Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 145


__ADS_3

"Bantuin Icha ya, Dad!" ucap Marissa sebelum Marcello melesat bersama mobilnya menuju kantor.


"Iya." Marcello mengelus pipi Marissa, kemudian melambaikan tangannya kepada wanita itu setelah Joe melajukan mobilnya, meninggalkan mansion.


"Joe."


"Ya, Tuan."


"Marissa memintamu mengajak Sofia dinner malam ini," ucap Marcello.


Joe tersentak kaget setelah mendengar ucapan Bossnya itu, tetapi ia tidak ingin memperlihatkannya. Ia berusaha tetap tenang dan terus fokus pada kemudinya.


"Joe, apa kamu mendengarku?" tanya Marcello karena tak ada jawaban sedikitpun dari Asistennya itu.


"Maafkan saya, Tuan. Saya mendengarkan, tetapi saya bingung harus menjawab apa," sahut Joe.


"Kamu tidak perlu menjawab karena itu bukanlah pertanyaan. Itu adalah perintah dan kamu harus melakukannya, mau suka ataupun tidak."


"Baik, Tuan."


Tidak ada pilihan untuk Joe selain menuruti perintah lelaki itu. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Joe menolak karena ia tidak ingin terlalu dekat dengan Sofia. Ia takut jatuh cinta pada gadis ingusan itu. Namun, takdir berkata lain. Ia mencoba menjauh, majikannya malah gencar ingin menyatukannya dengan Sofia.


"Lagipula kamu tidak ingin anakku nantinya ileran 'kan? Ini permintaan kedua bayiku, Joe. Tegakah kamu menolaknya?" lanjut Marcello sambil mengulum senyum.


"Tentu saja, Tuan. Saya bersedia melakukan apapun untuk keluarga Anda. Terlebih untuk kedua calon generasi penerus Anda," jawab Joe mantap.


"Baguslah kalau begitu," ucap Marcello sambil menepuk pundak Joe.


"Ya, Tuhan! Benarkah ada orang hamil yang ngidamnya menjodohkan orang lain? Astaga!" batin Joe.

__ADS_1


Sementara itu di Mansion.


Setelah mobil yang membawa suaminya melesat pergi. Marissa bergegas memasuki Mansion dan menyusuri ruangan demi ruangan mencari sosok Sofia. Hingga akhirnya ia menemukan gadis itu di dasar tangga menuju kamar utama.


"Sofia," sapa Marissa sembari menghampiri gadis itu.


"Jangan berlarian, Nona. Takut lantainya belum kering," ucap Sofia dengan wajah cemas memperhatikan Marissa yang sedang menghampirinya.


"Oh, baiklah." Marissa pun berjalan pelan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Sofia sembari membungkuk hormat kepada Marissa yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Ya. Aku butuh bantuanmu. Mari, ikutlah denganku!" ajak Marissa.


Marissa menarik tangan Sofia dan meuntunnya menuju lift. Lift yang dipergunakan khusus untuk Marissa. Setibanya di kamar utama, Marissa mempersilakan Sofia masuk kedalam kamarnya.


"Oh ya, Sofia. Maafkan aku. Hari ini aku menagih utang padamu," ucap Marissa, ia tersenyum sambil menatap Sofia yang masih terpelongo melihat keidahan kamar utama.


"Kemarilah! Pilihlah dress yang kamu sukai. Aku rasa ukuran badan kita sama dan disini masih banyak yang belum pernah aku sentuh sama sekali," tutur Marissa sembari membuka pintu ruangan penyimpanan pakaiannya dan juga pakaian milik suaminya.


"Ya ampun, Nona! Ini toko pakaian atau apa? Koleksi pakaian Anda banyak sekali!" seru Sofia sambil membulatkan matanya.


Marissa hanya tersenyum kemudian memilih-milih dress yang cocok untuk Sofia gunakan malam ini.


"Ayo, Sofia! Jangan bengong saja, pilih mana yang kamu suka!" titah Marissa sambil terkekeh pelan.


"Baik, Nona!"


Walaupun Sofia tidak mengerti apa yang ingin Marissa lakukan padanya, tetapi ia menurut saja. Sesuai janjinya, ia akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan majikannya tersebut.

__ADS_1


Dengan dibantu oleh Marissa, akhirnya Sofia menemukan sebuah dress brokat berwarna hitam. Panjangnya di atas lutut dan ada manik-manik yang membuatnya berkilau ketika terkena pantulan cahaya lampu.


"Benar, kamu maunya yang ini? Tidak mau yang lain?" tanya Marissa meyakinkan.


"Ya," sahut Sofia mantap. Sebenarnya ia tidak tahu apa tujuan Marissa meminta dirinya memilih dress tersebut.


Marissa kembali menuntun Sofia menuju kamarnya dan menundukkan gadis itu di depan meja riasnya.


"Sebenarnya Nona ingin saya melakukan apa?" tanya Sofia mulai kebingungan.


"Dinner!" jawab Marissa.


"Dinner? Maafkan saya, tapi saya tidak mengerti, Nona."


"Malam ini aku ingin kamu makan malam bersama Om Joe. Kamu mau, 'kan?" sahut Marissa sembari menatap bayangan Sofia di dalam cermin riasnya.


"Apa?!" pekik Sofia dengan mata membulat sempurna.


"Luluhkan hati Tuan Joe, Sofia. Kerahkan segenap kemampuanmu agar hatinya yang dingin itu meleleh! Bukan 'kah kamu menyukai lelaki itu?"


Sofia terkekeh pelan dengan wajah memerah menahan malu.


"Sebenarnya sih iya, Nona. Tapi saya tidak yakin bisa meluluhkan hati Tuan Joe. Nona lihat saja sikapnya selama ini terhadap saya, dia selalu menjaga jarak jika kami sedang berdekatan," tutur Sofia.


"Tapi kali ini dia tidak akan bisa menolakmu, Sofia. Aku akan membuatmu menjadi cantik hingga ia tidak bisa melepaskan dirimu dari pandangannya, percayalah padaku," ucap Marissa, mencoba meyakinkan Sofia saat itu.


"Semoga saja ya, Nona. Tapi jika aku gagal melakukannya, aku harap Nona tidak akan marah kepadaku," lirih Sofia.


Marissa tergelak mendengarnya. "Kenapa aku harus marah padamu, Sofia?! Jika sampai Om Joe masih menolakmu, itu artinya ia memang benar-benar sudah tidak normal!" balas Marissa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2