
"A-Aidan?!"
Jantung Dylan berdetak dengan kencang setelah tahu bahwa Aidan, sahabat sekaligus rekan kerjanya itu adalah calon tunangan Maria. Lelaki yang akan menjadi saingannya dalam memperebutkan cinta Maria.
"Apa Om mengenalnya?"
"Ehm, tidak. Aku tidak kenal, Nona."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Disatu sisi aku ingin memperjuangkan Maria, tetapi disisi lain Aidan adalah sahabatku. Haruskah aku bersaing dengan sahabatku sendiri?" batin Dylan.
Maria memperhatikan wajah Dylan yang tiba-tiba menjadi kusut. Lelaki itu terus menatapnya, tetapi ia tahu pikiran Dylan saat itu ada di tempat lain.
"Om, kamu kenapa?"
"Ehm, tidak apa-apa. Sebaiknya aku antar kamu kembali."
"Tapi kenapa, Om? Aku masih ingin disini karena tempat ini terasa nyaman," sahut Maria.
"Tapi aku yang merasa tidak nyaman, Nona, karena kita bukan pasangan suami istri. Apa yang akan dikatakan oleh tetangga-tetanggaku jika mereka melihatmu berada di rumahku?"
"Ya, kalo begitu segera halalin Maria," jawab Maria tanpa beban sedikitpun.
Dylan menghembuskan napas kasar kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu. Walaupun enggan, Maria tetap menyambut uluran tangan Dylan. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian mengikuti lelaki itu keluar dari rumah kecil tersebut dan menghampiri mobil mewahnya.
"Masuklah, Nona."
Setelah Maria masuk dan duduk disana, Dylan pun segera melajukan mobilnya menuju tempat dimana gadis itu meninggalkan motor matic kesayangannya.
"Bagaimana, Om? Pertanyaan Maria masih belum Om Udin jawab. Maukah Om Udin menikahi Maria?"
Dylan kembali tersenyum. "Baiklah, jika itu maumu. Katakan pada Daddymu bahwa aku ingin segera melamarmu. Jika Daddymu memberikan aku kesempatan untuk maju, maka aku akan datang melamarmu. Namun, jika Daddymu sudah menolakku, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa, Nona Maria."
__ADS_1
"Yeah!" pekik Maria sambil bertepuk tangan. Ia segera meraih lengan kekar Dylan kemudian memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, Om. Hari ini akan kukatakan pada Daddy bahwa Om ingin melamarku," ucap Maria.
Dylan tersenyum kemudian mengacak pelan puncak kepala gadis itu.
"Pinjam ponselmu." Dylan mengulurkan tangannya kepada Maria agar gadis itu menyerahkan ponselnya.
"Untuk apa, Om?"
"Sini," pinta Dylan lagi.
Maria pun menyerahkan ponselnya kepada lelaki itu dan ternyata Dylan memasukkan nomor ponselnya yang asli ke dalam kontak Maria.
"Hubungi aku di nomor itu," ucap Dylan sembari mengembalikan ponsel milik Maria.
Maria memperhatikan nomor ponsel Dylan kemudian tersenyum. "Nomor baru ya, Om?"
"Oh, begitu." Dengan senang hati Maria menyimpan kembali ponselnya.
Tidak berselang lama mobil yang dikemudikan oleh Dylan tiba di tempat, dimana Maria meninggalkan motor kesayangannya.
Setibanya di tempat itu, mereka pun segera berpisah. Maria kembali ke mansion dengan menggunakan motor matic kesayangannya, sedangkan Dylan kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
"Bagaimana jalan-jalan Anda Tuan?" tanya Mac yang menyambut kedatangan lelaki itu.
"Aku pusing, Mac."
Mac menautkan alisnya sambil menatap wajah kusut Dylan saat itu. Dylan berjalan menghampiri meja kerja kemudian duduk disana sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Yang benar saja, Mac! Bukankah seharusnya moodku akan membaik setelah dibawa jalan-jalan? Eh, bukannya membaik, perasaanku malah semakin kacau dibuatnya," gerutu Dylan sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Memangnya ada apa, Tuan?"
"Apa kamu tahu siapa yang akan menjadi calon istri untuk sahabat sekaligus rekan bisnisku, Aidan Tristan?"
Mac menggelengkan kepalanya pelan. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tidak tahu."
"Gadis itu Maria, Mac! Anak perempuan Tuan Marcello yang selama ini aku incar!"
"Benarkah?" pekik Mac dengan mata membulat.
"Ya, dan aku harus bertindak secepatnya, Mac. Selain untuk memperjuangkan gadis itu, aku juga tidak setuju jika Aidan menjadi suami Maria! Aidan itu playboy. Aku takut Aidan hanya ingin memanfaatkan kepolosan gadis itu," tutur Dylan.
"Ehm, Anda benar. Lalu apa rencana Anda selanjutnya, Tuan Dylan?"
"Aku akan melamar Maria. Jika aku tidak berhasil melamarnya sebagai Udin, aku akan melamarnya sebagai seorang Dylan."
Mac tersenyum puas mendengar ucapan Dylan saat itu. "Bagus, Tuan! Saya setuju!"
Sementara itu,
Akhirnya Maria tiba di mansion. Setelah memikirkan motor kesayangannya, Maria bergegas memasuki bangunan mewah tersebut dan mencari keberadaan sang Daddy.
"Daddy dimana, Mom?" tanya Maria kepada Mommy Icha yang sedang bersantai di ruang utama sambil menyeruput teh manis kesukaannya.
"Daddy lagi keluar, memangnya kenapa? Tumben cari-cari Daddy?"
"Ada sesuatu yang ingin Maria bicarakan sama Daddy, ini tentang masa depanku yang sedang dipertaruhkan oleh Daddy."
Marissa terkekeh pelan mendengar jawaban Maria yang terdengar aneh menurutnya.
"Cie ... masa depan!" ledek Mommy Icha.
__ADS_1
...***...