Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 291


__ADS_3

Bugkh!


Bugkh!


Bugkh!


Hantaman bertubi-tubi mendarat di wajah dan tubuh Penjaga keamanan tersebut. Setelah Penjaga keamanan tak lagi berkutik, Dylan segera memasuki bangunan mewah yang bediri tepat di hadapannya.


"Akh, kenapa Om Dylan menghajar orang itu! pekik Maria dengan mata membulat sempurna.


Maria yang baru saja tiba di tempat itu, begitu shok melihat Dylan tiba-tiba saja menyerang lelaki itu dengan membabi buta seperti orang yang sedang kesurupan.


Dengan tubuh bergetar Maria memarkirkan motornya kemudian dengan cepat menyusul Dylan yang sudah memasuki bangunan megah itu. Maria bahkan sampai lupa melepaskan helm Hello Kitty yang masih melekat di kepalanya.


"Aduh, ada apa lagi ini! Jangan katakan bahwa ini adalah rumahnya Tuan Damian. Lelaki jahat yang diceritakan oleh Nyonya Sarrah kemarin!" gumam Maria sembari melangkahkan kakinya menyusuri ruangan demi ruangan, mencari keberadaan Dylan.


Di tengah-tengah kebingungan, tiba-tiba Maria mendengar suara ribut-ribut dari sebuah ruangan. Maria yakin Dylan ada disana dan dengan langkah cepat, Maria menuju ruangan itu.


Benar saja, Maria melihat Dylan sedang berdiri di hadapan seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan Tuan Riyadh, Opanya Maria. Lelaki itu nampak kebingungan karena tiba-tiba saja Dylan masuk ke dalam rumahnya tanpa izin.


"Siapa kamu?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.


Dylan kembali tersenyum sinis sambil menatap lelaki itu dengan penuh kebencian.


"Aku adalah adik dari seorang wanita yang pernah kamu siksa hingga akhirnya ia kehilangan ingatannya. Dan lebih parahnya lagi, kamu sudah memisahkan dia dengan kedua bayi kembarnya, yang merupakan darah dagingmu sendiri. Apa kamu masih ingat dengan dosa besarmu itu? Atau kamu sudah lupa karena saking banyaknya dosa yang sudah kamu lakukan selama ini?" tutur Dylan dengan wajah memerah.


Lelaki tua itu membulatkan matanya. Tentu saja ia ingat kejadian itu, dimana Sarrah pernah menjadi tawanan serta budak untuk melampiaskan hasratnya.

__ADS_1


"Ja-jadi kamu--"


"Ya, aku adalah adiknya Sarrah. Wanita yang dulu kamu perlakukan dengan semena-mena!"


Dylan menghampiri lelaki itu kemudian memukulnya.


Bugkh!


"Ampun! Jangan sakiti aku," lirih Tuan Damian sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Aku yakin Kakakku pun sering mengucapkan hal itu kepadamu dan aku yakin kamu pasti tidak mempedulikannya. Benar 'kan?"


Bugkh!


Satu tamparan kembali mendarat di wajah lelaki itu hingga hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Kemana saja kamu selama 20 tahun ini, Tuan Damian? Hingga baru sekarang kamu berpikir untuk mempertanggung jawabkan kesalahanmu?"


Bughk!


Tuan Damian pun jatuh tersungkur tepat di bawah kaki Dylan. Dylan meraih tubuh lelaki itu kemudian menariknya hingga Tuan Damian berdiri di hadapannya dengan wajah membiru.


Tuan Damian masih saja meminta maaf kepada Dylan, tetapi Dylan sudah menutup mata hatinya untuk memberi kesempatan kepada lelaki itu. Penderitaan yang di alami oleh Kakaknya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh lelaki itu.


Tepat disaat itu, ada beberapa orang Bodyguard Tuan Damian datang untuk menyelamatkannya. Para Bodyguard itu langsung mengerubuti Dylan kemudian terjadilah perkelahian sengit.


Melihat ada kesempatan, Tuan Damian mencoba menyelamatkan diri dengan kabur dari ruangan itu. Ia sempat bertatap mata dengan Maria yang masih mematung di tempatnya berdiri dengan tubuh bergetar hebat.

__ADS_1


Namun, Tuan Damian tidak mempedulikan Maria yang menatapnya dengan wajah memucat. Yang terpenting baginya sekarang adalah kabur dan menyelamatkan dirinya dari amukan Dylan.


Maria ingin berteriak dan memberitahu Dylan tentang Tuan Damian yang mencoba kabur. Namun, karena saking ketakutannya suara Maria tidak bisa lolos dari tenggorokannya. Suaranya tercekat dan ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ah, sialan!" batinnya.


Tiba-tiba saja Maria melepaskan helm kesayangan yang sejak tadi melekat di kepalanya. Tanpa pikir panjang Maria melemparkan helmnya ke arah Tuan Damian dan naasnya helm itu telak mengenai kepalanya hingga lelaki itu jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.


Maria berteriak histeris. Ketakutannya semakin menjadi setelah melihat Tuan Damian jatuh pingsan akibat perbuatannya.


"Maafkan aku, Tuan! Aku refleks," pekik Maria sembari melangkahkan kakinya menghampiri Tuan Damian. Maria meraih helm kesayangannya yang tergeletak tak jauh dari tubuh lelaki itu dengan wajah cemas.


"Ah, syukurlah! Helm kesayanganku tidak apa-apa," gumamnya sambil mengecek kondisi helm kesayangannya.


Sementara itu, perkelahian sengit yang terjadi di ruang pribadi Tuan Damian dimenangkan oleh Dylan. Walaupun ia juga mendapatkan beberapa luka lebam di wajahnya akibat pukulan dari para Bodyguard yang kini sudah terkapar.


Dylan berbalik dan berniat mencari keberadaan Tuan Damian yang melarikan diri. Dengan tergesa-gesa, Dylan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Namun, baru beberapa langkah dari pintu keluar, mata Dylan membulat sempurna ketika menyaksikan Nona Kitty-nya juga berada di tempat itu sambil memeriksa keadaan helmnya.


"Maria! Sedang apa kamu disini?" pekik Dylan seraya menghampiri gadis itu.


"Aku mengikutimu, Om," lirihnya.


"Ya, Tuhan!" Dylan menepuk jidatnya kemudian meraih tangan gadis itu dan membawanya keluar dari rumah mewah tersebut.


"Bagaimana dengan lelaki tua itu? Aku sudah melemparnya dengan helm hingga ia tidak sadarkan diri. Bagaimana jika ia meninggal? Bisa-bisa Maria di penjara, Om!" tutur Maria dengan tubuh yang masih bergetar.


Dylan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir kenapa gadis itu juga muncul disana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2