Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 146


__ADS_3

Sore menjelang.


Joe dan Marcello akhirnya kembali ke mansion. Setelah Marcello naik ke kamar utama, Joe memilih kembali ke kamarnya. Wajahnya masam karena terus memikirkan masalah dinner mendadaknya malam ini bersama Sofia.


Joe menuju kamar mandi kemudian bediri di depan cermin. Ia memperhatikan bayangannya di cermin dengan seksama dan Joe pun mulai menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya.


"Lihatlah aku, usiaku sudah kepala empat. Rambut putihpun sudah mulai tumbuh di kepala dan area wajahku. Apa masih pantas aku berpacaran dengan seorang gadis yang baru berusia 20 tahun? Usianya saja separoh dari usiaku," gumamnya.


Perlahan Joe melepaskan pakaiannya satu persatu hingga kini terlihatlah otot-otot tubuhnya yang menonjol-nonjol. Ia memamerkan otot-ototnya dengan berbagai gaya di depan cermin dan ia kembali tersenyum.


"Tapi-- sepertinya aku masih tampan. Ya, masih bisa bersaing dengan anak muda," gumamnya lagi.


Sementara Joe masih mengagumi bayangannya, Marissa tengah sibuk mempersiapkan penampilan Sofia untuk malam ini. Marcello bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat Marissa.


"Cha, yang dinner mereka, kenapa kamu yang sibuk?"


"Sudah, Daddy tidak akan mengerti. Sebaiknya cukup lihat tanpa perlu berkomentar," jawab Marissa.


"Ya, sudah. Terserah kamu saja, yang penting kamu senang."


Marcello kembali kamar utama kemudian menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya di sana.


"Pokoknya dia harus berubah dan buat semua orang terpesona ketika melihatnya, terutama lelaki dingin itu," ucap Marissa kepada MUA yang sedang me-make over Sofia.


"Sippp, Nona! Nona tenang saja," sahut MUA tersebut sambil tersenyum hangat padanya.


"Huft!"

__ADS_1


Marissa menjatuhkan dirinya di sebuah sofa yang letaknya tak jauh dari meja rias, dimana Sofia masih di rias oleh sang ahli. Marissa terus memperhatikan penampilan Sofia yang perlahan-lahan berubah.


Gadis manis itu kini berubah menjadi gadis yang cantik dan anggun. Apalagi setelah ia mengenakan dress cantik yang tadi Marissa berikan.


"Selesai!" seru sang MUA sembari membantu Sofia bangkit dari tempat duduknya dan memperlihatkan kecantikan gadis itu di hadapan Marissa.


"Huwahhh!!!"


Marissa tertawa puas karena Make Over-nya benar-benar berhasil. Marissa bahkan menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


"Ya Tuhan, Sofia! Kamu cantik sekali!" seru Marissa sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Sofia dan memeluk tubuh gadis itu.


"Terima kasih, Nona." Mata Sofia kembali berkaca-kaca.


"Hush! Jangan menangis lagi! Walaupun tidak akan melunturkan make-up'mu, kamu tetap tidak boleh menangis, paham?!"


Marissa menuntun Sofia menuju ruang utama dan mendudukkan gadis itu disana. Tepat disaat itu, Marcello juga berada disana. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat perubahan Sofia.


"Wah, kalau sampai Joe masih menolak, berarti Joe benar-benar sudah tidak normal!" seru Marcello sembari menghampiri Marissa.


"Kamu benar, tapi-- aku tak kalah cantik 'kan, Suamiku?" tanya Marissa sambil menautkan kedua tangannya ke tengkuk Marcello.


"Kamu itu Ratuku, Marissa sayang! Tak akan ada yang mampu mengalahkan kecantikanmu," jawab Marcello yang kemudian melumatt bibir seksi yang begitu menggodanya sejak tadi.


Marissa melepaskan ciuman lelaki itu sambil terkekeh pelan. "Disini ada Sofia, Dad. Apa kamu tidak malu melakukan hal itu di hadapannya? Dia masih suci dan jangan nodai matanya dengan melihat aksi nakalmu itu," ucap Marissa.


"Tidak masalah, hitung-hitung mengajari Sofia bagaimana melakukan ciuman dengan baik dan benar," jawab Marcello sambil tergelak.

__ADS_1


"Ish, dasar!"


Sofia hanya bisa tersenyum kecut kemudian menundukkan kepalanya menghadap lantai. Ia tidak ingin matanya kembali ternodai dengan melihat adegan mesra dari pasangan itu.


Sementara itu di kamar Assisten Joe.


"Sial! Ini sudah setelan yang ke-8, kenapa masih terlihat tidak cocok di tubuhku?" gumamnya sambil memperhatikan bayangannya di cermin.


Joe menepuk jidatnya sendiri. Ia teringat dimana Marcello juga pernah terlihat bodoh sama seperti dirinya. Dimana lelaki itu menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandangi deretan pakaian mahal di dalam ruangan pakaiannya. Malangnya, hal itu akhirnya terjadi kepadanya.


"Ya, Tuhan! Sepertinya karma itu benar-benar berlaku padaku. Kemarin aku begitu bahagia menertawakan Tuan Marcello dan sekarang aku berada di posisinya."


"Tapi, benar! Setelan jas ini memang terlihat jelek si tubuhku? Atau memang tubuhku yang sudah mulai jelek?" gumam Joe.


Jika dulu Marcello punya seseorang (Joe) yang bisa memecahkan masalah peliknya, tetapi tidak untuk Joe sendiri. Ia tidak memiliki sesiapapun untuk di mintai pendapat dan sekarang ia benar-benar sedang kebingungan.


"Ya, sudahlah! Pasrah saja."


Joe meraih ponsel di atas nakas kemudian menyimpannya ke dalam saku celana. Setelah itu ia pun bergegas menuju ruang utama, dimana Marcello, Marissa dan sofia sudah menunggunya.


Dari kejauhan, Joe memperhatikan gadis cantik menggunakan dress hitam. Gadis itu duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan pasangan itu, tidak hentinya melakukan aksi konyol yang membuat hasrat bangkit.


Tubuh Joe kembali panas dingin. Berkali-kali lelaki itu menghembuskan napas panjang supaya tubuhnya sedikit lebih rileks. Apalagi saat ia sudah berdiri di hadapan Sofia, gadis itu bahkan belum membalas tatapan matanya, tetapi nyalinya sudah menciut.


"Karma oh karma! Kenapa kamu menghampiriku?!" batin Joe sambil mengusap tengkuknya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2