
"Apa maksudmu, Joe?"
Marcello kebingungan setelah mendengar kata-kata Joe saat itu. Ia segera menghampiri Joe yang sedang mengotak-atik laptopnya yang ada diatas meja kemudian Joe mempersilakan Marcello untuk duduk di kursi kesayangannya itu.
"Silakan duduk, Tuan."
Setelah Marcello duduk, Joe menghadapkan layar laptop tersebut kehadapan Tuan Marcello. Sebuah video sedang diputar, video rekaman CCTV di jalan raya yang letaknya tak jauh dari Panti Asuhan, tepatnya 19 tahun yang lalu.
Marcello memperhatikan video tersebut dengan seksama bahkan tak berkedip sedikitpun.
Di video tersebut, nampak seorang wanita sedang membawa sebuah kotak air mineral dengan langkah mencurigakan. Beberapa kali wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan keadaan sekitarnya.
Joe mengklik tanda 'pause' kemudian men-zoom layar tersebut hingga nampaklah dengan jelas wajah seorang wanita yang sedang membawa kotak mineral, berisi seorang bayi perempuan yang masih lengkap dengan ari-arinya.
"Ani?!" pekik Marcello dengan mata membulat.
Marcello begitu shok setelah mengetahui siapa yang membuang bayi mungil itu di samping panti asuhan. Seorang wanita yang begitu ia kenal. Wanita yang selama ini ikut merawat dan menjaga Marissa sejak bayi hingga sekarang.
"Ternyata Ani ... ta-tapi kenapa ia melakukan hal itu? Sebenarnya siapa dia?" tanya Marcello dengan terbata-bata sembari menatap Joe dengan tatapan seriusnya.
"Sebaiknya Anda tanyakan sendiri pada wanita itu, Tuan."
Joe menghampiri salah seorang Bodyguard kemudian memerintahkan lelaki sangar itu untuk menjemput Bi Ani di kamarnya.
__ADS_1
"Segera jemput Bi Ani dan bawa ke ruangan ini."
"Baik, Tuan."
Sang Bodyguard pun bergegas menuju kamar Bi Ani. Sementara Bodyguard masih dalam perjalanan menjemput Bi Ani, Marcello kembali memperhatikan video tersebut. Sejuta pertanyaan menyeruak didalam otaknya. Siapa Bi Ani? Kenapa Bi Ani membuang Marissa kecil di malam kelam itu dan apa hubungan wanita itu sebenarnya dengan Marissa.
Tidak berselang lama, Bodyguard pun tiba bersama Bi Ani. Bi Ani nampak kebingungan karena tidak biasanya Tuan Marcello ingin bicara empat mata dengannya.
"Bi Ani, duduklah," ucap Marcello sembari mempersilakan wanita itu untuk duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya.
Dengan ragu-ragu, Bi Ani duduk di kursi tersebut sambil terus memperhatikan wajah Marcello yang begitu serius menatap layar laptopnya.
"Maafkan saya, Tuan. Sebenarnya apa yang ingin Tuan tanyakan kepada saya?" tanya Bi Ani yang mulai ketakutan.
Marcello memutar laptopnya dan sekarang layar laptop tersebut tepat berada di hadapan Bi Ani.
Bibir Bi Ani bergetar hebat. Bahkan untuk menjawab pertanyaan Marcello pun bibirnya terasa sangat berat. Wanita itu meremass kedua tangannya yang sangat dingin secara bergantian. Wajahnya pun kini terlihat memucat.
"Sa-saya tidak mengerti maksud Anda, Tu-tuan Marcello," ucapnya terbata-bata.
Marcello menyeringai sambil menatap Bi Ani dengan wajah malas. "Tidak usah mengelak lagi, Dian Maharani. Hasil rekaman CCTV tersebut sudah menjelaskan semuanya dan sebaiknya kamu katakan padaku, apa alasanmu membuang Marissa kecil pada malam itu? Dan satu lagi, sebenarnya apa hubunganmu dengan bayi mungil itu?"
Bi Ani terdiam sejenak sambil mengingat-ingat kejadian 19 tahun silam. Wajahnya murung dan matanya terlihat berkaca-kaca. Sedangkan Marcello dan Joe sudah tidak sabar menunggu jawaban dari wanita itu.
__ADS_1
"Nyonya Dian Maharani, sebaiknya Anda ceritakan saja yang sebenarnya, agar masalah ini cepat selesai. Anda tidak ingin 'kan kasus ini kami lanjutkan ke pihak yang berwajib?" ancam Joe.
Bi Ani mendongak kemudian menatap Joe yang kini sedang menyeringai licik kepadanya. Wanita itu seakan sudah tidak punya pilihan lain selain mengungkapkan kisah yang sebenarnya.
"Ya, Tuan Marcello. Saya mengaku, saya lah orang yang telah membuang bayi mungil di samping panti asuhan pada malam itu," jawab Bi Ani dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
Marcello dan Joe saling melempar senyum. Mereka merasa puas karena pada akhirnya Bi Ani mengakui semuanya.
"Ta-tapi, bolehkan saya meminta sesuatu kepada Anda, Tuan Marcello?"
"Apa itu?!"
"Saya bersedia menceritakan semuanya, tetapi Anda harus berjanji untuk tidak menceritakan hal ini kepada Nona Marissa? Saya tidak ingin Nona Marissa membenci saya, Tuan," lirihnya.
Marcello menautkan kedua alisnya setelah mendengar permintaan wanita itu.
"Marissa patut membencimu, Dian Maharani. Karena kamu adalah orang yang sangat jahat, yang sudah membuang dirinya pada malam itu," sahut Marcello.
Tubuh Bi Ani bergetar hebat. terdengar isak tangis dibalik wajahnya yang tertunduk.
"Sebenarnya ini bukan keinginan saya, Tuan Marcello. Saya terpaksa melakukan itu karena--" ucapan wanita itu kembali terjeda karena tangisnya semakin menjadi.
Joe berkali-kali menyerahkan tissu kepada wanita itu, tetapi percuma saja. Air matanya terus meluncur dari kedua sudut mata Bi Ani.
__ADS_1
...***...
Lanjutannya besok lagi ya, biar kalian pada penasaran gk gk gk 😂😂😂 (tertawa jahat)