
Dua tahun kemudian.
Marissa terisak di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah test pack. Marcello yang sudah lama menunggu di kamarnya, merasa cemas karena Sang Istri tak juga kelihatan batang hidungnya.
"Icha lagi ngapain, sih? Sudah hampir satu jam dia berada di kamar mandi dan sampai sekarang belum juga keluar," gumam Marcello sembari melirik jam tangan mewahnya.
Karena tak kunjung keluar dari ruangan tersebut, akhirnya Marcello memutuskan untuk menyusul wanita cantik itu ke dalam kamar mandi.
"Cha?"
Perlahan Marcello membuka pintu ruangan tersebut dan mencari keberadaan sosok cantik itu. Mata Marcello menyapu bersih ruangan itu hingga akhirnya ia menemukan Marissa sedang bersandar di dinding kamar mandi sambil memeluk lututnya.
Marcello segera menghampiri Marissa kemudian memeluknya. Marcello panik apalagi ia mendengar wanita penguasa hatinya itu sedang terisak.
"Cha, kamu kenapa?" tanya Marcello dengan wajah cemas.
Marissa mengangkat kepalanya kemudian memeluk tubuh Marcello dengan erat. Tangisnya semakin pecah dan membuat jas yang dikenakan oleh Marcello saat itu menjadi basah karena lelehan air mata yang terus keluar dari kedua sudut mata Marissa.
"Daddy, aku sedih," ucap Marissa di sela isak tangisnya.
"Sedih kenapa lagi?" tanya Marcello sambil mengelus puncak kepala Marissa.
"Lihat ini, Dad."
Marissa memperlihatkan benda kecil yang sedang ia pegang kepada Marcello. Marcello meraihnya dan ia tahu bahwa benda itu adalah alat test kehamilan. Namun, sayangnya Marcello tidak tahu arti dari satu garis merah yang tertera di benda kecil tersebut.
__ADS_1
"Apa artinya ini?"
"Itu artinya Icha masih belum isi, Dad."
Marcello bingung antara sedih dan ingin tertawa melihat ekspresi Marissa saat itu. Ia merasa lucu karena saking inginnya memiliki seorang bayi lagi, Marissa sampai menangis histeris seperti itu.
"Oh ayolah, Cha. Mungkin ini belum saatnya untuk kita, Sabarlah," ucap Marcello mencoba menenangkannya. Ia menyeka air mata Marissa kemudian membantu wanita itu bangkit dari posisinya.
"Tapi kita sudah melakukan semua saran yang diberikan oleh Dokter, tapi sampai sekarang aku tidak juga hamil, Dad?"
Ya, Marissa dan Marcello sudah sering konsultasi kepada Dokter. Bahkan ia juga sempat berencana melakukan prosedur bayi tabung, tetapi Marcello menolak. Alasannya karena keadaan mereka berdua baik-baik saja. Hanya saja Tuhan belum siap memberikan mereka momongan lagi.
"Mungkin belum rejeki kita, Cha. Lagipula apa yang kamu khawatirkan? Kita sudah punya dua jagoan tampan yang suka mengganggu hari-harimu dan aku juga tidak menuntut untuk punya anak lagi, 'kan?" tutur Marcello.
Marcello menuntun Marissa keluar dari kamar mandi dan membawanya ke tempat tidur. Ia mendudukkan Marissa disana kemudian ia pun ikut duduk di samping wanita itu.
"Lah, Shakila 'kan ada. Bahkan gadis mungil itu setiap hari menghabiskan waktunya di mansion ini bersama denganmu," jawab Marcello.
"Tapi tetap saja, Shakila milik Om Joe dan Sofia, Dad."
"Sudah-sudah jangan bersedih lagi." Marcello memegang kedua pipi Marissa kemudian menatapnya lekat. "aku ingin berangkat kerja, Cha. Berhentilah menangis dan berjanjilah padaku jangan menagis lagi," lanjut Marcello.
Perlahan Marissa menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
"Janji?!"
__ADS_1
Marcello mengulurkan jari kelingkingnya kepada Marissa kemudian Marissa pun menyambutnya dengan melingkarkan jari kelingkingnya di sana.
"Janji," lirih Marissa.
Setelah itu lelaki itupun segera bangkit dan mengajak Marissa keluar dari kamar utama menuju halaman depan mansion. Ternyata Joe sudah menunggu kedatangan Marcello saat itu. Joe bahkan sudah berkali-kali melirik jam tangan mewah yang melingkar di lengannya.
"Hah, akhirnya mereka muncul juga!" gumam Joe sambil memperhatikan pasangan itu. "Tumben Tuan Marcello telat, apa ada sesuatu yang sedang terjadi?" batin Joe.
Setelah Marcello mendekat, Joe pun segera membuka pintu mobilnya.
"Selamat pagi, Tuan.
"Selamat pagi juga, Joe."
Setelah Marcello pamit dan pergi bersama Joe ke kantor. Marissa berniat kembali ke mansion, tetapi baru saja ia melangkah masuk, tiba-tiba dari belakang seorang gadis kecil memeluknya sambil menangis.
"Shakila? Kenapa sayang?"
Marissa meraih Shakila dan menggendongnya. Tidak berselang lama Babysitter yang merawat Shakila pun ikut berlari menghampiri Marissa.
"Maafkan Shakila, Nona."
"Tidak apa-apa, Mbak. Memangnya Shakila kenapa, kok bisa nangis?" tanya Marissa sembari mengusap air mata Shakila yang kini menyandarkan kepala mungilnya di pundak Marissa.
"Ehm, itu ... Non. Shakila minta digendong sama Mommynya tetapi Nona Sofia menolak karena saat ini si Lea sedang cerewet. Leo saja sampai tidak keurus sama Nona Sofia, apalagi Shakila," tutur Babysitter sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
...***...