Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 48


__ADS_3

"Joe, kirim seseorang untuk mematai-matai Erika. Aku masih belum yakin dengan ucapan gadis itu," titahnya.


"Baik, Tuan."


"Tapi ingat! Jangan tugaskan para Bodyguardmu untuk memata-matainya, karena ia sudah melihat wajah mereka," sambung Marcello.


"Tentu saja, Tuan. Saya akan kirimkan orang baru untuk mengintai kegiatan gadis itu," sahut Joe.


Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, Marcello, Joe dan para Bodyguardnya pun tiba di Mansion. Marcello yang sudah nampak kelelahan, segera menuju kamarnya untuk melakukan ritual mandi kemudian beristirahat.


Sarrah masih berada di Mansion, ia memperhatikan wajah lelah Marcello dari kejauhan, tetapi ia tidak memiliki keinginan untuk menghampiri lelaki itu. Ia masih merasa kesal, apalagi ketika ia ingat kata-kata terakhir Marcello yang tidak akan mengadakan acara pernikahan jika Marissa tidak ditemukan.


Malam ini Sarrah punya janji bersama teman-teman sosialitanya. Mereka kembali mengadakan acara kumpul-kumpul seperti yang biasa mereka lakukan. Berfoya-foya dan memamerkan pakaian serta aksesoris branded mereka.


Setelah berdandan cantik, Sarrah segera meraih tas, sepatu serta perhiasan mahalnya. Ia bergegas pergi menuju halaman Mansion dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke sebuah Restoran ternama di kota itu.


Disepanjang perjalanan menuju Restoran tersebut, Sarrah hanya diam sambil membuang pandangannya kearah jalan. Otaknya terus berpikir, memikirkan bagaimana caranya agar Marcello bisa kembali kepelukannya.


Sekarang wanita itu sadar, bahwa apa yang ia lakukan kemarin adalah suatu kesalahan besar.


"Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Seharusnya Marissa tidak tahu bahwa Marcello bukanlah Ayah kandungnya. Seharusnya Marissa tidak kabur dan masih berada di Mansion milik Marcello. Seharusnya aku dan Marcello sedang repot mempersiapkan hari pernikahan kami. Seharusnya ..." batin Sarah.


Tanpa Sarrah sadari, Ia sudah berada tepat didepan Restoran mewah tersebut. Ia masih terdiam didalam pikirannya sedangkan Pak Sopir bingung karena Sarrah tidak juga keluar dari dalam mobil.


"Maaf, Nona Sarrah. Kita sudah berada didepan Restoran yang anda tuju. Apa Anda ingin kita kembali?" tanya Pak Sopir.


Lamunan Sarrah buyar, ia sontak menoleh kearah sekelilingnya. "Ehm, ternyata sudah sampai, ya!"


Perlahan Sarrah keluar dari mobilnya kemudian bergegas memasuki Restoran tersebut. Didalam, semua teman-temannya sudah berkumpul. Dengan langkah gontai, Sarrah menghampiri meja dimana teman-temannya sudah menunggunya disana.

__ADS_1


Sarrah meraih sebuah kursi dan duduk diantara mereka. Wanita-wanita cantik yang berkumpul disana kebanyakan Istri dari seorang pengusaha dan juga kalangan Selebriti. Sarrah pun dulunya adalah seorang Selebriti tetapi karena kariernya tidak berjalan mulus, ia memutuskan untuk berhenti apalagi setelah ia berhasil mendapatkan seorang Marcello.


Disaat teman-temannya sedang asyik memamerkan perhiasan mahal dan barang-barang branded mereka, Sarrah hanya diam didalam pikirannya sendiri. Hingga salah satu dari mereka menyadarinya.


"Sarrah, kamu kenapa? Dari tadi diam aja, ada masalah? Cerita donk ke kita," ucap salah satu sahabatnya.


"Tidak apa-apa, hari ini aku cuma merasa kurang fit," sahutnya.


"Eh, eh! Aku punya berita baik, loh!" sela salah satu temannya yang lain.


"Apa, sih?! Apa, sih?!" sahut yang lainnya bersamaan.


"Eh, Keke akhirnya isi, loh!"


"Benarkah, selamat yah, Keke!!!"


Semua teman-temannya berbahagia ketika ada salah satu diantara mereka dinyatakan positif hamil, sedang Sarrah masih asik dengan pikirannya sendiri. Memikirkan nasibnya dan juga pernikahannya yang terancam gagal.


Ketika semua temannya bersiap untuk pulang, Sarrah menghampiri temannya yang bernama Keke. Ia mengajak wanita itu duduk kembali di kursi yang tadi mereka duduki kemudian mengajaknya bicara empat mata.


"Ada apa sih, Beb?" tanya Keke.


"Eh, Ke. Kamu masih punya test pack-nya, gak?"


"Test pack apa? Yang baru?" tanya Keke keheranan.


"Bukan! Tapi test pack yang ada garis duanya itu, loh!" sahut Sarrah dengan wajah serius menatap Keke, sahabatnya.


"Masih ada, memangnya kenapa?!"

__ADS_1


"Boleh aku memintanya? Boleh, ya! Boleh, ya! Please ..." lirih Sarrah dengan wajah memelas.


Keke mengerutkan kedua alisnya, "Tapi, untuk apa?"


"Ada, deh! Pokoknya kamu tenang aja! Jika kamu bersedia membantuku, maka aku akan bayar kamu, berapapun kamu mau, ya, ya, please ..."


Keke nampak berpikir dan setelah mempertimbangkan segalanya, iapun menyeringai sambil menatap Sarrah.


"Baiklah aku setuju. Tapi, sebagai imbalannya, aku ingin kamu belikan aku tas yang lagi viral itu, loh!" sahut Keke.


Sarrah terdiam sejenak, memikirkan bayaran yang harus ia keluarkan untuk sebuah test pack menjijikkan itu.


"Bagaimana, Beb?!" tanya Keke.


Sarrah menghembuskan napas berat, kemudian iapun mengangguk tanda setuju.


"Baiklah, tas viral mu akan segera meluncur ke alamatmu!"


Kedua wanita itupun berjabat tangan kemudian setelah semuanya beres, Sarrah pun memutuskan untuk kembali ke Mansion.


Setibanya di bangunan megah itu, Sarrah bergegas menemui Marcello yang masih berada didalam kamarnya. Lelaki itu nampak kacau, rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat sendu, tidak seperti biasanya.


Sarrah menghampiri lelaki itu kemudian memeluknya dari belakang.


"Sayang, maafkan aku soal ucapan kasarku kemarin, ya!" ucap Sarrah sembari menggerayangi tubuh lelaki itu.


"Aku lelah, Sarrah! Maafkan aku."


Marcello menepis tangan Sarrah dari tubuhnya kemudian berbaring dengan posisi membelakangi wanita itu.

__ADS_1


"Cih!" Sarrah berdecih sebal kemudian ikut berbaring dengan wajah menekuk.


...***...


__ADS_2