
"Maaf, Tuan Melvin. Bolehkah aku bertanya?"
Suara Tuan Felix terdengar sangat serius ketika mengajak Melvin bicara via telepon.
"Ya, tentu saja, Tuan Felix. Tanyakanlah," jawab Melvin sembari melepaskan kemeja yang sedang ia kenakan kemudian meletakkannya ke keranjang pakaian kotor.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan kepada Akira, gadis penari yang semalam aku sewa. Sekarang dia sudah mem'blacklist namaku sebagai pelanggannya."
Terdengar jelas dari nada bicaranya bahwa Tuan Felix sedang kesal kepada Melvin saat itu. Melvin tersenyum tipis kemudian menjawab pertanyaan Tuan Felix dengan santainya.
"Maafkan saya, Tuan Felix. Sebagai seorang laki-laki, disuguhkan dengan sesuatu yang seperti itu membuat hasrat dan rasa penasaran saya memuncak. Akhirnya dengan tidak sengaja, saya mengacaukan tarian gadis itu. Tapi, Anda tenang saja, Tuan Felix. Saya akan ganti kerugian Anda."
Tuan Felix mendengus kesal.
"Ini bukan masalah uang, Tuan Melvin. Apa kamu tahu, tidak mudah mendapatkan seorang Akira. Aku bahkan sudah berkali-kali mencoba menyewa jasanya dan baru kali ini dia bersedia memenuhi panggilanku. Sekarang, kamu malah mengacaukannya," gerutu Tuan Felix.
"Maafkan saya sekali lagi, Tuan Felix. Saya berjanji pasti akan membayar semua kerugian Anda," jawab Melvin sambil tersenyum tipis.
"Ah, sudahlah."
Tuan Felix segera memutuskan panggilannya. Lelaki paruh baya itu benar-benar kesal karena namanya sudah di blacklist oleh Akira akibat perbuatan Melvin. Setelah Tuan memutus panggilannya, Melvin mencoba menghubungi seseorang yang terdaftar disalah satu kontraknya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan info tentang gadis itu?"
"Ya, Tuan."
Melvin terlihat sangat serius mendengarkan ucapan seseorang yang sedang bicara di seberang telepon. Ia tersenyum puas karena akhirnya ia tahu siapa sebenarnya Akira, penari erotis yang membuat Melvin begitu penasaran.
"Baiklah, terima kasih infonya."
__ADS_1
Keesokan harinya.
Disaat Tuan Marcello, Marissa, Marvel dan Maria sedang sarapan, Melvin malah izin pamit kepada kedua orang tuanya.
"Mom, Dad! Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"Loh, kamu tidak sarapan dulu, Nak?" tanya Marissa dengan alis yang saling bertaut menatap Melvin yang kini berdiri di sampingnya.
"Tidak, Mom. Aku akan sarapan di kantor saja," ucapnya sembari berlalu setelah mencium kedua pipi Marissa.
"Hati-hati di jalan ya, Vin!"
"Yes, Mom."
"Tumben," gumam Marvel sembari memperhatikan Melvin yang semakin menjauh dari meja makan.
Marvel terkekeh pelan saat ia menoleh pada adik perempuannya itu. Ia mengusap puncak kepala Maria sambil berucap.
"Hush! Kamu tidak boleh bilang seperti itu pada Kak Melvin. Sebaiknya kamu sekolah aja yang benar biar hasil ujianmu nanti memuaskan. Kamu tidak ingin 'kan calon suamimu melihat betapa anjloknya nilaimu," goda Marvel.
Maria mengerucutkan bibirnya, ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Marvel.
Sementara itu.
Sebelum berangkat, Melvin sempat memperhatikan kediaman Tuan Joe dan Sofia. Ia ingin memastikan bahwa Shakila masih berada di kediamannya. Setelah berhasil memastikan bahwa Shakila masih berada disana bersama Mommy dan Daddy serta kedua adiknya, Melvin pun segera memasuki mobilnya.
Melvin melajukan mobil tersebut menuju sebuah universitas swasta yang terletak di tengah kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, Melvin menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang Universitas tersebut.
Melvin meraih ponselnya dan mencoba menghubungi laki-laki yang ia tugaskan untuk memata-matai Akira. Tidak butuh waktu lama, lelaki itu segera menerima panggilannya.
__ADS_1
"Ya, Tuan."
"Dimana gadis itu?"
"Tunggulah sebentar lagi, Tuan. Dia masih di perjalanan menuju kampus tersebut."
"Baiklah kalau begitu," sahut Melvin sambil tersenyum tipis.
Tidak berselang lama, yang ditunggu-tunggu oleh Melvin pun tiba. Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang kampus, tak jauh dari mobil Melvin. Seorang gadis cantik keluar dari mobil tersebut dengan menggendong tas ransel di punggungnya.
Melvin memperhatikan gadis itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Seorang gadis yang sangat mirip dengan Shakila.
Dengan tergesa-gesa, Melvin keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Akira sambil berlari kecil. Akira tidak menyadari keberadaan Melvin di tempat itu. Seandainya ia tahu, pasti Akira akan segera berlari menjauhi Melvin.
"Akira!"
Melvin meraih tangan Akira dan menggenggamnya dengan erat. Gadis itu membulatkan mata setelah mengetahui ada seseorang yang meraih tangannya. Apalagi setelah mengetahui bahwa yang sedang menggenggam tangannya adalah Melvin. Lelaki yang sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Kamu!" pekik Akira.
"Ikutlah denganku!" ucap Melvin sembari menarik tangan Akira dan mengajak gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku, Tuan! Atau aku akan berteriak!" ancam Akira, mencoba melepaskan tangan Melvin yang mencengkeram erat tangannya.
Melvin tidak peduli, ia terus menarik tangan Akira dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, Akira. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu. Percayalah," ucap Melvin mencoba menenangkan gadis itu.
...***...
__ADS_1