
"Walaupun saat ini dia masih menolakku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan buat dia jatuh cinta padaku hingga bertekuk lutut," ucapnya dengan wajah terangkat.
Dylan hanya bisa tersenyum melihat Aidan yang begitu percaya diri. Disaat yang bersamaan, tiba-tiba mata Aidan tertuju pada gelang pemberian Maria yang masih melingkar di pergelangan tangan Dylan. Lelaki itu meraih tangan Dylan kemudian tergelak.
"Astaga, Dylan? Sejak kapan kamu menyukai benda alay bin lebay seperti ini, hah? Lihat, Mac! Apa yang sudah terjadi dengan Bossmu ini," ucap Aidan yang masih tergelak.
Mac sempat menoleh kepada dua sahabat yang sedang bercanda gurau di ruangan itu sambil tersenyum. Aidan mencoba melepaskan gelang itu dari tangan Dylan, tetapi dengan cepat Dylan menarik tangannya kembali.
"Jangan! Mungkin memang benar jika benda ini terlihat sangat kekanak-kanakan. Namun, dia sangat istimewa bagiku," jelas Dylan sembari membenarkan posisi gelangnya yang hampir saja di lepaskan oleh Aidan.
Aidan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut. "Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa gelang itu sangat istimewa buatmu. Ngomong-ngomong, gelang itu dari siapa? Kekasihmu?"
"Mungkin untuk sekarang dia bukan siapa-siapaku. Dia hanya gadis pengganggu yang suka menggangu pekerjaanku. Namun, aku pastikan tidak lama lagi dia akan menjadi seseorang yang spesial dalam hidupku," lanjut Dylan sambil tersenyum.
"Cie ... cie ..." goda Aidan.
Aidan melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sepertinya aku harus pergi, Dylan. Soalnya aku sudah terlalu lama berada disini. Apa kamu tahu, aku kesini sejak tadi pagi."
"Maaf, aku kesiangan. Tadi malam aku begadang karena--" ucapan Dylan tertahan karena ia tidak ingin menceritakan tentang Kakaknya kepada siapapun, termasuk Aidan.
"Karena apa? Pasti karen telponan dengan gadis itu hingga larut malam, 'kan?" goda Aidan.
Dylan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Ya, bisa jadi."
"Ya sudah, aku pulang dulu. Aku ingin menemui gadis itu dan mengajaknya Pedekate," ucap Aidan sembari menepuk pundak Dylan.
__ADS_1
"Semangat, aku mendukungmu!" sahut Dylan sembari melangkah bersama Aidan dan mengantarkan sahabatnya itu hingga depan pintu ruangan.
Aidan pun pamit kepada Dylan dan juga Mita, Sekretaris cantik yang bekerja di perusahaan Dylan.
"Hai, Mita. Kamu semakin cantik saja!" Aidan mengedipkan sebelah matanya kepada Mita, hingga membuat wanita itu tersipu malu. Aidan meneruskan langkahnya hingga menghilang dari pandangan Dylan.
"Dia memang tampan, Mita. Tapi, percayalah dia adalah seorang playboy," ucap Dylan sambil terkekeh kepada Mita.
"Ya, Tuan. Saya tahu," jawab Mita.
Dylan kembali ke ruangannya kemudian melanjutkan pekerjaan yang lagi-lagi tertunda.
Sementara itu.
Aidan melajukan mobilnya menuju sekolah Maria. Kedatangan Aidan disana ternyata bertepatan dengan berakhirnya jam pelajaran di sekolah itu. Para siswa dan siswi bersiap pulang ke kediaman mereka masing-masing, termasuk Maria.
Tidak sulit menemukan Maria di antara banyaknya siswi-siswi cantik di sekolah itu. Yang pasti gadis itu terlihat lebih menonjol dari pada yang lain. Selain wajahnya yang cantik dan menggemaskan, tubuhnya yang padat berisi sama seperti Mommy Icha, membuat ia sangat mudah dikenali.
Aidan berdiri di depan gerbang sekolah Maria dengan mobil sport limited edition miliknya. Ia bersandar di depan mobil tersebut sambil menunggu kedatangan Maria.
Keberadaan Aidan di sekolah itu membuat para siswi menjadi heboh. Tidak sedikit dari mereka yang ingin mengajak Aidan berkenalan. Mereka bahkan meminta berfoto selfi bersama Aidan di depan mobil mewahnya.
Setelah memasang helm dan jaket, Maria mulai melajukan scooter matic kesayangannya. Maria bingung melihat kehebohan yang sedang terjadi di depan gerbang sekolahnya. Ia berhenti disana kemudian melepaskan helm kesayangannya. Setelah mengamalkan helm kesayangannya, Maria mulai mengintip dari sela-sela kerumunan siswi tersebut.
Maria melihat 'Trio Judes' yang sedang berfoto selfi bersama seorang lelaki tampan di depan sebuah mobil sport limited edition yang harganya bikin geleng-geleng kepala.
Pada awalnya Maria tidak mempedulikan siapa lelaki itu. Namun, setelah ia perhatikan dengan seksama, Maria pun membulatkan matanya.
__ADS_1
"Tuan Aidan!" pekik Maria.
Sontak saja, Aidan dan semua siswi yang sedang mengerumuni lelaki itu menoleh kepada Maria.
"Maria?!"
Aidan tersenyum kemudian menghampiri gadis itu. Semua siswi bubar dengan raut wajah kecewa, terlebih Trio Judes. Ketiga gadis itu menekuk wajah mereka sambil menggerutu kesal, karena ternyata lelaki keren itu adalah kenalan Maria.
"Sedang apa Tuan disini?" tanya Maria kebingungan.
"Aku ingin menjemputmu. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, Maria. Boleh, 'kan?"
Maria nampak berpikir keras. Sebenarnya, hari ini Maria berencana ingin mengganggu Om Udin kesayangannya lagi, tetapi malah dirinya yang diganggu oleh Aidan.
"Mari," ajak Aidan sembari membukakan pintu mobil sportnya.
"Sebenarnya Tuan mau mengajakku kemana?"
"Hanya jalan-jalan dan kamu tidak perlu khawatir karena aku sudah meminta izin kepada Daddymu."
Maria menatap Aidan dengan tatapan penuh selidik. Ia masih tidak percaya dengan ucapan lelaki itu.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menghubungi Daddymu," lanjut Aidan.
"Aku bersedia jalan bersama Tuan, tetapi dengan menggunakan motorku, bagaimana?" tantang Maria.
Aidan melirik motor matic berwarna pink dengan motif Hello Kitty tersebut sambil mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku menaiki motor itu? Yang benar saja!" gumam Aidan sambil menyilangkan tangan ke dada.
...***...