
Marissa keluar dari kamar Sofia dengan membawa serta Shakila bersamanya. Ia mengajak bayi mungil itu berkumpul bersama kedua jagoannya di ruang utama.
"Marvel, Melvin, Mommy bawa siapa ini?!" seru Marissa.
"Dede Kila!" seru Melvin sembari menghampiri bayi mungil itu. "Boleh Melvin tium Dede Kila, Mom?" tanyanya.
"Boleh, tapi ciumnya jangan serakah! Nanti Dede Kila-nya nangis," sahut Marissa.
Melvin pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Mom."
Bukan Melvin namanya jika mencium bayi mungil itu cuma sekali-dua kali. Bocah tampan itu seakan candu dan tidak bisa berhenti menciumi pipi mungil tersebut. Marvel yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan kelakuan kembarannya itu, akhirnya merasa kesal.
Ia menarik baju yang dikenakan oleh Melvin dengan keras hingga membuat Melvin terjatuh ke belakang. Melvin menjerit karena kesal. Ia menangis kemudian mengejar Marvel dan terjadilah perkelahian antara kedua bocah itu.
Marissa yang masih menggendong Shakila tidak berdaya dan tidak sanggup melerai keduanya. Apalagi Shakila ikut-ikutan menjerit setelah mendengar suara tangisan Melvin.
"Aaakhhh!!! Mbakkk!!!" jerit Marissa yang akhirnya menyerah dan meminta bantuan kepada kedua Babysitternya.
Setelah kedua Babysitter berhasil melerai pergelutan kedua jagoan itu, Marissa segera menjatuhkan dirinya ke sofa bersama Shakila yang masih dalam pelukannya.
"Wah, pantas saja Tuhan belum percaya memberikan bayi lagi kepadaku kalau begini keadaannya. Huft!" keluh Marissa.
Kedua Babysitter itu hanya bisa tersenyum mendengar keluhan majikannya tersebut.
Sementara itu di kamar Sofia.
"Ah, ini gara-gara Nona Marissa bahas masalah brondong. Sekarang aku malah jadi kepengen makan buah kedondong, 'kan. Mana ini bukan musimnya lagi," gumam Sofia sembari meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Sofia mencari nomor ponsel suaminya di dalam daftar kontak kemudian menghubunginya. Saat itu Joe masih disibukkan dengan pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
Drrett ...drrett ....
Joe melirik layar ponselnya, yang memang berada tak jauh dari tubuhnya. Tertera nama Sofia disana dan Joe pun segera menerima panggilan tersebut.
"Ya, Sayang?"
__ADS_1
"Mas, aku ingin makan buah kedondong."
"Hah, kedondong?" pekik Joe sambil menautkan kedua alisnya.
"Ya, gara-gara tadi kami bahas masalah brondong, aku jadi kepengen makan buah kedondong, Mas," jawab Sofia.
"Brondong? Kedondong? Kamu itu bicara apa sih, Sofia? Aku tidak menegerti."
"Ah, itu. Tadi pagi Nona Marissa menjengukku dan kami bahas soal berondong jagung dan buah kedondong juga. Dan sekarang aku pengen makan buah kedondong, Mas. Cariin, ya? Mas gak mau 'kan nanti Dedenya ileran?"
"Tuh 'kan aku belajar bohong lagi!" batin Sofia sambil menggaruk kepalanya.
Joe pun menggaruk kepalanya heran. "Kenapa mereka membahas masalah yang tidak penting seperti itu ya? Kurang kerjaan," gumamnya.
"Mas?!"
"Ya, aku dengar. Nanti aku belikan kamu buah itu. Sudah dulu ya, Sayang. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku," sahut Joe.
"Baiklah, semoga buahnya ketemu ya, Mas."
Setelah Sofia memutuskan panggilannya, Joe pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak terasa, sore pun menjelang. Marcello dan Joe sudah berada di dalam mobil dan bersiap melaju di jalan raya.
"Tuan Marcello, bolehkah mampir ke toko buah sebentar? Sofia ingin minta dibelikan sesuatu," ucap Joe.
"Ya, tentu saja."
Joe menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko buah. Ia keluar dari dalam mobil kemudian menghampiri sang penjual.
"Pak, aku butuh buah kedondong. Apa Bapak menjualnya?"
"Maafkan saya, Tuan. Tapi untuk sekarang saya tidak menjual buah itu," jawab Penjual buah tersebut.
"Kenapa?" tanya Joe sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Karena sekarang ini belum musimnya, Tuan. Kalau daunnya banyak," sahut penjual buah tersebut sambil bercanda kepada Joe.
Joe menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, sudah kalau begitu. Terima kasih," ucap Joe sembari kembali ke mobil dengan wajah menekuk. Marcello memperhatikan ekspresi wajah joe saat itu dan ia penasaran kenapa lelaki itu terlihat nampak kesal.
"Kamu kenapa, Joe?"
"Penjual buah itu menyebalkan. Saya ingin membeli buah kedondong, malah ditawari daun kedondong sama dia," sahut Joe sembari melajukan mobilnya kembali.
Marcello terkekeh pelan. "Kedondong? Apa Sofia ingin makan buah kedondong?"
"Ya, dan kata penjual buah tersebut saat ini bukanlah musimnya. Kalau daunnya banyak," jawab Joe.
Marcello tergelak. "Beli saja daunnya biar nanti kamu di gempur sama si Bumil."
Ketika di perjalanan pulang, Joe melihat penjual berondong jagung kemudian membelinya satu.
"Ya, sudah. Tidak ada akar, rotan pun jadi. Tidak ada kedondong, berondong jagung pun jadi!" gumamnya sambil tersenyum puas membawa berondong jagung tersebut bersamanya.
Setibanya di mansion, Joe bergegas menuju kamarnya. Ia ingin segera menemui Sofia yang masih beristirahat di kamar.
"Sofia," sapa Joe ketika membuka pintu kamarnya.
"Mas."
Sofia melemparkan sebuah senyuman hangat dan dengan wajah penuh harap menatap Joe. Berharap lelaki itu benar-benar membawakan pesanannya. Joe menghampiri tempat tidur kemudian duduk di samping tubuh Sofia.
"Ini pesananmu," ucap Joe sembari menyerahkan sebungkus berondong jagung kepada Sofia.
"Loh, kok berondong jagung? Kedondongnya mana, Mas?" tanya Sofia dengan wajah heran menatap Joe yang nampak tenang tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tidak ada kedondong, yang ada cuma berondong jagung. Bukankah kalian membahas kedua makanan itu? Jadi ya, tidak ada kedondong, berondong jagung pun jadi," jawabnya tanpa beban.
"Mas!"
Sofia membuka bungkusan berondong jagung tersebut sambil menekuk wajahnya kemudian memakannya dengan wajah kesal.
__ADS_1
...***...