Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 247


__ADS_3

Marcello meraih ponsel itu dari tangan Maria kemudian memperhatikan foto seorang laki-laki tampan yang sedang mengenakan setelan piyama bermotif Doraemon tersebut.


Marissa pun tidak kalah penasaran. Sudah sering ia mendengar nama Udin disebutkan, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana wajahnya.


"Lihat, Dad!"


Marcello mempelihatkan layar ponsel Maria ke hadapan Marissa sambil terkekeh.


"Coba kamu lihat."


Keduanya saling berbisik-bisik, mengeluarkan pendapat mereka tentang lelaki dewasa dengan penampilan seperti ABG tersebut.


"Pantas saja Maria suka, mereka sepertinya memang cocok! Lihat saja piyama tidurnya," bisik Marcello yang kemudian tertawa lepas di ruangan itu. Tawanya bahkan terdengar menggema di langit-langit ruangan.


"Tapi dia tampan loh, Dad! Hanya saja piyamanya bikin sakit mata yang melihatnya," sahut Marissa yang kemudian juga ikut tertawa bersama sang suami.


"Hush! Jauh lebih tampan aku kemana-mana," protes Marcello karena tidak terima ketika sang istri memuji ketampanan laki-laki lain dan setelah itu ia kembali tertawa.


Maria menatap heran kepada kedua orang tuanya. Maria sedikit kesal, ketika melihat kedua orang tuanya berbisik-bisik sambil memperhatikan foto Om Udin kesayangannya kemudian kembali tertawa lepas di ruangan itu.


"Ih, kalian itu kenapa? Apa yang lucu?" tanya Maria sambil menekuk wajahnya. Ia terus memperhatikan ekspresi kedua orang tuanya tanpa berkedip sedikitpun.


Marcello mencoba menghentikan tawanya kemudian menatap anak gadisnya yang mulai terlihat suntuk.


"Jadi ini yang namanya Udin, si sopir pribadi itu?"


"Ya," jawab Maria sambil menganggukkan kepala dan matanya tetap fokus pada pasangan yang masih duduk di hadapannya.


"Begini saja, Gadis Daddy. Kalau benar Si Udin mu ini serius ingin menjalin hubungan denganmu, suruh dia temui Daddy. Daddy ingin dia membuktikan keseriusannya, sebelum Tuan Alfonso dan Aidan mempersiapkan acara pertunangan kalian," ucap Marcello yang kini terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Benarkah, Daddy?"


"Ya, tapi cepat! Jangan sampai dia mengulur-ulur waktu. Kamu tidak ingin 'kan keduluan sama Tuan Aidan?"


"Ya, Daddy! Maria paham," sahut Maria dengan sangat antusias.


Maria bangkit kemudian menghampiri Marcel dan Marissa. Ia memberikan ciuman di kedua belah pipi mereka sambil mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Dad. Terima kasih, Mom!"


"Ya, sama-sama."


Setelah Marcello mengembalikan ponsel milik anak gadisnya itu, Maria pun segera pamit dan kembali ke kamarnya.


"Lalu bagaimana dengan Aidan dan Tuan Alfonso, Dad?" tanya Marissa sambil menautkan kedua alisnya.


"Aku akan bicarakan masalah ini baik-baik kepada mereka. Aku yakin mereka pasti akan mengerti," jawab Marcello sembari mengelus pipi Marissa yang masih mulus dan tak tampak sedikitpun kerutan di usianya yang sudah 42 tahun.


"Begini, aku masih penasaran dengan si Udin ini. Aku ragu kalau dia adalah seorang sopir karena sepertinya aku pernah melihat dia tapi aku lupa dimana," tutur Marcello sambil mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu.


Marcello tidak mengenali sosok Dylan karena sekarang perusahaan sudah di pegang oleh Marvel dan Melvin. Marcello sudah pensiun dan hanya kadang-kadang saja lelaki itu berkunjung ke perusahaannya, itupun jika ada hal yang begitu penting, yang mengharuskan dirinya untuk berhadir.


Sedangkan Dylan sendiri adalah seorang pengusaha baru yang namanya mulai di perhitungkan dan menjadi salah satu di antara 10 pengusaha tersukses di negara mereka. Dan ia pun baru setahun terakhir ikut bekerjasama dengan perusahaan milik Tuan Marcello. Jadi, yang tahu tentang siapa Dylan hanya si kembar, Marvel dan Melvin.


"Kalau dilihat dari wajahnya sih, memang benar, Dad. Mana ada sopir setampan dia coba? Mending dia jadi artis, model dan sebagainya dari pada menjadi sopir pribadi, ya 'kan?"


"Heh, jangan bilang kamu suka sama dia, ya!" ketus Marcello yang kini menatap tajam pada sang istri.


Marcello tua cemburu, walaupun Marissa sudah berusia kepala empat, tetapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih bisa bersaing dengan wanita berusia 20an.

__ADS_1


"Gak lah, Daddy. Hati Icha itu hanya untuk Daddy. Walaupun kerutan sudah mulai menghiasi wajah Daddy, tapi bagi Icha Daddy tetaplah lelaki yang paling tampan di dunia ini."


Marissa menyandarkan kepalanya di pundak Marcello sambil tersenyum manis.


"Kamu itu memuji atau mengata-ngatai aku? Atau memuji sambil mengatai-ngatai aku yang sudah keriputan?" tanya Marcello sambil menautkan kedua alisnya.


"Dua-duanya, Daddy," jawab Marissa sambil terkekeh pelan di pundak Marcello.


"Dasar!"


Sementara itu di kamar Maria.


Maria yang begitu bahagia karena mendapatkan lampu hijau dari sang Daddy, segera menghubungi Dylan.


Dylan hampir saja larut dalam dunia mimpinya, tetapi tiba-tiba saja ponsel yang ia letakkan di atas nakas kembali bergetar dengan hebat.


"Ya, Tuhan!" pekik Dylan sembari memijit pelipisnya yang terasa sakit akibat terkejut.


"Inilah alasanku tidak ingin memberikan nomorku pada gadis itu," gerutu Dylan.


Dylan meraih ponsel tersebut kemudian menerima panggilan dari Maria.


"Ya, Nona Maria?"


"Om Udin, barusan Maria bicara sama Daddy. Daddy bilang, Daddy ingin bertemu sama Om untuk membicarakan masalah hubungan kita!" pekik Maria.


Seketika rasa kantuk yang di rasakan oleh Dylan sirna. Ia tersenyum puas seraya menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


"Benarkah? Kapan aku bisa bertemu dengan Daddymu?"

__ADS_1


"Secepatnya, Om. Maria tidak mau keduluan sama Tuan Aidan," jawab Maria dengan sangat antusias.


...***...


__ADS_2