
Setibanya didalam kamarnya, Marissa segera mengunci pintu kamarnya, kemudian membawa paketan itu keatas tempat tidurnya. Marissa membuka bungkusan paketan itu dengan tergesa-gesa karena ia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana hasilnya.
Marissa meraih benda kecil berbentuk lingkaran dengan sebuah batu kecil menyerupai berlian diatasnya. Ia memperhatikan benda itu dengan seksama kemudian membandingkannya dengan cincin asli milik Sarrah yang masih melingkar di jari manisnya.
"Perfect!" gumam Marissa.
Marissa melepaskan cincin milik Sarrah yang asli kemudian menyimpan cincin itu kedalam lemari pakaiannya. Sedangkan cincin palsu yang baru saja diantar oleh Kurir tersebut, ia kenakan ke jari manisnya.
"Ih, keren! Persis seperti aslinya. Siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa cincin ini hanyalah sebuah cincin murahan! Kecuali orang itu memang ahlinya dalam pembuatan perhiasan," gumam Marissa sembari mengangkat tangannya keudara dan memperhatikan cincin itu.
Marissa keluar dari kamarnya dan ingin bersantai sejenak sembari memperhatikan para pekerja yang sedang mempersiapkan acara pertunangan Marcello. Semua orang terlihat sangat sibuk hilir mudik dengan membawa berbagai pernak pernik pesta.
"Hmm, seperti ini rupanya pesta orang tajir, ya! Semua orang kerepotan menyiapkan pesta untuk mereka. Dan aku yakin sekali, wanita penyihir itu pasti sedang melakukan perawatan mahal untuk menyambut acara spesialnya besok malam," gumam Marissa.
Marissa duduk di sofa yang terdapat diruang utama sambil memainkan ponselnya. Ia mengirimkan sebuah pesan chat kepada lelaki yang sudah membantunya membuatkan replika cincin pertunangan itu.
[Terima kasih, aku puas dengan hasil kerjamu!] Marissa
[Terima kasih kembali. Dan maafkan aku yang sudah meragukan kata-katamu bahwa kamu adalah anak dari orang terkaya di kota ini.] balas lelaki itu.
[Tidak masalah, lagipula aku tidak meminta kamu untuk percaya!] Marissa
[Aku jadi tidak enak dengan bayaranmu yang dua kali lipat itu. Nanti akan ku lagi kembalikan uangmu.]
[Tidak perlu, anggap saja itu adalah bonus untuk hasil pekerjaanmu yang benar-benar sangat memuaskan.] Marissa
__ADS_1
Marissa mengetik pesan chat tersebut sembari menggaruk jarinya yang terasa gatal. "Ish, gatal!" seru Marissa.
Tepat disaat itu, Marcello baru saja tiba dari kantor. Setelah keluar dari mobil, Lelaki itu berjalan bersama Sarrah yang selalu setia bergelayut manja di lengan kekarnya. Marissa memperhatikan kemesraan pasangan itu dengan wajah malas.
"Hhhh, sebel!" gerutu Marissa.
Perlahan, Marissa bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri pasangan itu.
"Owh, Daddy! Icha kangen!!!" seru Marissa sembari memeluk tubuh Marcello.
Marcello sempat terkejut mendapat serangan dari Marissa. Bulatan empuk milik Gadis itu menempel sempurna di dada bidangnya dan hal itu sontak membuat hasratnya sebagai seorang laki-laki bangkit. Senjatanya mengeras dan ingin berontak dari persembunyiannya.
"Oh, tidak! Jangan macam-macam! Dia anakmu, Marcello, dia anakmu!!!" batin Marcello.
Sarrah sangat kesal, sangat-sangat kesal. Matanya melotot menatap Marissa, sedangkan Gadis itu malah tersenyum licik menatapnya.
Marcello bergegas melerai pelukannya kepada Marissa karena ia sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Marissa menekuk wajahnya karena kesal Marcello melepaskan pelukannya.
"Ih, Daddy! Daddy tidak kangen, ya sama Icha?!" ucap Icha dengan manja sembari memeluk lengan Marcello disebelah kanan.
Kini posisi lelaki itu diapit oleh dua wanita cantik berbeda usia. Sebelah kanan ada Marissa dan disebelah kirinya ada Sarrah yang terus menekuk wajahnya.
"Cha, Daddy ingin bicara sama kamu nanti malam," sahut Marcello dengan wajah yang ikut-ikutan tegang karena senjatanya sudah menegang sejak tadi.
"Baiklah, apapun untuk Daddy!" sahut Marissa.
__ADS_1
Marissa meletakkan tangan Marcello ke pinggulnya dan secara tidak disengaja, tangan lelaki itu jatuh ke daerah empuk dan sintal dibelakang tubuh Icha. Dengan cepat-cepat, Marcello menaikkan tangannya kembali ke posisi semula. Ia tidak ingin senjatanya semakin penasaran dengan aset berharga milik gadis itu.
"Ehm, Dad. Icha mau ke kamar dulu, ya! Icha mau mandi dan ganti pakaian," ucap Marissa sembari meletakkan kedua tangannya keatas pundak Marcello. Dengan sengaja Marissa menjentik-jentikkan jari manisnya agar Sarrah menyadari bahwa ada cincin berlian yang melingkar disana.
Pada akhirnya, Sarrah menyadari bahwa ada kejanggalan di jari manis Marissa. Wanita itu tersentak kaget dan dengan mata membulat ia berteriak histeris.
"Akhhh! I-itu! Itu cincinku, bukan?!" jerit Sarrah.
Marcello kaget mendengar teriakan Sarrah yang begitu tiba-tiba dan membuat telinganya sakit karena wanita itu berteriak dengan jarak yang sangat dekat dengan telinganya.
"Ada apa, Sayang?!" tanya Marcello.
"Kamu lihat itu Marcello, bukankah itu cincinku?!" sahut Sarrah sembari menunjuk ke jari manis Marissa.
"Oh, astaga!" gumam Marcello, iapun baru saja menyadari hal itu. Ia benar-benar lupa bahwa tadi malam mereka saling memasangkan cincin pertunangan itu.
"Ehm, itu ...." Belum sempat Marcello menjelaskan, Sarrah sudah menyela pembicaraannya.
"Bagaimana cincin itu bisa ada padanya?! Aku tidak rela! Sekarang, lepaskan cincin itu!" teriak Sarrah.
Marissa terkekeh, ia berhasil membuat wanita itu kesal untuk hari ini.
"Nih, ambil saja! Lagipula aku alergi dengan perhiasan murahan seperti itu!" ucap Marissa sembari melepaskan cincin itu kemudian menyerahkannya ke tangan Sarrah.
"Murahan katamu! Coba saja kamu tanyakan sama Marcel berapa harga cincin ini!" hardik Sarrah dengan airmata yang bercucuran dikedua belah pipinya.
__ADS_1
Marissa tidak mempedulikan hardikan wanita itu, ia terus melenggang sambil terkekeh. Ia bahkan sempat memperlihatkan jari tengahnya kepada Sarrah tanpa menoleh sedikitpun.
...***...