
"Kamu sudah siap?" tanya Marcello kepada Marissa.
Marissa menghembuskan napas panjang dan mencoba menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk.
"Ya!"
Perlahan Marcello menuntun Marissa berjalan menuju ruangan pribadinya. Sedangkan Joe dan Dian mengikuti langkah kaki pasangan itu dari belakang.
"Tuan, Joe. Aku benar-benar gugup. Aku takut Marissa tidak bisa menerima Tuan Abraham sebagai Ayahnya." lirih Dian yang berjalan berdampingan dengan Joe.
"Saya rasa tidak mungkin, Nyonya Dian. Sebab Nona Marissa adalah gadis yang baik, dia pasti bisa menerima Tuan Riyadh Abraham sebagai Ayahnya," jawab Joe tanpa menoleh sedikitpun.
Dian sempat menatap Joe sekilas, setelah itu ia kembali fokus ke depan. "Semoga saja,"
Setibanya di ruang pribadi Marcello, seorang Bodyguard sudah menunggu kedatangan mereka. Lelaki bertubuh besar itu segera membukakan pintu ruangan itu untuk Marcello dan Marissa.
Marissa memegang dadanya karena napasnya terasa sesak dan jantungnya pun berdetak semakin kencang. Ternyata Marcello begitu memperhatikan istrinya, ia bahkan tahu bahwa Marissa sedang gugup sekarang.
"Kamu gugup?" tanya Marcello sambil tersenyum tipis.
"Ya, aku sangat gugup," jawabnya.
Marissa mengedarkan pandangannya dan ia melihat seorang laki-laki berjas hitam sedang berdiri didepan jendela ruangan pribadi Marcello. Lelaki itu berdiri membelakangi mereka dan Marissa sepertinya mengenali pria itu dari tatanan rambut serta perawakannya.
Kedatangan Marcello dan Marissa di ruangan itu membuat Riyadh terperanjat dan sadar dari lamunannya. Ia berbalik dan memperhatikan wajah Marissa, Marcello, Joe dan yang terakhir, Dian. Ketika ia menatap Dian, dia sempat memberikan senyumannya untuk wanita itu, tetapi sayangnya Dian tidak berkeinginan untuk membalasnya.
"Marcello, maafkan aku yang sudah mengganggu kenyamanan kalian," ucap Riyadh sembari mengulurkan tangannya kepada Marcello.
__ADS_1
"Tidak apa. Mari, silakan duduk."
Marcello mengajak Riyadh untuk duduk disalah satu sofa dan disusul oleh yang lainnya. Hanya Joe yang duduk jauh di sudut, sambil memperhatikan keadaan.
"Bukannya itu Tuan Riyadh, Sahabatmu? Buat apa dia disini? Dan dimana Ayahku,"
Tiba-tiba saja mata Marissa membulat dan tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang ikut terbuka lebar. Ia mencengkeram lengan kekar Marcello yang duduk di sampingnya sambil berbisik kepada lelaki itu.
"Jangan katakan bahwa Tuan Riyadh adalah Ayahku, ya?!"
Mata Marissa tajam menohok menatap Marcello, sedangkan lelaki itu malah terkekeh pelan melihat ekspresi Istrinya.
"Kita dengarkan saja penjelasan mereka," jawab Marcello sembari mengelus pipi Marissa.
"Jadi, itu benar? Tuan Riyadh--"
"Shhhttt, dengarkan penjelasan mereka," ucapnya lagi.
Marissa pun akhirnya diam dan memperhatikan Riyadh dengan seksama. Lelaki itu tersenyum kepadanya ketika ia membalas tatapan Marissa. Setelah Marissa perhatikan, ia mulai sadar bahwa mata, hidung dan bentuk alis lelaki itu persis seperti dirinya. "Ya, Tuhan!" gumamnya.
"Marcello, alasanku datang kesini adalah untuk--" Riyadh terdiam dan netranya kini tertuju pada Dian yang sedang duduk disamping Marissa. Dian yang tadinya terus memperhatikan lelaki itu, akhirnya membuang muka. Ia masih belum siap bertemu dengan lelaki itu apalagi harus berhadapan seperti sekarang.
"Ya, aku tahu. Dan aku sangat yakin, ada ribuan pertanyaan di kepalamu tentang siapa Marissa, bukan?"
Riyadh menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia memang ingin menanyakan soal itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara memulainya. Ia merasa beruntung, tanpa menjelaskan panjang lebar, ternyata Marcello sudah mengerti.
"Ya, Marcello."
__ADS_1
"Tapi kurasa, aku tidak berhak menceritakan siapa Marissa kepadamu. Yang berhak menceritakan semuanya adalah Bu Dian. Benarkan Bu Dian?"
Glekkk ...
Dian menelan salivanya dengan susah payah ketika Marcello meliriknya dengan mata elang itu. Dian kembali gugup dan tangannya mengeluarkan keringat dingin. Wanita itu mulai memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, termasuk anaknya, Marissa yang masih memasang wajah bingung dan butuh penjelasan darinya.
"Marissa adalah anakku. Hasil dari perbuatanmu malam itu kepadaku," ucap Dian singkat.
Dian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat dan terdengar isak tangisnya menderu-deru.
Riyadh membulatkan matanya setelah mendengar pengakuan Dian. Ternyata apa yang ada dipikirkannya adalah benar. Marissa adalah Anaknya bersama wanita itu.
Sedangkan Marissa segera memeluk tubuh Marcello dengan erat. "Ternyata itu benar, Tuan Riyadh adalah Ayahku?"
Terdengar suara pelan Marissa dari dalam dekapan Marcello. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sembari melabuhkan ciuman di puncak kepala Marissa. "Ya, dia Ayahmu, Cha."
Riyadh yang masih shok bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Dian yang masih sesenggukan ditempat duduknya. Riyadh berjongkok tepat dihadapan Dian dan meraih kedua lengan wanita itu hingga terlihat jelas mata sembab Dian.
"Kenapa kamu menyembunyikan hal sepenting ini dariku, Dian? Bukankah kamu tahu bahwa aku bersedia mempertanggung jawabkan kesalahanku di malam naas itu? Aku bahkan seperti orang gila mencari keberadaanmu. Hidupku tidak tenang semanjak kamu menghilang, aku seperti dikejar oleh dosa-dosaku sendiri, Dian,"
Dian menarik tangannya dari genggaman Riyadh. Ia menyeka air matanya kemudian membalas tatapan lelaki itu.
"Sekarang Anda sudah tahu semua kebenarannya, Tuan Riyadh. Dan saya harap Anda tidak lagi mengganggu kehidupan saya dan Marissa," ketusnya.
Riyadh menautkan kedua alisnya sambil terus menatap netra sembab milik Dian. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Dian?"
"Saya tidak ingin masuk ke kehidupan Anda, Tuan Riyadh. Biarkan saya bahagia bersama Marissa disini dan Anda, kembalilah bersama Nyonya Ismika dan Zaid."
__ADS_1
...***...