
"Menikah?!" pekik Marcello sambil membulatkan matanya.
"Ta-tapi, bagaimana bisa aku menikahi gadis kecilku sendiri?!" ucapnya dengan wajah panik.
Ia menoleh kepada Marissa yang tidak kalah shok mendengar hukuman yang akan diterimanya. Ia menatap lekat mata gadis itu kemudian berucap,
"Bicaralah sesuatu, Cha! Daddy tidak mungkin menikahimu karena kamu gadisnya Daddy!" panik Marcello.
Mata Marissa berkedut saat menatap lelaki itu. Ia pun sebenarnya ingin menolak pernikahan itu tetapi bagaimana caranya. Warga pun tidak akan pernah mempercayai perkataan mereka.
"Percuma, Tuan Marcello. Memangnya mereka percaya dengan apa yang akan ku katakan nanti?" sahut Marissa.
Marcello menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal. "Oh, Tuhan. Ampuni aku," gumamnya.
"Ehem!" Pak Kades berdehem sembari mendelik kepada Marcello yang terus curi pandang kepada Marissa.
"Maafkan saya, Pak," ucap Marcello.
"Setelah merundingkan semuanya kepada tetua desa, kami memutuskan untuk menikahkan kalian nanti malam. Dan kami minta, segera persiapkan semuanya. Jangan lupa, hubungi keluarga kalian untuk menjadi wali serta saksi di pernikahan kalian malam ini," tutur Pak Kades.
"Apa?! Secepat itu?!" pekik Marcello.
"Pilih menikah atau kami arak keliling kampung tanpa mengenakan pakaian?! Hayo, pilih mana?!" ancam Pak Kades.
Nyali Marcello menciut ketika mendengar dirinya akan diarak keliling kampung dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Tidak ada lagi pilihan selain menyetujui pernikahan itu.
"Baiklah, Pak. Saya bersedia menikahi Marissa malam ini," ucapnya sambil menganggukkan kepala.
"Bagus. Kalau begitu kamu dan calon istrimu boleh pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi awas! Jangan pernah mencoba kabur atau kami benar-benar akan mengarak kalian mengelilingi kampung ini!" ancam Pak Kades lagi.
"Baik, Pak. Saya mengerti," sahut Marcello.
__ADS_1
"Yang benar saja, seorang Boss besar di arak keliling desa dengan tubuh telanj*ng! Apa yang akan dikatakan oleh rivalku jika mereka mengetahuinya! Benar-benar memalukan," gumamnya sembari bangkit dari tempat duduknya.
Marcello mengulurkan tangannya kepada Marissa dan gadis itupun menyambutnya dengan wajah kusut. Kali ini bukan hanya wajahnya yang terlihat kusut. Namun, hati dan pikirkan memang benar-benar sedang kusut.
Marissa tidak menyangka, hanya karena penasaran dengan perasaan lelaki itu, ia malah dihadapkan dengan pernikahan yang begitu tiba-tiba.
"Kamu akan menjadi Istri Daddy, Cha! Hah, lucu sekali!" gerutu lelaki itu sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah Pak Kades.
"Apa yang akan kita lakukan setelah mereka menikahkan kita, Tuan Marcello?! Apakah kamu akan membuangku sama seperti kamu membuang Sarrah?!" tanya Marissa.
Marcello menoleh kepada Marissa yang berjalan di sampingnya. Lelaki itu sedikit kesal ketika Marissa mengatakan hal itu kepadanya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Cha?! Aku tidak akan pernah membuangmu, apapun yang terjadi karena aku sangat menyayangimu," tutur Marcello sambil terus melangkahkan kakinya.
Marissa menghentikan langkahnya. Ia terus memperhatikan punggung Marcello yang kini berjalan dengan gagahnya. "Seandainya saja, rasa sayang-mu adalah rasa sayang seorang laki-laki kepada seorang perempuan, mungkin tidak masalah bagiku, Tuan Marcello. Tapi," batin Marissa.
Marcello berbalik karena ia tidak melihat bayangan Marissa berjalan di sampingnya. "Cha, kenapa berhenti? Ayo, kita pulang!" ajak lelaki itu.
Sementara itu.
Fattan berjuang keras menempuh perjalanan menuju desa tetangga demi memberitahu Joe tentang Marcello yang baru saja di gerebeg warga.
Setibanya di desa tetangga, ia memanjat pohon demi mendapatkan sinyal yang tidak seberapa, tapi setidaknya masih bisa digunakan untuk menghubungi seseorang di luar sana.
Street ... dreett ...
Ponsel Joe bergetar di atas meja kerjanya. Ia segera meraih benda pipih tersebut kemudian mengecek siapa yang sedang mencoba menghubunginya pagi itu.
"Tuan Marcello?!" gumamnya dengan alis yang saling bertaut.
Joe menerima panggilan itu kemudian meletakkannya ke samping telinga.
__ADS_1
"Ya, Tuan?"
"Tuan Joe. Ini saya, Fattan. Tuan Marcello meminta Anda untuk segera datang ke desa karena saat ini Tuan Marcello sedang dalam masalah," tutur Fattan.
"Apa?!" pekik Joe dengan mata membulat.
"Masalah apa? Dan kenapa ponsel Tuan Marcello ada padamu?!" tanyanya.
"Ceritanya panjang, Tuan Joe. Yang pastinya, saat ini keadaan Tuan Marcello sedang tidak baik," sahut Fattan.
"Baiklah, saya akan segera kesana!"
Tanpa pikir panjang, Joe segera memberitahu para Bodyguard bahwa Marcello sedang dalam masalah dan mereka pun bergegas menuju desa terpencil itu lagi.
Sementara itu di kediaman Bu Nilam.
Marissa diinterogasi oleh Bu Nilam pasal kejadian kemarin.
"Marissa, bagaimana kalian bisa berada di dalam rumah kosong itu?" tanya Bu Nilam.
Sesekali Bu Nilam melirik tetangganya yang masih berdiri di teras rumah. Mereka masih penasaran dengan yang terjadi kepada Marissa dan Marcello.
"Saat itu Marissa dan Tuan Marcello terjebak hujan, Bu. Tetapi, demi Tuhan. Marissa dan lelaki itu tidak melakukan apapun," lirih Marissa dengan wajah memucat menatap Bu Nilam. Sedangkan Erika duduk di sampingnya sambil mengelus lembut pundak gadis itu.
"Sudah, mungkin dia memang jodohmu. Terima saja," ucap Erika tanpa beban.
"Erika!!!" Kesal Marissa sambil menekuk wajahnya.
"Ibu percaya padamu, Nak, dan apa yang diucapkan oleh Erika ada benarnya, mungkin lelaki itu memang jodohmu. Jadi, biar bagaimanapun kalian menghindar, kalian akan tetap bersatu juga," tutur Bu Nilam.
...***...
__ADS_1