
Setibanya di halaman depan Mansion, Joe melepaskan cengkeraman tangannya. Ia memerintahkan para Pelayan untuk menyerahkan koper-koper yang mereka bawa kepada wanita itu.
"Sekarang pergilah yang jauh dan bawa serta barang-barang Anda, Nona Sarrah. Saya harap hari ini adalah hari terakhir saya melihat wajah Anda di tempat ini dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi!"
Sarrah tersenyum sinis sambil mengelus lengannya yang masih terasa sakit akibat perbuatan lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Kita lihat saja nanti, Joe! Aku berjanji akan kembali ketempat ini dan menjadi Nyonya besar. Dan kamu, bersiaplah untuk pergi dari tempat ini dengan cara yang sama seperti yang kamu lakukan padaku!" hardiknya.
"Teruslah bermimpi, Nona Sarrah. Karena tak ada yang melarang Anda untuk bermimpi."
Setelah mengucapkan hal itu, Joe bergegas pergi. Begitupula Sarrah, wanita itu masuk kedalam mobil yang akan membawanya kembali ke Apartemen.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja, Marcello! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia bersama orang lain. Kamu hanya milikku dan selamanya akan tetap seperti itu!" gumam Sarrah sambil menyeka air matanya.
Sementara itu,
Marcello masih berada didalam ruangan pribadinya. Ia duduk bersandar di sofa yang ada di ruangan tersebut. Matanya terpejam dan tangannya terus memijit keningnya yang terasa berdenyut-denyut.
Joe yang baru saja tiba diruangan itu segera menghampirinya. Ia berdiri tepat disamping tubuh Bossnya itu.
"Tuan, wanita itu sudah pergi," ucap Joe.
Marcello membuka matanya kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Baguslah. Paling tidak, satu masalahku sudah terpecahkan. Dan sekarang tinggal satu permasalahan lagi. Permasalahan yang benar-benar membuat aku menjadi seperti orang bodoh!" sahutnya.
Joe terdiam, ia merasa gagal menjadi orang kepercayaan Tuan Marcello. Bahkan sampai sekarang anak buahnya masih belum menemukan titik terang tentang keberadaan Marissa.
"Maafkan saya, Tuan. Karena sampai saat ini, saya masih belum bisa menemukan keberadaan Putri Anda," sahut Joe dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Marcello menghembuskan napas panjang kemudian tersenyum tipis kepada Asistennya itu.
"Teruslah berusaha, Joe! Jangan pernah menyerah untuk menemukan keberadaan Icha kecilku."
"Tentu saja, Tuan! Saya tidak akan pernah menyerah sebelum Nona Marissa ditemukan," sahutnya.
Untuk beberapa detik, ruangan itu hening. Baik itu Marcello maupun Joe, sama-sama sedang asik dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya, Marcello kembali membuka suaranya.
"Sekarang aku sadar, Joe! Mungkin ini adalah cara Tuhan menghukumku atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepada Melinda. Aku tidak berhak menghukum Sarrah karena aku juga sama buruknya dengan wanita itu," tutur Marcello.
"Jujur, aku tidak sedih saat Sarrah harus pergi dari hidupku. Tetapi aku sedih karena rasa bersalah itu kembali lagi, Joe. Sejak Melinda memutuskan untuk bercerai, aku benar-benar terpuruk. Bahkan aku tidak bisa membuka hatiku untuk wanita lain selama bertahun-tahun, hingga akhirnya Sarrah hadir dalam hidupku dan perlahan-lahan aku mulai bisa melupakan kesalahanku. Dan hari ini, rasa bersalah itu kembali lagi," sambungnya. Terlihat jelas penyesalan itu di wajahnya.
Sementara itu.
Erika berencana ingin bertemu dengan Fattan. Ia ingin menemui Marissa di Desa kelahiran lelaki itu. Dengan modal nekat, gadis itu pergi dari rumahnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Erika berjanji bertemu dengan Fattan dikota X dan mereka akan pergi bersama-sama ke Desa kelahiran lelaki itu. Tidak beberapa lama Erika menunggu, Fattan pun tiba.
"Erika?!"
"Ya! Pak Fattan?!" seru Erika.
"Tepat sekali, mari masuk," ucap Fattan sembari membukakan pintu mobilnya untuk Erika.
Erika bergegas masuk kedalam mobil Fattan dan duduk disana. Sedangkan Fattan memasukkan barang-barang milik Erika kedalam bagasi mobilnya. Setelah semuanya tersusun rapi, Fattan pun kembali masuk kedalam mobilnya dan duduk didepan kemudi.
"Barang bawaanmu banyak sekali, Erika. Sebenarnya kamu itu mau menginap atau pindah rumah, sih?" goda Fattan sambil terkekeh pelan mengingat barang bawaan Erika yang begitu banyak.
"Ehm, sebenarnya punyaku hanya separuhnya saja, Pak. Sisanya punya Icha, ada pakaiannya, skin carenya dan berbagai keperluan lainnya," sahut Erika.
__ADS_1
"Oh,"
Disaat sedang Fattan fokus pada kemudinya, Erika terus memperhatikan lelaki itu bahkan sampai lupa untuk berkedip. Diantara banyaknya lelaki tampan yang pernah ia temui, Dosen inilah yang benar-benar membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Tanpa disengaja, Fattan memergoki Erika yang terus menatapnya. "Ada yang terjadi pada bocah ini? Kenapa dia menatapku seperti itu?" ucap Fattan dalam hati.
"Erika, kamu kenapa?" tanya Fattan sambil menautkan kedua alisnya.
"Hah?!" Erika terkejut. "Tidak apa-apa, Pak. Hanya saja Bapak begitu tampan, melebihi ekspektasi saya!" sahutnya cengengesan.
Fattan tersenyum tipis menanggapi ucapan gadis itu dan ia kembali fokus pada mobilnya.
. . .
Menjelang malam.
Marissa dan Bu Nilam bersiap untuk tidur setelah puas bercengkrama dan bercerita-cerita seputar masa lalu mereka.
Marissa sudah tidak lagi canggung kepada Bu Nilam. Baginya, Bu Nilam sudah seperti keluarganya sendiri. Selain baik, Bu Nilam juga sangat perhatian terhadap Marissa, bahkan wanita paruh baya itu sudah mengganggap Marissa sebagai anak perempuannya.
"Bu, entah kenapa malam ini Marissa merasa agak takut untuk tidur sendiri. Marissa boleh ikut tidur bareng Ibu, ya?" lirih Marissa sambil mengelus kedua lengannya.
Bu Nilam terkekeh kemudian merengkuh tubuh Marissa. "Dengan senang hati, Nak. Yuk, kita tidur!" ajak Bu Nilam.
Marissa dan Bu Nilam pun segera menaiki ranjang tua berukuran besar yang ada didalam kamar wanita paruh baya itu. Mereka kemudian mulai mencoba memejamkan mata dan setelah beberapa saat, Bu Nilam pun tertidur. Sedangkan Marissa, ia masih belum bisa tidur. Apalagi ia mendengar suara seseorang yang sepertinya ingin membuka pintu rumah Bu Nilam.
Seketika bulu kuduknya berdiri. Ia bangkit dan duduk ditepi ranjang tua itu dengan wajah ketakutan.
"Siapa itu?" gumamnya.
__ADS_1
...***...