Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 173


__ADS_3

"Bu, minggu depan jadwal operasi cesarku. Doakan kami ya, Bu," ucap Marissa kepada sang Ibu via telepon.


"Hah? Operasi cesar? Minggu depan? Kamu serius, Nak? Ta-tapi kenapa harus cesar?" tanya Dian panik.


"Ya, Bu. Kata Dokter salah satu posisi bayiku ada yang sungsang. Doakan kami, ya. Biar operasinya berjalan lancar, si kembar lahir sehat tanpa kurang apapun, begitupula Marissa," sahutnya.


"Tentu saja, Nak. Ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian."


"Terima kasih, Bu."


Setelah Marissa memutuskan panggilannya, Dian meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dengan wajah cemas. Riyadh memperlihatkan ekspresi Dian saat itu kemudian menarik wanita itu untuk berbaring si sampingnya.


"Kamu kenapa?" tanya Riyadh sembari mengelus wajah Dian dengan lembut kemudian melabuhkan ciuman hangat di pipi wanita itu.


"Marissa, Sayang. Dia bilang minggu depan adalah jadwalnya operasi cesar. Aku kok  takut ya setelah mendengarnya. Semoga saja Marissa dan kedua cucu kita lahir dengan selamat, sehat dan tidak kurang apapun," tutur Dian sembari memeluk tubuh Riyadh.


"Operasi cesar?" tanya Riyadh dengan alis yang saling bertaut.


"Ya, operasi cesar. Kata Dokter salah satu posisi bayi Marissa ada yang sungsang."


"Oh. Tapi, kenapa Marcello tidak bercerita padaku? Apa dia lupa atau dia memang tidak ingin memberitahukan aku tentang hal itu?"


"Entahlah," jawab Dian.


. . .

__ADS_1


Beberapa hari sebelum jadwal operasi cesar Marissa, pasangan itu tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari kebutuhan Marissa dan juga bayi-bayinya.


Hari mendebarkan itupun tiba. Dimana Marissa sudah berbaring di atas tempat tidur pasien. Wajah Marcello pucat pasi. Ini merupakan momen paling menegangkan dalam sejarah hidupnya. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya bagi Marcello harus menghadapi situasi dimana sang istri akan bertaruh nyawa demi buah hati mereka.


"Marissa, aku gugup." Marcello menggenggam tangan Marissa dengan erat sambil menatap wajah sang istri.


Marissa terkekeh pelan sembari membalas genggaman Marcello. "Seharusnya 'kan aku yang gugup, Dad. Bukan Daddy," sahut Marissa.


"Entahlah, perasaanku campur aduk, Cha. Ada senang, takut, cemas dan semuanya bercampur menjadi satu."


Tepat disaat itu para tim medis tiba di ruangan Marissa. Mereka menghampiri tempat tidur Marissa dan bersiap membawanya menuju ruang operasi.


"Yakinlah, kamu pasti berhasil, Sayang!" ucap Dian yang sejak tadi sudah beradandi ruangan itu.


"Terima kasih, Bu."


"Semangat!!!" balas Marissa sembari melemparkan senyuman hangatnya.


Marcello tidak bicara sepatah katapun lagi. Namun, di dalam hatinya tersemat doa untuk keselamatan istri dan kedua bayinya. Marcello terus menggenggam erat tangan Marissa sembari mengikuti para perawat yang kini mendorong istri kecilnya menuju ruang operasi.


Setibanya di ruangan itu, Marcello pun melepaskan genggaman tangannya.


"Aku akan tetap berada disini, Cha. Percayalah," lirih Marcello.


"Ya, Daddy. Aku percaya padamu," jawab Marissa sebelum ia di bawa masuk oleh para tim medis ke ruangan itu.

__ADS_1


"Oh Tuhan, selamatkan istri dan anak-anakku," gumam Marcello sembari mengusap wajahnya.


Dengan sabar, Marcello menunggu di luar ruangan itu bersama keluarga besarnya. Ada pasangan Dian dan Riyadh, ada pasangan Joe dan Sofia, juga Zaid yang tidak ingin ketinggalan. Dia pun sudah tidak sabar ingin melihat ponakan-ponakan kecilnya yang akan meramaikan keluarga besarnya.


Detik berlalu menjadi menit dan menit pun berubah menjadi jam. Akhirnya hal paling di tunggu-tunggu pun tiba. Pintu ruangan itupun terbuka dan nampaklah seorang Dokter yang sedang tersenyum hangat kepada mereka.


"Selamat, Tuan. Operasinya berjalan dengan lancar. Kedua bayi Anda lahir sehat tanpa kurang apapun."


Penuturan Dokter membuat seluruh keluarga Marcello mengucap syukur. Mereka sangat bahagia mendengar berita baik itu. Apalagi Marcello, lelaki itu bahkan sampai menitikkan air matanya.


"Benarkah itu? Kedua bayiku baik-baik saja, Dok?" tanya Marcello dengan sangat antusias.


Dokter menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Tuan. Mereka sehat tanpa kurang apapun, begitupula Nona Marissa."


"Kamu dengar itu, Mertuaku!? Kedua bayiku sehat dan kata-kata Dokter Kandungan itu salah!" seru Marcello kepada Riyadh yang juga tidak kalah bahagianya.


"Ya, Marcello. Kami pun bahagia mendengarnya." Riyadh menepuk pundak sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.


Dian memeluk tubuh Riyadh dengan erat sambil terisak. Ia benar-benar terharu karena akhirnya kedua cucunya lahir dengan selamat. Begitupula dengan pasangan Joe dan Sofia. Mereka pun turut bahagia mendengar berita itu.


Tidak berselang lama, Dokter pun memperbolehkan mereka bertemu dengan kedua bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut. Marcello begitu bahagia saat menyambut salah satu bayi yang di katakan oleh Dokter sebagai sang Kakak. Sedangkan bayi satunya di sambut oleh Dian.


"Ya, Tuhan! Cucu kita tampan sekali ya, Opa!" ucap Dian kepada Riyadh.


Riyadh tersenyum kecut. "Ya, Oma. Cucu-cucu kita memang tampan. Huft, akhirnya giliran kita yang di panggil Oma dan Opa," sahut Riyadh.

__ADS_1


(Maaf, late up 🙏)


...***...


__ADS_2