Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 71


__ADS_3

Akhirnya Marcello tiba di kantor Polisi pada saat Marissa masih di mintai keterangan tentang cincin itu. Marcello mencoba masuk, tetapi di tahan oleh para Polisi yang berjaga di tempat itu.


Ia memperhatikan Marissa dari kejauhan dan nampaknya Marissa pun mengakui semua perbuatannya. Marcello semakin panik, ia menghampiri Joe dan mengajak lelaki itu untuk menemui Sarrah.


"Sepertinya tidak ada cara lain, Joe. Kita harus menemui Sarrah dan meminta wanita itu mencabut tuntutannya terhadap Marissa."


Marcello kembali masuk kedalam mobilnya dan memerintahkan Joe untuk melajukan mobilnya ke Apartemen Sarrah. Tidak butuh waktu lama, Marcello tiba di Apartemen tersebut bersama Joe yang terus mengikutinya dari belakang.


Tok ... tok ... tok ...


"Ya, sebentar!" Terdengar suara lembut Sarrah dari dalam ruangan dan beberapa detik berikutnya, wanita itupun segera membuka pintu kamarnya.


"Marcello? Sayang!" Sarrah semringah.


Ia segera memeluk tubuh kekar itu dengan hati berbunga-bunga. Ia tidak percaya, akhirnya lelaki itu datang lagi padanya.


"Masuklah," ajak Sarrah.


Wanita itu menuntun Marcello memasuki Apartemennya. Ia mendudukkan lelaki itu di sebuah sofa empuk yang terletak tak jauh dari pintu utama.


"Mau minum apa, Sayang? Teh, kopi, susu atau,"


"Aku datang ke sini bukan karena ingin meminta minum padamu, Sarrah. Aku hanya ingin kamu segera mencabut tuntutan itu dan bebaskan Marissa," tegasnya.


Sarrah tersenyum kecut mendengar permintaan lelaki itu. Ia kira Marcello ingin mengajaknya kembali bersama, ternyata ia salah. Lelaki itu hanya menginginkan dirinya mencabut tuntutan dan membebaskan Marissa.


"Heh, kamu kira semudah itu memintaku mencabut tuntutan itu, Marcello?"

__ADS_1


Sarrah tersenyum sinis sambil menyilangkan tangannya ke dada. Marcello yang tadinya masih sabar menghadapi sikap wanita itu, kini malah terpancing emosi. Wajahnya memerah ketika menatap wanita itu.


"Jangan main-main denganku, Sarrah. Bukankah kamu sudah tahu bagaimana sifatku, jika aku sudah marah?!"


Bukannya takut, Sarrah seakan merasa tertantang untuk membuktikan apakah lelaki itu bisa marah kepadanya. "Benarkah? Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak mau mencabut tuntutanku?" ucapnya sambil menyeringai licik.


Marcello meraih ponsel milik Joe dan memperlihatkan video mesumm yang dilakukan oleh Sarrah dan mantan Produsernya.


"Aku ingin tahu sejauh mana kamu berani menampakkan wajahmu didepan khalayak umum, jika video ini menyebar keseluruh penjuru dunia. Ini mudah Sarrah, tinggal ku klik 'Share' maka video ini otomatis akan tersebar dengan sangat cepat."


Wajah Sarrah memucat, ia tidak menyangka bahwa Marcello masih menyimpan video itu. Sarrah terdiam sambil memikirkan nasibnya jika seandainya video itu benar-benar tersebar keseluruh penjuru dunia.


"Bagaimana, Sarrah? Kamu pilih bebaskan istriku atau video mesum ini menyebar?" ucap Marcello sambil menyeringai licik.


Sarrah membulatkan matanya ketika mendengar Marcello menyebut Marissa dengan sebutan 'Istri'.


"Ya, sekarang Marissa adalah istriku. Aku dan Marissa sudah menikah walaupun aku belum mengumumkannya secara resmi. Dan kamu tenang saja, Sarrah. Undangan pernikahan megah kami pasti akan mendarat di tanganmu."


Detak jantung Sarrah berpacu dengan cepat, dadanya pun terasa nyeri setelah mendengar penuturan lelaki itu.


"Kamu tega, Marcello! Aku yakin, kalian selama ini memang berselingkuh 'kan di belakangku? Kalian sengaja menyingkirkan aku agar kalian bisa bersatu. Dasar licik!!!" hardiknya dengan air mata yang kini mengucur dari kedua sudut matanya.


Marcello hanya membalas hardikan wanita itu dengan senyuman manis khasnya. "Lakukanlah saja apa yang aku perintahkan jika tidak ingin video mesum'mu tersebar," ucap Marcello sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


"Kalian licik! Kalian memang cocok karena kalian sama-sama licik!" teriak Sarrah dengan emosi yang meluap-luap.


Ia menghamburkan barang-barang miliknya dan juga melemparkannya ke sembarang arah.

__ADS_1


"Bagaimana, Tuan? Apa semuanya sudah beres?" tanya Joe ketika Marcello keluar dari kamar Sarrah.


"Tentu saja, Marissa akan bebas setelah ini."


Dengan wajah semringah, Marcello melangkah kakinya keluar dari Apartemen. Ia lega, karena sebentar lagi gadis kecilnya akan segera bebas dari tuntutan Sarrah dan mereka akan kembali bersama-sama lagi.


"Aku akan menjemputmu, Cha dan kita bisa memulai hidup baru," gumamnya.


. . .


Marcello kembali ke Kantor Polisi dimana Marissa masih ditahan ditempat itu. Ia menemui gadis itu dan mengajaknya bicara.


"Cha, kamu tenang saja, ya. Sebentar lagi mereka pasti akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Marcello sambil menggenggam tangan Marissa. Gadis itu berada di ruangan yang berbeda dengannya, antara dirinya dan Marissa ada deretan besi-besi yang berjejer menghalangi kebersamaan mereka.


"Apa itu benar, Tuan Marcello?" Wajah Marissa sendu, ia tidak yakin dengan ucapan lelaki itu.


"Tapi, Aku sudah mengakui semuanya. Mulai dari memalsukan cincin itu hingga menyembunyikan cincin yang asli kedalam lemari pakaianku," sambung Marissa.


"Percayalah pada Daddy, Cha."


Tepat disaat itu Sarrah tiba. Ia segera masuk ke ruangan itu dan mencabut laporannya.


"Selamat, Tuan Marcello! Anda berhasil mengalahkan saya! Dan saya doakan semoga kalian bahagia!" ucap Sarrah. Wajahnya terlihat menekuk ketika mengatakan hal itu.


"Terima kasih, Sarrah. Dan jangan lupa untuk hadir di acara pernikahan kami nanti," sahut Marcello sambil tersenyum lebar.


Sarrah mendengus kesal, ia bergegas keluar dari ruangan itu dan kembali ke Apartemennya. Begitupula Marcello dan Marissa, mereka segera kembali ke Mansion mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2