Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 214


__ADS_3

"Nih, akhirnya!"


Akhirnya Dylan dan Maria tiba di depan gerbang mansion milik Tuan Marcello yang berdiri dengan kokohnya. Dylan menyerahkan helm milik Maria kepada gadis itu kemudian bersiap pergi. Namun, baru beberapa langkah Dylan melangkahkan kakinya, Maria bergegas meraih lengan lelaki itu dan mencoba menahannya.


"Om Udin gak mau mampir dulu? Nanti Maria kasih makanan dan minuman yang enak-enak, mau ya?" ajak Maria sembari menarik tangan Dylan.


"Maafkan aku, Nona. Aku tidak bisa. Aku tidak ingin mencari masalah sama Tuan Dylan. Bisa-bisa aku dipecat dan bagaimana caranya aku membayar ganti rugi satu milyarmu kalau aku tidak bekerja lagi?"


Maria menekuk wajahnya sambil memperhatikan wajah Dylan. "Iya, iya baiklah. Padahal Maria ingin memperkenalkan Om sama Mommy dan Daddynya Maria."


"E-eh, jangan! Aku malu, Non."


Dylan menarik tangannya kemudian bersiap untuk pergi secepatnya dari tempat itu.


"Sebaiknya aku pulang dulu, Non."


Belum sempat Maria menjawab ucapannya, Dylan sudah berlari meninggalkan Maria bersama motor maticnya di depan gerbang mansion.


"Eh, kenapa aku merasa nyaman saat bersama Om Udin, ya?" gumam Maria sambil terus memperhatikan jalanan yang dilewati oleh Dylan.


"Heh, Gadis Daddy! Bolos lagi?"


Maria sontak menoleh dan ternyata Sang Mommy sudah berdiri tepat di hadapannya sambil menyilangkan tangan ke dada.


"Eh, Mommy. Sebenarnya bukan begitu, Mom. Tadi itu ban motor Maria bocor, jadinya Maria terlambat lagi. Untung ada Om Udin yang mau bantuin Maria nyari bengkel," tutur Maria


"Udin lagi, Udin lagi. Memangnya siapa sih Udin itu, bikin penasaran aja." Marissa menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang bernama Udin tersebut.


"Om Udinnya udah pulang, Mom."


"Ya, sudah. Cepat masuk! Apa kamu ingin terus disini?"


"Baik, Mom."

__ADS_1


Marissa merengkuh pundak Maria kemudian menuntun gadis itu memasuki kediaman mewah mereka.


"Sebaiknya kamu berhenti menggunakan motor itu, Maria sayang. Kalau gak mau di anterin sama Pak Sopir, kamu bisa minta Daddy belikan yang baru, yang tidak akan menyusahkanmu."


"Belikan yang baru saja, Mom. Bilangin sama Daddy kalau aku ingin motor yang sama dengan motif seperti itu pula dan jangan lupa warnanya pink," ucap Maria sambil tersenyum lebar.


"Dasar Ratu Kitty!"


Sementara itu.


Setelah ia berada jauh dari Mansion, Dylan segera menghubungi Mac, Assisten pribadinya agar segera di jemput.


"Hallo, Mac. Segera jemput aku! Nanti aku share Loc,"


"Baik, Tuan."


Selang beberapa saat, Mac pun tiba dan segera membukakan pintu mobilnya untuk Dylan. Dylan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian belakang.


"Antar aku pulang saja, Mac. Aku ingin segera membersihkan diriku. Lihatlah, aku terlihat kucel dan berantakan," ucap Dylan sambil memperhatikan tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Mac terkekeh pelan. "Sebenarnya siapa gadis itu, Tuan?"


Dylan menghembuskan napas berat dan kini tatapannya nampak kosong menerawang.


"Dia Maria, anak gadis Tuan Marcello."


"Benarkah?!" pekik Mac yang seolah tidak percaya. "Apakah ini adalah salah satu rencana Anda?"


"Entahlah, Mac. Aku tidak tahu," jawab Dylan sambil mengusap wajahnya kasar.


Tiba-tiba saja ekspresi wajah Dylan berubah panik. Lelaki itu memeluk perutnya dan wajahnya pun terlihat memucat.


"Astaga, perutku!" pekik Dylan.

__ADS_1


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Mac yang ikut panik.


Mac menepikan mobilnya dan memperhatikan Dylan yang sedang kesakitan.


"Jangan berhenti, Mac! Aku harus ke toilet secepatnya! Kalau tidak--"


Buutt ... buutt ....


"Aduh! Benar-benar memalukan!" gumam Dylan yang masih memeluk perutnya dengan wajah pucat pasi.


Mac segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Antara lucu dan kasihan, Mac memperhatikan Dylan yang sedang sakit perut.


"Ini gara-gara gadis itu! Hah, kenapa juga aku mau ikutan dia jajan sembarangan," keluh Dylan.


"Tuan Dylan, perjalanan kita lumayan jauh jika menuju kediaman Anda, apa tidak sebaiknya kita mencari toilet umum saja?"


"Terserah padamu, aku sudah tidak tahan lagi!"


Dengan terpaksa, Mac berhenti di salah satu SPBU dan Dylan pun segera masuk ke dalam toilet umum yang disediakan di tempat itu.


Cukup lama Mac menunggu Dylan di dalam mobil. Namun, sepertinya lelaki itu masih betah berada di dalam toilet tersebut.


Hingga akhirnya Dylan keluar dari tempat itu dengan kondisi lemas dan wajah yang memucat. Dengan tergopoh-gopoh, Dylan berjalan menghampiri mobilnya. Melihat kondisi Tuannya yang seperti itu, Mac segera keluar dari mobil dan segera membantu Dylan.


"Sebenarnya Anda kenapa, Tuan?" tanya Mac cemas.


"Aku baru saja mencicipi bakso super pedas yang diberikan oleh Maria dan aku juga yakin, air minum yang diberikan oleh Abang penjual bakso itupun bukanlah air matang!"


"Astaga, Tuan Dylan. Semoga perut Anda baik-baik saja."


"Mac, segera hubungi Dokter. Jangan sampai terlambat, bisa-bisa aku tidur di Rumah Sakit lagi seperti dulu dan aku tidak ingin itu," ucapnya sambil meringis memeluk perutnya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


...***...


__ADS_2