
"Yang benar saja, menikah?!" gerutu Maria sembari melajukan motor maticnya meninggalkan mansion.
"Lagian Daddy aneh, pengen punya mantu aja ngebet banget. Sampai-sampai semua anaknya dijodoh-jodohin."
Maria terus saja menggerutu sepanjang jalan. Tanpa ia sadari, ternyata di depannya melaju sebuah mobil mewah milik Dylan. Bukan hanya Maria yang tidak menyadari keberadaan mobil tersebut, Dylan pun tidak menyadari keberadaan gadis itu.
"Pak Udin, kemungkinan aku akan pulang bersama Mac sore nanti, jadi Pak Udin tidak perlu menjemputku," ucap Dylan kepada Pak Udin yang begitu fokus pada jalan yang ada di hadapannya.
"Baik, Tuan," sahut Pak Udin.
Maria yang masih kesal dengan keputusan sang Daddy, terus saja bergumam ria. Hingga akhirnya, bibir mungil milik Maria berhenti berkomat-kamit. Setelah ia sadar bahwa ada mobil mewah berwarna hitam pekat milik Dylan yang sedang melaju di depannya.
"Eh, bukankah itu mobil mewah milik Bossnya Om Udin. Itu artinya ada Om Udin di dalam mobil itu. Kejar, ah!" seru Maria sambil tersenyum lebar.
Saking bahagianya, Maria bahkan melupakan rasa kesalnya terhadap keputusan sang Daddy. Dia lupa kalau malam ini lelaki yang ingin melamarnya akan segera berkunjung ke mansion.
Tiinnn ... tiinnn ... ttiinnn ....
Berkali-kali Maria menekan klakson motor maticnya agar mobil mewah tersebut berhenti melaju. Namun, mobil mewah berwarna hitam pekat tersebut terus saja melaju tanpa mempedulikan panggilan dari Maria.
"Siapa, sih?" gumam Dylan sembari menengok ke belakang dan mencari asal suara klakson yang memekikkan telinganya.
"Eh, busyet! Itu Maria," pekiknya sembari menepuk pundak Pak Udin dengan wajah panik.
"Siapa, Pak?" tanya Pak Udin.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan Maria. Gadis yang suara omelannya hampir sama seperti pekikan Nyai Kunti di ponsel Pak Udin," sahut Dylan.
Dengan tergesa-gesa, Dylan melepaskan dasi yang melingkar di lehernya kemudian melepaskan jas serta rompi yang melekat erat di tubuh atletisnya. Dylan meletakkan pakaian kesayangannya itu ke samping tempat duduknya.
Gadis itu semakin gencar melakukan aksinya. Ia bahkan melajukan motornya mendahului mobil yang di kemudian oleh Pak Udin.
"Om Udin, berhenti!" panggil gadis itu sembari melewati mobil milik Dylan.
"Gawat, Pak. Kita ganti posisi, aku takut penyamaranku malah diketahui olehnya."
Dylan merangkak menuju jok depan, di samping kursi kemudi Pak Udin secara perlahan.
"Pak Udin, sebaiknya Bapak ke belakang dan berpura-puralah menjadi Om-nya Tuan Dylan."
"Baik, Tuan."
"Instingku benar, 'kan!" gumam Dylan sembari menggelengkan kepalanya.
Setelah Pak Udin berhasil berpindah ke jok bagian belakang. Dylan duduk di depan kemudi menggantikan posisi Pak Udin. Maria turun dari motornya dan berjalan menghampiri mobil milik Dylan. Sebelum Maria menghampirinya, Dylan lebih dulu menyambangi gadis itu.
"Apa apa lagi, Nona Maria? Saat ini saya benar-benar sedang sibuk," ucap Dylan sembari mengelus tengkuknya, berharap Maria tidak curiga pada gelagatnya dan juga Pak Udin yang sedang duduk di jok belakang mobil mewahnya.
Bukannya menjawab ucapan Dylan, Maria malah mencoba menengok ke dalam mobil milik Dylan. Dylan tentu saja panik kemudian mencegah gadis itu melihat ke dalam mobilnya.
"Eits! Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Dylan yang kini berdiri tepat di depan pintu mobilnya.
__ADS_1
"Aku mau ketemu sama Tuan Dylan. Minggir, Om jangan menghalangi Maria," ucap Maria, mencoba menarik tubuh Dylan dari depan pintu mobil mewah tersebut.
"Ada perlu apa kamu sama Tuan Dylan?"
Dylan meraih tangan Maria yang ingin menggapai gagang pintu mobil kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Aku cuma ingin kenalan, Om. Siapa tahu Tuan Dylan kepincut sama Maria," jawab Maria tanpa peduli bagaimana ekspresi Dylan saat itu.
"Cih, pede sekali. Bukankah sudah pernah kubilang bahwa kamu bukanlah tipe Tuan Dylan, jadi kamu tidak usah berharap yang aneh-aneh kalau tidak ingin kecewa."
"Ayolah, Om Udin. Aku ingin sekali bertemu sama Tuan Dylan. Ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya." Maria mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dylan, tetapi tidak bisa. Lelaki itu menggenggam tangannya dengan begitu erat.
"Katakan saja pertanyaanmu padaku, nanti aku sampaikan pertanyaanmu padanya," jawab Dylan.
"Ish, mana bisa seperti itu?"
"Tentu saja bisa, tidak ada yang tidak bisa buatku," jawab Dylan sambil menyeringai.
"Menyebalkan," gumam Maria.
Maria memutar-mutarkan pergelangan tangannya. Hingga akhirnya Maria bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman Dylan. Dengan secepat kilat, Maria meraih gagang pintu mobil lelaki itu kemudian membuka pintunya. Dylan mencoba menghalanginya, tetapi sayang terlambat. Pintu mobil tersebut sudah terbuka lebar dan Maria sudah melihat siapa yang sedang duduk di jok belakang.
"Itu Tuan Dylan?" tanya Maria sembari membulatkan matanya.
Dylan menahan tawanya. "Sekarang kamu mau apa?"
__ADS_1
"Oh, Tuhan?!" gumam Maria sambil menutup mulutnya dengan tangan.
...***...