe malah lebih banyak terdiam. Walaupun Joe terus berusaha menepis rasa sakit di hatinya, tetapi tidak bisa di pungkiri, rasa sakit itu tetap ada.


Bahkan saat di perjalanan pun ia lebih banyak melamun. Tatapannya memang fokus ke depan, menatap jalan, tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Hingga ia tidak menyadari bahwa ada sebuah lubang besar yang dipenuhi genangan air kotor dan lumpur, tepat di depan mobilnya. Joe yang masih tidak menyadari adanya genangan itu, terus saja memacu mobilnya dan melewatinya dengan kecepatan tinggi.


Cepret!!!


Genangan air kotor dan lumpur itu mengenai tubuh dan wajah seorang gadis manis penjual kue. Bahkan keranjang kuenya pun turut kotor akibat kecipratan air kotor tersebut.


"Akhhh!!!" pekiknya.


Ia berteriak histeris sambil mengumpat kasar. Namun, Joe sama sekali tidak menyadarinya. Lelaki itu terus melajukan mobilnya meninggalkan gadis tersebut.


"Mentang-mentang orang kaya, jalan pun seraya miliknya sendiri!" umpat gadis itu sambil menyeka air kotor yang membasahi wajahnya.


Ia memperhatikan nomor plat mobil Joe kemudian mencoba mengingatnya. Berharap suatu hari nanti ia bisa membalaskan perbuatan lelaki itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2