
Para Bodyguard bergegas membawa Joe ke Rumah Sakit agar secepatnya lelaki itu segera mendapatkan pertolongan. Saat di perjalanan, Joe banyak kehilangan darah dan lelaki dingin itu mulai kehilangan kesadarannya.
Sementara itu didalam Mansion.
Dian, Marissa dan Marcello sedang duduk di sofa ruang utama. Marissa mencoba menenangkan Dian yang sangat mencemaskan keadaan Assisten Joe yang terluka akibat menyelamatkan dirinya.
"Bagaimana keadaan Tuan Joe? Aku sangat mengkhawatirkannya," tutur Dian dengan wajah cemas.
"Kita berdoa saja, Bu. Semoga Om Joe baik-baik saja," sahut Marissa sambil mengusap lembut punggung Ibunya.
"Dia akan baik-baik saja, yakinlah padaku. Joe adalah lelaki yang kuat, dia tidak akan menyerah hanya karena satu tembakan di tubuhnya," sambung Marcello.
Lelaki itu terlihat tenang. Namun, jauh di lubuk hatinya, Marcello pun sangat khawatir. Ia sudah menganggap Joe lebih dari sekedar seorang Assisten. Baginya Joe sudah seperti seorang Kakak, yang selalu menemaninya disaat ia senang maupun susah.
"Ibu dengar 'kan apa yang dikatakan oleh Marcello? Om Joe akan baik-baik saja," lanjut Marissa.
Tepat disaat itu, Riyadh dan Zaid tiba di Mansion bersama beberapa anak buahnya, yang siap membawa Ismika kembali ke negara asal mereka untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Salah seorang Bodyguard menyambut Zaid dan Riyadh kemudian menuntun mereka menuju ruang utama, dimana Tuan Marcello sudah menunggu kedatangan mereka.
Dari kejauhan, Riyadh memperhatikan Dian yang masih shok. Ia bersyukur karena Dian baik-baik saja. Namun, ia juga sedih akibat perbuatan nekat Ismika, Assisten Joe jadi celaka.
"Marcello," sapa Riyadh sembari mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
Marcello menyambut uluran tangan Riyadh kemudian kedua sahabat itupun berpelukan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Ismika begitu nekat," ucap Marcello sambil melerai pelukan mereka.
Riyadh menghembuskan napas berat. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya. Ia sendiri tidak menyangka bahwa Ismika bisa melakukan hal senekat itu.
"Maafkan aku, Marcello. Ini semua karena salahku, sekarang keluarga kecilmu pun turut menjadi sasaran wanita itu," sahut Riyadh dengan wajah sendu menatap Marcello.
Marcello menepuk pundak lelaki itu kemudian menatap Dian yang masih duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Riyadh pun turut memperhatikan wanita itu. Perlahan Riyadh menghampiri Dian dan berjongkok tepat di hadapan wanita itu.
"Kamu baik-baik saja, Dian?" tanya Riyadh sembari memperhatikan wajah sendu Dian yang masih tidak ingin melihat ke arahnya.
Sejak pertama masuk ke kediaman mewah Marcello, Zaid tidak bicara sepatah katapun. Apalagi saat ia melihat sosok Dian dan si cantik Marissa. Beribu pertanyaan berputar-putar diatas kepalanya. Apa hubungan Tuan Marcello dengan masa lalu Ayahnya. Hingga akhirnya Riyadh memperkenalkan Dian dan Marissa kepadanya.
"Zaid, kenalkan ini Dian Maharani, wanita yang pernah merawatmu ketika masih bayi," ucap Riyadh kepada Zaid.
"Ini Zaid?" tanya Dian kepada Riyadh.
Riyadh tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, dia Zaid. Putraku yang pernah kamu rawat ketika masih bayi."
Perlahan Dian menghampiri Zaid sambil melemparkan senyuman manisnya. "Kamu tampan sekali, Zaid," ucap Dian sambil memperhatikan wajah tampan pemuda itu.
"Terima kasih, Nyonya Dian," jawab Zaid sembari membalas senyuman wanita itu. Walaupun ini pertemuan pertamanya bersama Dian, entah mengapa ia merasa nyaman dan tenang.
Dian menyentuh wajah Zaid dan jujur ia sangat merindukan pemuda itu. "Aku merindukanmu, Zaid. Walaupun aku tidak memiliki hubungan apapun denganmu, tetapi aku pernah menjadi bagian dari masa kecilmu, dan aku sangat merindukan itu," tutur Dian.
Zaid begitu terharu mendengarnya. Sekarang ia benar-benar yakin bahwa Dian bukanlah wanita jahat seperti yang dituduhkan oleh Ismika.
__ADS_1
"Bolehkan saya memeluk Anda, Nyonya? Hanya Sebentar saja," pinta Zaid.
Dian menganggukkan kepalanya dengan cepat dan segera menghambur ke pelukan pemuda itu.
"Zaid, bukankah kamu ingin bertemu dengan Adik perempuanmu? Kenalkan ini Marissa, adik perempuanmu," ucap Riyadh kepada Zaid, setelah Zaid melerai pelukannya bersama Dian.
Riyadh dan Marissa menghampiri Zaid. Marissa melemparkan senyumannya kepada lelaki itu. Sedangkan Zaid membulatkan matanya dengan sempurna setelah mengetahui bahwa Marissa adalah adiknya.
"Ja-jadi, dia ...?"
"Ya, dia Marissa. Adikmu, istri dari Tuan Marcello, sahabat Papa," jelas Riyadh.
Marissa kembali melemparkan senyum sambil mengulurkan tangannya kepada Zaid. Zaid yang masih shok berat, menyambut uluran tangan Marissa dengan gemetar. Ia memperhatikan wajah cantik Marissa dengan jantung yang berdegub begitu kencang. Ia tidak menyangka bahwa dirinya sudah menyukai Adiknya sendiri.
"Ya Tuhan, bodohnya aku! Bagaimana bisa aku menyukai Adik perempuanku sendiri?" batinnya.
"Bagaimana Zaid, apa Adikmu cantik?" goda Riyadh sambil memperhatikan wajah zaid yang memucat.
"Ya, dia cantik, Pah. Sangat cantik," jawab Zaid sambil tersenyum kecut.
"Kalau dilihat-lihat dengan seksama, aku dan Zaid sepertinya ada kemiripan ya 'kan, Yah?" ucap Marissa kepada Riyadh.
"Tentu saja, bukankah kalian sama-sama anak Ayah?" jawab Riyadh sembari merengkuh tubuh Marissa dan Riyadh secara bersamaan.
...***...
__ADS_1