
Marissa berjalan menuju berbagai koleksi pakaian wanita yang berjejer di Mall tersebut. Sebenarnya Marissa tidak memiliki niatan untuk membeli pakaian-pakaian disitu. Ia hanya ingin menghindar dari obrolan membosankan yang sama sekali tidak masuk di otaknya.
Marissa memperhatikan kedua lelaki itu dari balik deretan pakaian yang menggantung. Wajahnya menekuk karena kedua lelaki itu sepertinya masih betah berlama-lama disana sambil menceritakan kehidupan serta bisnis mereka.
"Sampai kapan aku harus berada disini?" gumamnya.
Tiba-tiba saja perut Marissa sakit dan sepertinya ia harus segera ke kamar kecil. Karena sudah kebelet, Marissa memutuskan segera ke kamar kecil tanpa memberitahukan suaminya. Dengan langkah cepat, Marissa mencari keberadaan kamar kecil di Mall besar tersebut, hingga akhirnya ia menemukannya dan segera masuk ke ruangan itu.
Ketika Marcello dan sahabatnya masih bicara, Marcello teringat akan Marissa. Ia melirik jam tangannya dan perempuan itu sudah pergi hampir setengah jam darinya.
"Kenapa, Marcello?" tanya Riyadh.
Ia bingung ketika Marcello terus mengedarkan pandangannya di sekeliling bangunan itu.
"Istriku, Marissa. Dimana dia sekarang?" jawabnya dengan wajah panik.
Riyadh tersenyum melihat ekspresi sahabatnya itu. "Bukankah ia bilang mau ke tempat itu?" Riyadh menunjuk deretan koleksi pakaian wanita terbaru di tempat itu.
"Ya, tapi sepertinya dia sudah tidak ada disana," ucapnya.
Marcello bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju tempat yang ditujukan oleh Marissa. Sementara Marcello berjalan menuju tempat itu, Riyadh menghampiri kasir di cafe mini tersebut dan membayar minuman mereka. Setelah itu, iapun segera menyusul Marcello mencari istri kecilnya.
Marcello mengelilingi tempat itu dengan ponsel yang terus menempel di telinganya. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Marissa, tetapi perempuan itu tidak juga menerima panggilannya.
"Kemana dia?" gumam Marcello dengan wajah panik.
Ia takut Marissa kabur lagi. Tiba-tiba saja pikirannya buntu, bayangan ketika gadis itu kabur darinya terus menghantui pikiran Marcello.
__ADS_1
"Tenanglah, Marcello. Mungkin saja istrimu sedang berada ditempat lain," ucap Riyadh yang kini mengikuti langkah Marcello dari belakang.
"Kamu tidak tahu, Riyadh. Gadis itu pernah kabur dariku dan aku takut hal itu terulang lagi," sahutnya dengan wajah pucat.
"Kabur?!" Riyadh mengerutkan keningnya, ia bingung kenapa Marissa kabur dari Marcello.
"Maaf, aku tidak bisa menceritakannya sekarang."
Marcello terus menghubungi nomor ponsel Marissa terapi masih sama. Ponsel perempuan itu masih aktif dan statusnya pun 'Berdering', tetapi entah mengapa, Marissa tidak mau menerimanya.
Marcello semakin frustrasi, ia menghubungi Joe yang menunggunya di mobil dan lelaki itupun bergegas menyusulnya.
"Ada apa, Tuan?"
"Joe, Marissa hilang! Bantu aku mencarinya, aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi," sahutnya dengan wajah kusut.
Sementara ketiga orang itu sedang sibuk mencari keberadaan Marissa, perempuan itu masih asik didalam kamar kecil.
Ia bahkan tidak sadar bahwa Marcello sudah mencoba menghubunginya berkali-kali. Tadi malam ia mengaktifkan mode 'Diam' dan lupa mengembalikan peraturannya kembali seperti semula.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun selesai. Ia meraih tasnya kemudian membawanya keluar dari kamar kecil menuju Cafe dimana suaminya sedang menunggu dirinya. Setibanya di Cafe mini tersebut, ia tidak menemukan siapapun disana.
"Tuan Marcello kemana?" gumamnya sambil memperhatikan sekelilingnya.
Hingga salah seorang karyawan Cafe tersebut menghampirinya. Dengan wajah semringah, wanita itu mengatakan bahwa Tuan Marcello tengah panik mencari keberadaannya.
"Benarkah? Dimana mereka sekarang?" tanya Marissa dengan wajah cemas. Ia takut Tuan Marcello membuat kehebohan di Mall tersebut.
__ADS_1
"Mereka disana, Nona. Mari saya antar," ajak wanita itu.
Marissa pun segera mengikuti langkah wanita itu dari belakang.
"Nah, itu mereka," ucapnya sembari menunjuk kearah Marcello yang berkumpul di ruang informasi pusat.
Marcello hampir saja meminta bantuan mereka untuk menginformasikan bahwa dirinya kehilangan sosok Marissa. Dengan langkah cepat, Marissa menghampiri suaminya itu dan mencegahnya melakukan hal yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Dad! Ada apa ini?!" ucapnya sembari menghampiri lelaki itu.
"Oh Tuhan, terima kasih!"
Lelaki itu menyambut kedatangan Marissa. Ia memeluk tubuhnya dengan erat kemudian menciumi disetiap inci wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Dari mana saja kamu, Cha? Aku khawatir," tanyanya panik.
"Icha dari kamar kecil," jawab Marissa dengan setengah berbisik karena malu dilihat oleh banyak orang.
"Syukurlah, lain kali jangan seperti ini lagi ya."
Marcello menarik tubuh Marissa kedalam pelukannya. "Aku sangat mencintaimu, Cha," ungkapnya.
Riyadh tersenyum sambil bertepuk tangan. Ia turut bahagia karena akhirnya Marissa berhasil ditemukan. Atau, lebih tepatnya lagi, Marissa lah yang telah berhasil menemukan mereka.
"Wow, aku tidak menyangka ternyata seorang Marcello bisa kelabakan juga, ya!" ucap Riyadh kepada Joe yang berdiri di sampingnya.
"Hmm, Dunia Tuan Marcello sudah jungkir balik setelah jatuh cinta kepada gadis itu, Tuan Riyadh, percayalah padaku," sahut Joe dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
...***...