
"Sudahlah, Fattan. Sebaiknya katakan saja yang sebenarnya. Jangan berkelit," ucap Marcello sembari mengangkat sebelah kakinya kemudian meletakkannya keatas kaki yang satunya. Wajahnya kembali dingin menatap Fattan yang masih meringis menahan sakit.
"Walau Anda bunuh pun, saya akan tetap mengatakan hal yang sama, Tuan Marcello. Beberapa hari yang lalu saya menjenguk Ibu saya dan saya tidak tahu menahu soal Marissa," jawabnya.
Marcello memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Sekesal apapun dirinya terhadap lelaki yang tengah berdiri di hadapannya, ia masih punya hati dan tidak sekejam itu menyiksa bahkan membunuh orang lain hanya karena ingin menemukan gadis kesayangannya.
"Sepertinya dia tidak akan pernah mengakuinya, Joe! Sebaiknya kita pergi dan selidiki semuanya sendiri." Marcello bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi kamu harus ingat, Fattan. Aku akan membuat perhitungan denganmu jika benar kamu memiliki andil atas hilangnya Marissa!" sambungnya.
Marcello melangkah keluar dari ruangan itu dan disusul oleh para Bodyguardnya. Sedangkan Joe masih berdiri tepat dihadapan Fattan dengan tatapan tajam menatap lelaki itu.
"Tuan Fattan! Saya bisa saja menjadi lebih garang daripada Tuan Marcello. Saya sudah tahu bahwa Anda ikut berperan atas hilangnya Nona kami. Tapi, sayangnya saya masih belum tahu, kemana Anda menyembunyikan gadis itu. Dan jika saya sudah menemukannya, maka Anda harus bersiap mendapatkan bonus dari saya!"
Joe menyeringai licik sembari menepuk pipi Fattan. Dan setelah itu, iapun segera menyusul Big Bossnya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Fattan terdiam sembari memperhatikan Joe yang keluar dari rumahnya. Kini hatinya bimbang dan takut untuk berurusan lebih jauh lagi kepada orang-orang berkuasa itu. Namun, ia sudah terlanjur ikut campur dan tidak mungkin jika ia harus menyerah dan mengembalikan Marissa kepada Marcello.
"Ya, Tuhan! Apa yang akan terjadi padaku jika mereka tahu bahwa akulah orang yang sudah menyembunyikan Marissa," gumamnya.
Sementara itu didalam mobil Marcello.
__ADS_1
"Joe, bagaimana penyelidikanmu tentang Sarrah?"
Tatapan Marcello fokus kedepan, menatap punggung Joe yang sedang menyetir mobilnya.
"Sudah ada sedikit titik terang, Tuan Marcello. Dan hari ini, saya akan menemui salah satu teman Nona Sarrah yang mengetahui secara pasti kebohongan yang sudah diciptakan oleh wanita itu," sahut Joe.
Marcello menghembuskan napas panjang dan kini wajahnya terlihat sedikit lebih tenang. Sebuah senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya. Akhirnya ia bisa bernapas lega karena salah satu permasalahnya sudah mulai terpecahkan. Dan sekarang ia bisa lebih fokus lagi mencari Putri kesayangannya yang pergi entah kemana.
"Sebaiknya cepat selesaikan, Joe. Agar aku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku."
"Tentu saja, Tuan."
Selang beberapa saat, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Joe pun tiba di halaman Mansion. Setelah memastikan Tuan Marcello masuk kedalam Mansion megahnya, Joe kembali melajukan mobilnya menuju sebuah Restoran ternama.
Sambil melajukan mobilnya, Joe sudah beberapa kali melirik jam tangan mewahnya, ia tidak ingin wanita itu menunggunya lebih lama lagi. Apalagi wanita itu tengah hamil muda.
Setibanya ditempat yang sudah dijanjikan, Joe segera menemui wanita itu. Ia tersenyum kecut ketika Joe berjalan menghampirinya. Sebenarnya lelaki itu terlihat keren, tetapi karena wanita itu sedang didalam tekanan, ia merasa Joe terlihat mengerikan seperti malaikat pencabut nyawa.
"Selamat siang, Nona Keke! Itu nama Anda, bukan?" sapa Joe seraya mengulurkan tangannya.
"Y-ya, Tuan," sahutnya dengan gemetar.
__ADS_1
Joe tersenyum, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk disana sambil menatap kedua bola mata Keke yang nampak berkaca-kaca.
"Tenang saja, Nona Keke. Saya berjanji tidak akan menyakiti Anda, asalkan Anda bersedia membantu kami."
Keke mencoba menenangkan dirinya. Sebenarnya Joe tidak pernah menakut-nakuti wanita itu. Namun, entah kenapa wanita itu sangat ketakutan. Apalagi saat ini seorang Bodyguard sangar sedang berdiri tepat dibelakangnya.
"Ba-baiklah, sebenarnya apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Keke.
"Ini tentang kehamilan Nona Sarrah. Tidak perlu saya jelaskan, sepertinya Anda sudah paham apa maksud saya."
Tiba-tiba wanita itu menangis histeris sambil memohon kepada Joe untuk tidak menyakitinya.
"Iya, Tuan. Saya mengaku bahwa test pack itu adalah milik saya. dan Sarrah rela membayar saya asalkan saya bersedia memberikan test pack itu kepadanya," tutur Keke dengan airmata yang berlinang.
Joe tersenyum puas kemudian menepuk pundak wanita itu dengan lembut.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Nona Keke. Saya senang karena Anda tidak mempersulit pekerjaan saya. Dan sebagai imbalannya, Anda bisa pesan apa saja disini dan saya yang akan membayarnya."
Setelah mengucapkan hal itu, Joe bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah meninggalkan Keke yang masih shok. Sedangkan Bodyguard yang sejak tadi berdiri dibelakang Keke, segera menyusul Joe.
"Huft! Beruntung dia tidak menyakitiku," gumam Keke sembari bangkit dan bergegas pulang. Jangankan untuk memesan makanan, perutnya yang terasa sangat lapar pun mendadak kenyang setelah melihat wajah sangar Bodyguard itu.
__ADS_1
...***...