
"Ini beneran nomor ponselnya Om Udin bukan, sih?" gerutu Maria.
"Ya, benar. Nama saya Udin tapi maaf, saya tidak kenal yang namanya Maria apalagi suaranya masih terdengar seperti bocah begini," sahut Udin yang membuat Maria semakin kesal saja.
Sementara itu di sebuah Rumah Sakit.
"Siapa, Pak?"
Lelaki bertubuh besar dan mengenakan setelan jas keren itu menghampiri seorang lelaki yang masih berbaring di atas tempat tidur pasien.
"Entahlah, Tuan. Seorang gadis mengaku bernama Maria mencoba menghubungi saya dan anehnya dia tahu nama saya," ucap Pak Udin sambil terkekeh pelan sedangkan ponselnya ia tutupi dengan tangannya agar gadis yang bernama Maria tersebut tidak mendengar percakapannya dengan sang Boss.
"Benarkah?"
Lelaki itu nampak terkejut dan segera mengulurkan tangannya kepada sang sopir yang bernama Pak Udin tersebut.
"Boleh saya pinjam ponselmu, Pak?"
"Tentu saja, Tuan Dylan."
Lelaki itu meraih ponsel Pak Udin kemudian meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya. Ia mencoba mendengarkan suara imut seorang gadis yang sedang marah-marah kepadanya.
"Awas ya, Om Udin! Kali ini aku bilangin sama Bodyguard Daddyku biar kamu dikasih pelajaran oleh mereka karena sudah berani menipuku!" hardik Maria yang sangat kesal.
"Maria," sapa lelaki tampan berjas hitam tersebut.
Sontak Maria menghentikan ocehannya. Ia terdiam karena tiba-tiba suara Om Udin berubah lagi dan kali ini suaranya terdengar jauh lebih keren dan lebih muda dari pada suara sebelumnya.
"Om Udin?"
__ADS_1
"Ya, ini aku. Maaf, tadi yang menerima panggilanmu adalah Pamanku. Ada apa, Nona Maria? Apa ada yang bisa kubantu?"
"Huft, pantas saja dia tidak mengenaliku. Begini Om, ban motorku bocor dan aku terjebak disini sendirian. Mana di daerah sini tidak ada bengkel lagi," keluh Maria.
"Baiklah, sekarang kamu dimana?"
"Di jalan XX, Om."
"Kamu tunggu sebentar, aku akan segera kesana."
Lelaki itu memutuskan panggilan Maria dan menyerahkan ponsel itu kepada Pak Udin yang masih bersandar di sandaran tempat tidur pasien.
"Pak Udin, kalau gadis itu kembali menghubungi nomor ponselmu, sebaiknya abaikan saja dan tidak usah diangkat."
"Sebenarnya siapa gadis itu, Tuan?" tanya Pak Udin.
"Hanya seorang bocah ingusan," sahutnya sambil tersenyum tipis.
Karena Pak Udin, sang Sopir masih dalam perawatan, Dylan terpaksa memerintahkan salah satu Bodyguard untuk mengantarkan dirinya menuju tempat dimana Maria sedang menunggu kedatangannya.
Di perjalanan, Dylan kembali melepaskan jas serta rompi yang melekat erat di tubuh kekarnya. Tidak lupa, dasi mahal yang menghiasi lehernya pun ia lepaskan pula.
"Aku akan menemani gadis itu dan jika nanti aku sudah selesai dengannya, segera jemput aku," titah Dylan.
"Baik, Tuan."
Tidak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Dylan tiba di tempat yang dituju. Lelaki itu sengaja meminta Bodyguard untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat Maria menunggunya. Ia tidak ingin gadis matre itu tahu siapa dia sebenarnya.
"Pulanglah," titah Dylan kepada sang Bodyguard.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Setelah Sang Bodyguard pergi, Dylan pun segera menghampiri Maria yang sudah terlihat bosan berada di tempat itu.
"Nona Maria," sapa Dylan.
"Ah, akhirnya Om Udin tiba juga. Bantuin Maria membawa motor ini ke bengkel, Om."
Dylan menautkan kedua alisnya sambil menatap Maria. Ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis itu ingin dirinya menyeret motor tersebut menuju bengkel.
"Masa aku sekeren ini disuruh menyeret motor butut? Mana strikernya kekanak-kanakan begini lagi. Bagaimana jika salah satu rekan bisnisku melihatku? Bisa-bisa aku mati karena malu," gumam Dylan sambil memijit pelipisnya.
"Om Udin, ayo! Anggap saja Om sedang menyicil ganti rugi satu milyarku,"
"Baiklah, baiklah!"
Mau tidak mau, Dylan pun menuruti keinginan gadis itu. Benar saja, tidak ada bengkel di daerah itu. Jangankan Dylan yang sedang menuntun motor Maria yang bannya bocor, Maria yang hanya menggendong tas ransel pun mengeluh karena kelelahan.
"Aduh, Om! Aku mau pingsan ini," keluh Maria sambil menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
Dylan menghembuskan napas berat. "Apalagi aku, Nona Maria. Apa kamu tidak lihat keringatku? Kemeja mahalku bahkan sampai basah seperti ini."
"Ah, harga kemeja mahalmu itu tidak seberapa, Om Udin. Apa kamu sudah lupa bahwa hutangmu padaku sebanyak satu milyar? Lagipula kemeja itu 'kan cuma pemberian dari Bossmu."
"Ya, ya, terserah kamu, Nona Maria. Aku malas berdebat," ucap Dylan sambil terus melangkahkan kakinya bersama motor kesayangan Maria.
"Nah, begitu donk. Jadilah pelayan yang baik," sahut Maria sambil menepuk pundak lelaki itu.
"Pelayan?! Yang benar saja," gumamnya.
__ADS_1
...***...