Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 226


__ADS_3

Maria menatap lekat kedua bola mata Dylan. Entah mengapa ia merasa curiga pada lelaki itu dan juga seseorang yang sedang duduk di jok belakang mobil mewah tersebut.


"Aku curiga jangan-jangan Om Udin dan lelaki itu sedang mengerjaiku. Mana ada seorang Boss penampilannya kek lelaki itu? Kemeja aja gak bermerk dan wajah keriputnya, ah! Jauh gantengan Daddy kemana-mana," batin Maria.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Nona Maria? Apa ada yang aneh denganku?"


"Kalian mencurigakan," sahut Maria dengan tatapan penuh selidik.


Dylan panik, ia takut kebohongannya ketahuan oleh gadis matre tersebut. Perlahan, Dylan mendorong tubuh mungil Maria dan menuntunnya kembali ke motor matic kesayangannya.


"Sebaiknya kamu lanjutkan perjalananmu. Apa kamu tidak takut terlambat dan dihukum oleh guru-gurumu?"


Dylan meraih helm pink bermotif Hello Kitty yang diletakkan oleh Maria di atas stang motornya. Perlahan Dylan memasangkan helm tersebut ke kepala Maria.


"Gadis kesayangan Daddy Marcello, sebaiknya kamu bersekolah dengan benar. Biar kelak kamu jadi wanita yang sukses dan mandiri. Aku yakin, lelaki manapun tidak akan bisa menolakmu. Secara kamu itu cantik dan menggemaskan, apalagi jika ditambah dengan kesuksesanmu," ucap Dylan sambil tersenyum manis kepada Maria.


"Tapi sayangnya aku sudah terlambat, Om. Lelaki yang aku sukai ternyata sudah menikah dan punya tiga anak. Dan sialnya lagi, Daddy sudah berencana menikahkan aku dengan salah satu anak dari rekan bisnisnya dan malam ini mereka akan berkunjung ke mansion kami."


Senyum Dylan yang tadinya mengembang sempurna di wajah tampannya, seketika sirna setelah mendengar penuturan gadis mungil tersebut.


"Jadi, Daddymu benar-benar serius soal pernikahan itu?" tanya Dylan dengan wajah serius menatap Maria.


Maria menganggukkan kepalanya. "Ya, Daddy tidak pernah main-main dengan ucapannya."

__ADS_1


"Ta-tapi kenapa? Usiamu saja masih sangat muda dan sekolahmu bahkan belum selesai. Aku tidak mengerti bagaimana cara berpikir Daddymu, apa Daddymu sudah gila?" pekik Dylan yang masih tidak percaya.


Maria menekuk wajahnya karena ia tidak terima ketika Dylan menyebut Daddynya seperti itu. "Daddyku masih sehat, Om. Tapi ya begitu, kalo Daddy bilang A, ya harus A. Gak boleh B apalagi C!"


Maria menaiki scooter matic tersebut kemudian menghidupkan mesinnya. "Ya, sudah. Aku berangkat dulu," ucap Maria yang kemudian segera melaju bersama motor kesayangannya.


Dylan masih terdiam untuk beberapa saat sambil menatap Maria yang semakin menjauh, hingga akhirnya gadis itu menghilang dari pandangannya. Dylan berbalik kemudian kembali menghampiri mobilnya.


. . .


Istirahat pertama di sekolah Maria.


"Hhh, beruntung kamu masih diizinkan masuk sama Pak Satpam. Coba kalau tidak, bisa-bisa kamu ketinggalan pelajaran lagi, Maria." Clara menghembuskan napas panjang sambil memperhatikan wajah bingung Maria.


"Om Udin, si ganteng itu? Yahhh, kecewa donk pemirsah! Tapi, tak apa aku masih setia menunggunya, mengunggu dudanya Om Udin," sahut Clara sambil tersenyum konyol.


"Clara! Aku nanya ini," kesal Maria sambil menekuk wajahnya melihat Clara yang terlihat konyol.


"Oh ya, baiklah, baiklah! Kalau aku pribadi sih, percaya donk, Maria. Secara Om Udin itu gantengnya kebangetan. Wanita manapun pasti tidak akan mampu menolak pesonanya."


"Jadi menurutmu, dia benar-benar sudah menikah dan punya tiga anak, begitu?" pekik Maria dengan mata membulat sempurna.


"Kenapa ekspresimu aneh begitu? Orang tampan mah bebas, Maria. Dan jangan-jangan istri Om Udin itu tidak hanya satu, tetapi ada dua, tiga, em--"

__ADS_1


"Sudah cukup, kamu makin ditanya, jawabannya makin ngawur aja!"


Maria semakin menekuk wajahnya. Ia benar-benar kesal mendengar jawaban sahabatnya itu.


"Aku masih tidak percaya dan firasatku mengatakan bahwa Om Udin itu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku harus menyelidikinya, harus!" ucap Maria dalam hati.


"Maria, kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Di perusahan milik Tuan Marcello.


"Vin, apa kamu masih ingat, malam ini ada undangan dari Tuan Felix," ucap Marvel.


"Ya, aku ingat. Memangnya kenapa?"


"Sepertinya aku tidak bisa hadir ke pesta itu, Vin. Karena malam ini Daddy memintaku menemaninya menyambut kedatangan Tuan Alfonso beserta putranya yang akan di jodohkan kepada Maria. Sebaiknya kamu gantikan posisiku dan datanglah ke pesta itu. Kamu juga bisa mengajak Alifa sekalian," ucap Marvel.


Melvin tersenyum kecut setelah mendengar nama Alifa disebutkan. "Ya, baiklah. Aku akan datang ke pesta itu, tapi aku tidak berjanji mengajak Alifa. Aku yakin sekali, Alifa tidak akan mau di ajak ke pesta bertajuk bisnis seperti ini," jawab Melvin.


"Terserah padamu, yang penting salah satu di antara kita bisa berhadir ke pesta itu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2