Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 116


__ADS_3

Dian menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tatapannya lurus ke depan dan perlahan ia melangkahkan kakinya menghampiri gerbang megah yang menjulang tinggi, yang menjadi pembatas antara dirinya dan Ismika saat itu.


"Ada apa Nyonya Ismika? Apa yang ingin Anda bicarakan kepada saya?" ucap Dian.


Dian mencoba tetap tenang di depan Ismika. Ia tidak ingin wanita itu melihat sisi lemahnya untuk kali ini.


"Biarkan aku masuk, Dian! Aku ingin membicarakan masalah Riyadh! Dan ini merupakan masalah kita, bukan masalah orang-orang ini!" jawab Ismika dengan setengah berteriak sambil menunjuki orang-orang yang berada disekitar Dian, seperti Joe dan juga beberapa Bodyguard yang masih berjaga di tempat itu.


Dian kembali melirik Joe yang berdiri tak jauh darinya. Ekspresi Joe masih seperti biasa, wajahnya dingin tanpa ekspresi dan terus memperhatikan gelagat Ismika saat itu.


"Sebenarnya saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Riyadh, Nyonya Ismika. Jadi, jika Anda hanya ingin membicarakan masalah suami dan rumah tangga Anda kepada saya, sepertinya Anda salah tempat."


Ismika benar-benar geram mendengar jawaban dari wanita itu. Gigi-giginya saling beradu dan tangannya mengepal dengan sempurna. Ia kesal karena Dian sudah berani melawannya.


Ismika yang sudah tidak bisa menahan emosinya, menerobos masuk dan berhasil mencengkeram tangan Dian yang memang berdiri tidak jauh dari depan gerbang. Semua orang terkejut saat itu, apalagi Marissa yang baru saja tiba di tempat itu dengan wajah panik.


"Lepaskan tanganmu dari Ibuku, Nyonya Ismika!" titah Marissa sambil berlari kecil menuju kedua wanita itu.


Begitupula Joe dan beberapa Bodyguard yang berjaga. Mereka sigap menghampiri Ismika dan Dian kemudian memberikan jarak untuk keduanya. Dua orang Bodyguard memegang tangan Ismika, sedangkan Joe dan yang lainnya berjaga di sekeliling Dian.


Ismika tersenyum sinis ketika Marissa datang menghampiri Dian. Ia memperhatikan gadis itu dan kemiripan wajahnya dengan Riyadh, membuat hatinya semakin panas.


"Akhirnya anak haram inipun muncul juga!" hardiknya.

__ADS_1


"Cukup Nyonya Ismika, sebaiknya Anda pergi dari sini. Sebelum Anda diseret dengan kasar oleh para Bodyguard!" jawab Dian yang sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya.


Bukan hanya Dian, Marissa pun begitu panas ketika mendengar wanita itu menghina dirinya sedemikian rupa. Jiwa bar-barnya bergejolak, ia sudah gatal ingin menghampiri wanita itu. Namun, Dian menahannya. Dian menggelengkan kepala ketika menatap kearah Marissa.


"Jangan, Nak. Ingat kandunganmu," ucap Dian.


Marissa pun mengurungkan niatnya. Apa yang dikatakan oleh Ibunya benar. Untuk saat ini ada seseorang yang harus benar-benar ia lindungi, bayi dalam kandungannya.


"Bodyguard, usir saja wanita ini! Kenali wajahnya baik-baik dan jangan biarkan dia kembali ke tempat ini lagi!" titah Marissa.


Para Bodyguard yang berada di samping tubuh Ismika, menarik paksa tangannya. Namun, ditepis oleh Ismika sambil berteriak histeris.


"Lepaskan tanganku! Aku bisa sendiri, kalian tidak perlu menyeretku seperti ini!" Hardiknya.


Bodyguard pun melepaskan tangan Ismika dan membiarkan wanita itu melenggang menuju gerbang, tetapi siapa sangka. Dengan begitu cepat, Ismika meraih sebuah pistol dari dalam tas jinjing mahalnya. Yang memang ia persiapkan sebelum menuju ke tempat ini.


Doorrr!!!


Dengan cepat Joe meraih tubuh Dian dan akhirnya peluru tersebut tepat mengenai pundaknya.


"Akh!"


Mendengar suara tembakan, Marcello yang masih beristirahat di dalam kamarnya, segera bangkit dan berlari menuju halaman depan Mansion dengan wajah panik.

__ADS_1


"Tuan Joe!"


Dian menghampiri tubuh Joe yang terbaring di tanah dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu rela mengorbankan diri hanya untuk dirinya.


"Tuan Joe, kenapa Anda melakukan ini?!" tanya Dian dengan wajah panik.


Joe hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman tipis, tetapi tidak menjawab pertanyaan Dian sepatah katapun.


Beberapa Bodyguard yang berdiri dibelakang Joe, segera membantu Joe dan membawanya menuju mobil mereka. Sedangkan Ismika sudah diamankan oleh Bodyguard lainnya.


Marcello panik, apalagi ketika ia melihat Joe yang di gotong oleh beberapa Bodyguard dengan darah segar yang masih mengucur dari pundaknya.


"Ada apa ini?!" tanya Marcello panik.


Marcello menghampiri Marissa yang masih terdiam karena begitu shok dengan kejadian super kilat itu. Marcello memperhatikan tubuh Marissa dan segera meraihnya setelah sadar bahwa Istri kesayangannya baik-baik saja.


"Tenanglah, Cha. Semuanya baik-baik saja."


"Ya, Tuhan! Aku tidak menyangka bahwa wanita itu benar-benar jahat," ucap Marissa sambil memeluk tubuh Marcello.


"Sudahlah, semuanya sudah berakhir." Marcello mengusap rambut Marissa kemudian melabuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.


"Bodyguard, segera hubungi Tuan Riyadh, katakan bahwa Istrinya sedang kita amankan. Jika ia tidak bisa bertindak, maka kita yang akan bertindak tegas kepada wanita itu!" titah Marcello dengan wajah geram.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


...***...


__ADS_2