Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 144


__ADS_3

Marcello memperhatikan istrinya sejak tadi. Entah mengapa wanita itu terus melemparkan sebuah senyuman konyol dan ia yakin ada maksud terselubung dari senyuman anehnya itu.


"Kenapa sih, Cha? Dari tadi kuperhatikan kamu tersenyum terus. Dan aku curiga, sepertinya ada sesuatu di balik senyumanmu itu," ucap Marcello sambil menautkan kedua alisnya.


"Daddy!"


Marissa menghampiri Marcello kemudian memeluk lengan kekar lelaki itu, sama seperti biasanya.


"Aku sedang merencanakan sesuatu dan kuharap kamu bersedia membantu rencanaku," ucap Marissa


"Sudah ku duga! Pasti ada maunya." Marcello membuang pandangannya ke arah lain.


"Dengarkan dulu donk, Dad!" kesal Marissa sembari mencubit lengan yang sedang ia peluk.


"Ya, ya! Katakanlah, kamu memang tahu kelemahanku, tidak bisa berkata tidak untukmu," ucapnya dengan wajah malas.


"Aku masih penasaran sama Sofia dan Om Joe, Dad. Aku ingin sekali Sofia berhasil menaklukkan hati Om Joe. Kasihan 'kan, Om Joe itu sudah tua, trus kapan dia bisa merasakan berumah tangga seperti lelaki pada umumnya. Daddy aja udah berkali-kali hidup bareng wanita, lah Om Joe, sekalipun tidak pernah, 'kan?" ucap Marissa.


Marcello menautkan kedua alisnya saat bersitatap mata bersama Marissa.


"Ada-ada saja! Aku tidak mau ikut campur. Urus saja sendiri, bikin pusing. Aku sudah tidak ingin ikut campur dalam urusan asmara seseorang, sudah cukup Ayah dan Ibumu. Untuk Joe, biarlah dia cari jodohnya sendiri, tidak usah di jodoh-jodohkan seperti itu," gerutunya.


Marissa menekuk wajahnya kemudian melepaskan pelukannya kepada Marcello. Ia membelakangi Marcello kemudian mengelus perutnya sambil berucap.


"Kalian dengar 'kan, Sayang! Daddy kalian itu tidak ingin menuruti kemauan kalian, yang ingin menjodohkan Om Joe dengan Tante Sofia. Kita menyerah saja ya, Nak. Semoga kalian tidak ileran nantinya."


Marcello melirik Marissa sambil mengulum senyum. "Memang ada ya, ngidam seperti itu?"

__ADS_1


"Ada! Nah, ini buktinya! Kedua bayimu ingin menjodohkan Om Joe sama Sofia, tapi kamu-nya tidak mendukung mereka," ucap Marissa yang masih duduk membelakangi Marcello.


Marcello berbalik dan kini ia duduk di belakang Marissa. Ia merengkuh pundak Marissa kemudian melabuhkan ciuman di pundak satunya sambil tersenyum.


"Baiklah, sekarang apa rencanamu?"


Dengan cepat Marissa berbalik kemudian ia dan sang suami duduk dengan posisi saling berhadapan.


"Kita bikin dinner kejutan buat mereka, Dad. Nanti aku bikin Sofia tampil secantik mungkin hingga Om Joe tidak bisa menolak pesonanya!" ucap Marissa penuh semangat.


"Terserah kamu saja lah, aku ngikut saja!"


"Tapi bantu Icha meyakinkan Om Joe-nya, ya!"


"Ya."


. . .


"Tuan, Tuan! Boleh kah saya meminta waktunya sebentar?" ucap Bu Sri sembari menghampiri Joe dengan rasa canggung.


Joe yang saat itu berjalan melewati wanita bertubuh kurus itu, segera menoleh. Ia memperhatikan Bu Sri kemudian berucap.


"Ya, Bu. Ada apa?"


"Saya duluan, Tuan." Bodyguard yang tadi menemani Joe mengelilingi mansion segera pamit dan pergi meninggalkan Joe di ruangan itu bersama Ibundanya Sofia.


"Tuan, sebenarnya saya ingin berterima kasih kepada Anda, Tuan. Terima kasih atas semua bantuan yang Anda berikan kepada saya dan anak saya, Sofia. Tanpa bantuan dari Anda, mungkin saat ini kami sudah tidur di teras rumah orang-orang."

__ADS_1


"Sama-sama, Bu."


"Begini, Tuan. Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya," lirih Bu Sri.


Wajah pucat Bu Sri semakin terlihat menyedihkan ketika ia menatap Joe dengan penuh harap.


"Sebenarnya ada apa, Bu. Ceritakanlah. Saya pasti akan membantu Anda semampu saya," sahut Joe.


"Saya ingin minta tolong pada Anda, Tuan. Jika nanti saya sudah tutup usia, tolong jaga Sofia untuk saya. Sofia sudah tidak memiliki siapapun lagi, Tuan Joe. Saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Hanya Tuan yang menjadi harapan saya satu-satunya. Orang yang selama ini begitu baik pada kami," ucap Bu Sri dengan mata berkaca-kaca.


Joe menghembuskan napas berat sambil menatap wajah sedih Bu Sri di hadapannya. "Baiklah, Bu. Saya akan menjaga Sofia seperti anak saya sendiri," ucap Joe.


Bu Sri menyunggingkan sebuah senyuman kepada Joe. Ia sekarang merasa lebih tenang setelah mendengar jawaban dari lelaki itu.


"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda."


"Loh, ternyata Ibu disini? Tadi Sofia nyariin Ibu sampe ke dapur, loh!" ucap Sofia yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Joe dan Bu Sri.


Kehadiran Sofia di tempat itu membuat tubuh Joe kembali panas dingin. Ia sendiri bingung dengan apa yang dirasakan oleh tubuhnya ketika berada dekat dengan gadis manis tersebut.


Joe terlihat serba salah, apalagi ketika Sofia menatap tajam ke arahnya sambil melemparkan sebuah senyuman manis.


"Ibuku tidak merepotkanmu 'kan, Tuan?"


"Tidak," sahut Joe singkat sembari pergi dari tempat itu dengan langkah cepat.


"Tuan Joe kenapa, Bu? Apa dia sedang kesambet?" gumam Sofia sambil memperhatikan Joe yang semakin menjauh darinya.

__ADS_1


"Jangan-jangan aku mendapatkan karma karena sering menertawakan kemalangan Tuan Marcello ketika jatuh cinta pada Nona Marissa! Tidak boleh! Aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis ingusan itu, aku tidak ingin menjadi bodoh sama seperti Tuan Marcello," gumam Joe dengan wajah pucat berjalan menuju kamarnya.


...***...


__ADS_2