
[Kita Flash Back dikit ya, Readers! ๐Versi ala Marissa dan Marcello.]
Karena kelelahan yang amat sangat dan juga hujan yang tidak kunjung reda, akhirnya Marissa tertidur di pelukan Marcello. Sama halnya Marissa, Marcello pun sudah sangat lelah. Perlahan ia mulai memejamkan matanya dan akhirnya ia pun ikut tertidur.
Mereka tidur dalam posisi saling berpelukan. Rasa hangat yang mereka rasakan saat berpelukan membuat mereka merasa nyaman dan tidak ingin melepaskan satu sama lain. Apalagi cuaca malam itu semakin dingin saja.
Hingga pagi pun menjelang.
Para warga desa bangun pagi-pagi sekali. Ada yang ingin pergi ke ladang, ada yang ingin ke kebun dan banyak lagi. Begitupula seorang warga yang tinggal di dekat rumah kosong, dimana Marissa dan Marcello masih asyik di alam mimpi mereka.
Ketika melewati rumah kosong tersebut, ia sempat heran karena pintu rumah tersebut tidak tertutup rapat.
"Loh, kok pintunya kebuka, sih?!" gumamnya sembari menghampiri pintu rumah kosong itu dan berniat menutup pintunya kembali.
Namun, ia terperanjat ketika menemukan sepasang manusia yang sedang asik tertidur dengan posisi saling berpelukan. Sontak saja, ia berlari dan menemui warga di sekitar rumahnya kemudian memberitahukan tentang penemuan sepasang manusia yang tengah tertidur pulas di rumah kosong tersebut.
"Serius?! Wah, jangan-jangan mereka adalah pasangan mesum!" ucap salah seorang warga.
"Ya, betul! Sebaiknya kita gerebek saja!" timpal yang lainnya.
Mereka pun beramai-ramai menghampiri rumah kosong tersebut kemudian menggerebek Marissa dan Marcello yang masih tertidur pulas.
"Hei, bangun! Kalian pasti pasangan mesum, 'kan?!" tanya Seseorang sembari menarik paksa tubuh Marcello yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ribut-ribut.
"Apa-apaan ini?!" ucap Marcello sembari mencoba melepaskan cengkeraman para warga desa.
__ADS_1
Bukan hanya Marcello, Marissa pun tidak kalah terkejutnya. Ia shok setelah mendengar para warga menyebutnya pasangan mesum.
"Kalian salah paham. Kami tidak melakukan apapun. Coba kalian lihat pakaian kami! Pakaian kami masih utuh," tutur Marissa.
Namun, tidak semudah itu meyakinkan warga yang sudah tersulut emosi. Mereka sama sekali tidak mempercayai ucapan Marissa. Mereka tetap kekeh mengatakan bahwa Marissa dan Marcello adalah pasangan mesum.
"Tidak usah mengelak, Mbak. Kalian pasti habis melakukannya dan setelah selesai, kalian berpakaian lagi! Mbak cantik-cantik ternyata pintar ngibul juga, ya!" seru salah seorang warga.
"Ya, Tuhan!" gumam Marissa.
"Sudah! Tidak usah banyak bicara. Sebaiknya kalian ikut kami ke rumah Pak Kepala Desa!" seru yang lainnya.
Mau tidak mau, Marissa dan Marcello diarak menuju kediaman Kepala Desa. Berita tentang mereka pun menyebar dengan begitu cepat. Bahkan kerumunan warga semakin membludak ketika mereka sudah diamankan di kediaman Pak Kades.
"Jadi, benar kalian sudah melakukan itu?" tanya Pak Kades.
Marissa tidak bisa melakukan apa-apa, bicara pun ia rasa percuma. Toh, para warga tetap kekeh pada pendirian mereka. Marissa duduk di sebuah kursi dengan kepala tertunduk. Sedangkan Marcello, mati-matian membela diri.
"Jangan dipercaya, Pak. Orang kami lihat sendiri mereka berpelukan dengan sangat erat," timpal warga.
Di saat mereka masih diinterogasi, Fattan tiba di tempat itu dengan napas terengah-engah. Ia menerobos kerumunan warga kemudian masuk kedalam rumah Pak Kades tersebut.
"Marissa?!"
Fattan segera menghampiri Marissa dan menanyakan prihal yang terjadi pada gadis itu.
__ADS_1
"Marissa, ada apa ini? Apakah yang dikatakan oleh warga itu benar kalau kalian ...." Perkataan Fattan terhenti, ia tidak sanggup berkata lebih jauh lagi.
Namun. Marissa mengerti apa yang dimaksud lelaki itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil memegang tangan Fattan.
"Tidak, Pak! Aku berani bersumpah demi Tuhan. Aku dan Tuan Marcello tidak melakukan apapun. Mereka hanya salah paham," lirih Marissa.
Marcello yang sedang panik, sempat-sempatnya melirik Marissa dan Fattan. Ia kesal melihat Marissa menyentuh tangan lelaki itu.
"Fattan, aku mohon dengan sangat! Aku butuh bantuanmu. Tolong, hubungi Asistenku, Joe! Aku butuh bantuannya sekarang! Ku mohon," lirih Marcello sembari menarik tangan Marissa yang sedang memegang tangan lelaki itu.
Marissa memutarkan bola matanya. "Cih, sekarang saja memohon-mohon, meminta bantuan dari Pak Fattan. Dasar tidak tahu malu," gumam Marissa pelan dan tidak seorangpun yang mendengar ucapannya.
Fattan menatap wajah panik Tuan Marcello. Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu menyukai lelaki itu, karena sikapnya yang semena-mena terhadap dirinya. Namun, ia tidak tega untuk menolak permohonannya.
"Baiklah, Tuan. Saya akan membantu Anda," sahut Fattan.
Marcello meraih ponselnya yang ia simpan di saku celananya kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu.
"Terima kasih banyak, Fattan. Aku berhutang budi padamu," ucapnya lagi.
Fattan kembali berlari setelah mendapatkan ponsel itu. Ia bergegas pergi dengan menggunakan motor bututnya ke luar desa.
Erika dan Bu Nilam baru saja tiba di kediaman Pak Kades. Namun, mereka tidak bisa membantu apa-apa. Mereka hanya bisa menyaksikan Marissa dan Marcello yang sedang menunggu hukuman yang akan dapatkan oleh pasangan itu.
"Jadi, apa keputusan kalian?!" tanya Pak Kades.
__ADS_1
"Nikahkan mereka!!!" ucap para warga serempak.
...***...