Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 114


__ADS_3

"Berarti aku tidak sendiri di dunia ini, ternyata aku punya Adik, walaupun hanya Adik dari Papa," ucap Zaid.


Saat itu Zaid dan Riyadh sedang dalam perjalanan menuju kediaman mewah mereka. Sedangkan kedua orang suruhan Ismika sudah dipindahtangankan kepada pihak yang berwajib. Walaupun Zaid begitu berat menerima kenyataan bahwa Ibunya akan turut merasakan dinginnya berada di balik jeruji besi, tetapi ia tetap mendukung sang Ayah untuk melaporkannya. Berharap suatu saat nanti Ismika berubah menjadi lebih baik.


"Ya, Zaid. Usia adikmu hanya selisih 2 tahun darimu. Dia sudah menikah dan tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang Paman untuk anaknya," jawab Riyadh.


"Benarkah?"


Zaid mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah Riyadh sambil tersenyum kecut.


"Benarkah? Wah, dia curang! Kenapa dia curi start dariku, bukankah aku Kakaknya?! Seharusnya aku yang lebih dulu menikah dan punya anak, kenapa malah duluan dia?" gerutu Zaid.


Riyadh terkekeh mendengar ucapan Zaid. "Sebab dia adalah seorang perempuan, Zaid. Pantas saja dia menikah lebih dulu darimu."


"Perempuan?"


Zaid membulatkan mata dengan senyuman yang kembali tersungging di bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa adiknya adalah seorang perempuan. 


"Jadi, Adikku seorang perempuan? Aku kira dia adalah seorang laki-laki sama seperti diriku. Aku yakin sekali, dia pasti sangat cantik ya 'kan, Pah?" sambung Zaid.


"Ya, Zaid. Dia seorang perempuan dan wajahnya sangat cantik."


Riyadh tersenyum menatap Zaid yang mulai membayangkan bagaimana kecantikan Adik perempuannya. Padahal ia tahu bahwa Zaid pernah bertemu dengan Marissa. Zaid bahkan sempat memberi selamat untuk Marissa dan Marcello di hari pernikahan mereka dulu.


"Apa kamu ingin bertemu dengannya, Zaid? Papa bisa mempertemukan kalian," tanya Riyadh.

__ADS_1


"Tentu saja, Pah. Sebenarnya Zaid juga sangat penasaran dengan sosoknya."


"Baguslah kalau begitu. Lagipula Papa sudah berjanji bahwa Papa akan segera menjenguknya,"


Tidak berselang lama mereka pun tiba di halaman depan kediaman mewahnya. Zaid menghembuskan napas berat sebelum melanjutkan langkahnya memasuki bangunan mewah tersebut.


Siap tidak siap, ia harus siap, jika dalam waktu dekat anggota Polisi akan segera menjemput Mamanya. Riyadh mengerti kegundahan yang dirasakan oleh Zaid saat itu. Ia menekuk pundak Zaid dengan lembut kemudiam menuntunnya masuk kedalam rumah megah mereka.


Tanpa mereka ketahui, saat itu Ismika sudah tidak ada dirumah. Wanita itu sudah berangkat setelah terjadi pertengkaran antara dirinya dan Zaid tadi siang. Ia sangat kesal dan berencana ingin bertemu dengan Dian. Wanita yang selama ini ia anggap sebagai pembawa petaka di dalam rumah tangganya.


Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali Zaid sudah siap dengan pakaian lengkap dan rapi. Sebenarnya tadi malam lelaki muda itu sama sekali tidak tidur. Kejadian mengejutkan yang terjadi beberapa hari terakhir membuatnya kesulitan tidur. Permasalahan itu terus saja membayang-bayangi pikirannya.


"Tuan Zaid,"


Zaid bergegas menuju pintu kamar kemudian membukanya. "Ya, Bi. Ada apa?"


"Tuan, di luar ada beberapa orang yang mengaku sebagai anggota Polisi. Mereka ingin bertemu dengan Nyonya Ismika, tetapi Nyonya tidak ada dirumah, Tuan. Nyonya Ismika sudah berangkat sejak kemarin sore," jawab Pelayan itu dengan wajah cemas.


"Apa? Pergi? Tapi, kemana?" tanya Zaid dengan wajah panik.


"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak berani menanyakan kemana Nyonya Ismika pergi," jawab Pelayan itu dengan gemetar.


"Gawat!"

__ADS_1


Zaid bergegas menuju kamar sang Ayah. Saat itu Riyadh juga sedang bersiap-siap. Ia ingin segera berangkat menuju kantornya. Namun, ia dikejutkan dengan kedatangan Zaid yang begitu panik.


"Pah, diluar ada Polisi sedangkan Mama sudah tidak ada di rumah," ucap Zaid dengan wajah panik.


Riyadh menautkan kedua alisnya ketika menatap Zaid. "Apa maksudmu, Zaid?"


"Mama, Pah! Mama sudah pergi sejak kemarin sore. Aku yakin, Mama pergi dari rumah ini setelah bertengkar denganku," jawab Zaid.


Riyadh mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berpikir dengan keras. "Kemana dia?" gumamnya.


Tiba-tiba saja terbesit di kepalanya bahwa Ismika ingin menemui Dian dan anaknya, Marissa.


"Entah kenapa Papa yakin, Mamamu pasti sedang di perjalanan menuju tempat tinggal Dian," ucap Riyadh.


Riyadh dan Zaid bergegas mendatangi para anggota Polisi yang sedang menunggu. Setelah membicarakan tentang kepergian Ismika, merekapun kembali dengan tangan kosong. Namun, mereka berencana menjemput wanita itu walaupun harus mengejarnya hingga ke negara tetangga. Bukan hanya para anggota Polisi, Riyadh dan Zaid pun berencana menyusul Ismika.


. . .


Ismika baru saja tiba di sebuah Hotel berbintang. Ia menyewa sebuah kamar VIP dan beristirahat disana untuk melepaskan penat setelah melalui perjalanan yang sangat melelahkan. Ismika sendiri tidak tahu bahwa dirinya sudah menjadi target Polisi. Ia kira dirinya masih aman dan bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


Ia berencana ingin menemui Dian di kediaman Marcello, setelah rasa penat di tubuhnya menghilang.


"Aku harap, aku bisa menyingkirkan dirimu dengan tanganku sendiri, Dian!" Aku sudah muak berpura-pura menjadi wanita yang baik di hadapanmu. Sekarang kamu akan lihat, siapa aku sebenarnya," gumam Ismika sambil menyeringai menatap gelas minumannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2