Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 44


__ADS_3

Baru saja Marcello, Joe dan anak buahnya ingin melangkahkan kaki mereka keluar dari Mansion, Sarrah memanggil Marcello sembari berlari kecil mengejar calon suaminya itu.


"Marcel, tunggu!" teriak Sarrah.


Marcello berbalik kemudian menatap Wanita itu dengan wajah malas.


"Apa lagi?"


"Seharusnya kamu diam di Mansion saja dan biarkan orang-orangmu yang bekerja  Kamu tidak perlu turun tangan mengurus semua masalah ini! Seharusnya yang kamu pikirkan sekarang adalah persiapan hari pernikahan kita! Lagipula Marissa tidak akan bisa pergi jauh dengan semua kemewahan yang tersedia di Mansion ini!" kesal Sarrah.


"Cukup Sarrah, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu! Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan mengadakan acara pernikahan sebelum aku berhasil menemukan Marissa!"


Setelah mengucapkan hal itu, Marcello kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Sarrah yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Sarrah tidak menyangka, Marcello akan mengatakan hal itu. Sekarang ia sadar, hubungan yang ia jalin selama ini bersama Marcello, sama sekali tidak penting di mata lelaki itu.


"Awas kamu, Marcello! Aku akan lakukan segala cara agar kamu bersedia menikahiku!" kesalnya.


Baru saja Marcello menjejakkan kakinya di halaman Mansion, seorang Bodyguard menghampirinya. Di tangan Bodyguard itu nampak sebuah ponsel yang tak asing dimata Marcello.


"Tuan, saya menemukan ponsel Nona Marissa disalah satu mobil Anda," ucap Bodyguard itu sambil seraya menyerahkan ponsel itu kepada Marcello.


Marcello menyambutnya dengan cepat setelah mengetahui bahwa ponsel itu adalah milik Marissa. Ia menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan ponsel tersebut.


"Ponsel ini? Apa dia sengaja meninggalkannya disini atau memang ia lupa membawa ponsel ini bersamanya?"


"Sepertinya memang tertinggal, Tuan." sahut Joe.

__ADS_1


"Sepertinya kamu benar. Segera siapkan pesawat, kita berangkat ke Kota asal Melinda!" titah Marcello.


"Baik, Tuan."


Joe memperhatikan Marcello yang berjalan kearah yang salah, membuat ia berpikir mau kemana sebenarnya lelaki itu. Joe menghentikan langkahnya kemudian menegur Marcello yang terus melangkah dengan tatapan fokus kedepan.


"Ehm, Tuan mobil Anda berada disini!"


Marcello tersadar, ia berbalik kemudian berjalan menghampiri Joe sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Astaga, Joe! Kamu lihat aku sekarang, aku sudah seperti orang bodoh!"


Joe ingin sekali tertawa, menertawakan kata yang baru saja Marcello ucapkan. 'Cinta membuat orang menjadi bodoh', ya seperti itulah kira-kira. Lelaki mapan dan tampan itu menjadi bodoh gara-gara rasa cintanya terhadap anak angkatnya sendiri.


"Kita sudah sampai, Marissa! Bagaimana, kamu suka kampung ini?" tanya Fattan sembari membukakan pintu untuk Marissa.


Perlahan Marissa keluar dari mobil Fattan kemudian memperhatikan sekelilingnya. Sebuah perdesaan yang masih sangat alami, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Air sungai yang mengalir tepat didepan matanya, begitu jernih dan terlihat sangat sejuk. Belum lagi pepohonan rindang yang masih banyak tumbuh disekitarnya.


Bangunan rumah-rumah warga masih terlihat sederhana, bahkan masih banyak diantara mereka memasak dengan menggunakan kayu bakar. Marissa yang tidak pernah sekalipun melihat pedesaan yang benar-benar masih asri seperti tempat itu, terpelongo dengan mata membulat sempurna.


"Ternyata masih ada ya, tempat seperti ini? Aku kira hanya tinggal cerita, Pak. Ehm ... ngomong-ngomong, Pak Fattan tau dari mana ada tempat sebagus ini?" tanya Marissa.


"Ini kampungku, Marissa. Dan disinilah aku lahir hingga tumbuh menjadi seorang remaja," tutur Fattan.


Marissa terdiam sejenak sambil berpikir. "Apa kamu yakin Tuan Marcello tidak akan menemukan aku disini?" tanya Marissa cemas.

__ADS_1


"Aku yakin sekali dia tidak akan pernah menemukan dirimu disini, Marissa. Desa ini merupakan Desa tertinggal dan kamu tahu sendiri, 'kan bagaimana susahnya perjalanan kita menuju desa ini? Bahkan diantara banyaknya kenalanku di kota, tidak ada yang tahu bahwa desa ini ada. Itulah sebabnya warga di desa ini hidup dengan kesederhanaan dan lebih banyak mengandalkan kekayaan alam yang ada disekitar mereka," sahut Fattan.


"Benarkah?"


"Ya. Sebaiknya kita bicara didalam rumahku saja. Mari ..." ajak Fattan sembari menuntun Marissa memasuki sebuah rumah sederhana, tetapi sangat nyaman untuk ditinggali.


"Duduklah, Marissa. Buatlah dirimu nyaman, aku akan kembali sebentar lagi," ucap Fattan.


Fattan melangkah memasuki rumah sederhana itu lebih dalam lagi. Ia menemui seorang wanita paruh baya yang sedang duduk tak jauh dari tungku kayu bakar. Sesekali wanita itu meniup api di tungku tersebut dengan menggunakan sebuah bambu kecil agar apinya tidak padam.


"Bu, Fattan kangen!"


Fattan memeluk wanita paruh baya itu dari belakang dengan mata berkaca-kaca. Pelukan Fattan membuat wanita yang dipanggil Fattan dengan sebutan 'Ibu' itu sangat terkejut. Ia mengelus tangan Fattan yang melingkar di tubuhnya sambil,menitikkan airmata.


"Nak? Kenapa tidak kasih kabar ke Ibu kalau kamu ingin kesini?" tanya wanita itu.


"Ini mendadak, Bu. Dan Fattan tidak sendiri, Fattan mengajak seorang teman."


Fattan melerai pelukannya dan kini Ibu dan anak itu saling bersitatap. "Siapa? Calonmu?" goda Sang Ibu.


Fattan tersenyum mendengar ucapan Sang Ibu. "Fattan rasa Gadis itu tidak akan sudi menerima Fattan sebagai calonnya, Bu."


"Eh, kenapa bicara seperti itu?! Ayo, kenalkan Ibu sama Gadis itu," ajak Ibu Fattan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2