
"Ikutlah bersamaku, Aira! Biar semuanya jelas, biar kamu tahu bahwa aku tidak ada sangkut pautnya dengan lelaki tua itu! Dan yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan Shakila. Kasihan dia ... Shakila sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Tapi, malah dia yang harus menanggung semuanya,"
Aira terdiam sambil menundukkan kepala. Sebenarnya ia ingin membantu Shakila, tetapi ia sendiri masih ketakutan dengan semua teror dan ancaman yang selama ini menghantuinya.
Melvin menghampiri Aira yang masih terdiam. Ia meraih tangan gadis itu kemudian menggenggamnya.
"Aku berani jamin bahwa tidak akan ada yang berani menyakitimu. Jangankan menyakitimu, aku bahkan tidak akan membiarkan siapapun menyentuh tubuhmu seujung kuku pun. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, Aira. Percayalah," ucap Melvin.
Aira mengangkat kepalanya kemudian menatap lekat kedua bola mata Melvin. Tak ada kebohongan yang terlihat disana dan hal itu membuat Aira akhirnya luluh.
Ia bersedia ikut bersama Melvin menuju tempat, dimana Shakila disembunyikan oleh para penculik tersebut.
"Baiklah, aku ikut. Tapi, berjanjilah bahwa kamu tidak akan membiarkan mereka menyakitiku," lirih Aira.
"Ya, aku berjanji!"
Melvin menunjukkan jari kelingkingnya kepada Aira dan gadis itupun menyambutnya sambil tersenyum tipis.
Sebelum berangkat, Aira sempat berpamitan kepada wanita paruh baya yang bekerja sebagai pelayan di kediaman barunya tersebut.
"Bi, nanti kalau Mommy dan Daddy pulang, tolong sampaikan kepada mereka bahwa aku ada keperluan sebentar dan aku barjanji tidak akan lama," ucap Aira.
"Baik, Nona Aira."
Setelah berpamitan, Melvin dan Aira pun bergegas memasuki mobil kemudian melaju menuju tempat itu.
__ADS_1
Sementara itu.
Marcello, Joe dan Marvel sudah tiba di tempat tersebut. Mereka memantau keadaan di tempat itu dengan seksama. Para Bodyguard dan Polisi yang sengaja mereka panggil pun sudah bersiap di posisi mereka masing-masing.
"Aku tidak akan mengampuni lelaki itu jika sesuatu terjadi pada Shakila!" geram Marvel dengan wajah memerah.
Setelah mendapatkan aba-aba dari salah satu Polisi yang mengepalai penggerebekan tersebut, merekapun segera beraksi dan mulai menyerang tempat itu.
Bodyguard Tuan Felix yang hanya beberapa orang, tentu saja kewalahan melawan Bodyguard Tuan Marcello yang datang menyerang wilayah mereka. Belum lagi para Polisi yang siap membekuk para penculik tersebut.
Dengan langkah cepat, Marvel memasuki ruangan itu dan mulai mencari keberadaan Shakila. Begitupula Tuan Joe, Marcello dan Polisi yang bertugas mengepalai penggerebekan tersebut mengikuti Marvel dari belakang.
Di dalam kamar utama.
Shakila dipaksa mengenakan pakaian seksi yang menampilkan seluruh kemolekan tubuhnya di hadapan lelaki tua itu. Ia menolak dengan keras, tetapi Tuan Felix terus mengancamnya jika ia tidak mau mengikuti semua perintah lelaki hidung belang tersebut.
"Sudah kubilang aku bukan Akira!" teriak Shakila tidak mau kalah.
"Cukup! Aku sudah bosan berbaik hati padamu, Aira! Aku sudah muak melihat tingkahmu yang sok polos itu. Sekarang ganti pakaianmu atau aku sendiri yang akan melakukannya," ancam Tuan Felix dengan wajah memerah karena kesal.
Mau tidak mau, Shakila pun terpaksa menuruti kemauan lelaki tua itu sambil menitikkan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan diperlakukan serendah itu oleh seseorang yang sama sekali tidak ia kenali.
Shakila berjalan menuju sudut kamar kemudian berdiri dengan posisi membelakangi Tuan Felix. Ia menanggalkan pakaian satu-persatu di depan lelaki tua itu.
Tuan Felix beberapa kali meneguk air ludahnya ketika menyaksikan punggung mulus Shakila dari belakang. Hal itu membuat hasratnya sebagai lelaki bangkit. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati setiap inci tubuh indah milik Shakila.
__ADS_1
"Berbaliklah!" titah Tuan Felix ketika Shakila sudah selesai mengenakan pakaian seksi itu.
Perlahan Shakila berbalik dan mata sembab itu membuat Felix menggelengkan kepalanya.
"Kamu terlihat jelek dengan mata sembab itu, Akira!" ucapnya seraya melemparkan sebuah topeng seperti milik Akira kepada Shakila.
"Apa ini?" tanya Shakila sambil memperhatikan sebuah topeng yang kini jatuh di kakinya.
Tuan Felix tergelak karena lagi-lagi gadis itu bertanya padanya.
"Ya Tuhan, Akira!" pekik Tuan Felix di sela gelak tawanya. "Kamu itu sudah gila atau kamu hanya berpura-pura gila? Sudahlah, jangan bercanda lagi denganku, sebelum aku benar-benar bosan melihat gayamu yang sok suci itu! Kenakan topeng itu kemudian menarilah!"
Tuan Felix memutar sebuah musik yang sering menemani Akira menari. Sedangkan Shakila benar-benar kebingungan apalagi ia harus menari di hadapan lelaki tua itu.
"Menari? Menari seperti apa? Aku bahkan tidak pernah menari sebelumnya," gumam Shakila sembari meraih topeng yang tadi dilempar oleh Tuan Felix kepadanya.
Perlahan Shakila mengenakan topeng tersebut dan Tuan Felix bertepuk tangan ketika melihat Shakila yang kini benar-benar menjadi seperti Akira.
"Menarilah, Akira! Menarilah ...."
Mendengar suara lantunan musik yang berdegub kencang dari salah satu ruangan di kamar atas, Marvel beserta yang lainnya bergegas naik kemudian menghampiri ruangan tersebut.
Brakkkk!
Pintu ruangan itu ditendang dengan keras oleh Marvel dan sekarang nampaklah Shakila bersama Tuan Felix di dalamnya.
__ADS_1
...***...