Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 27


__ADS_3

Dreett ... dreett ...


Ponsel Joe bergetar dan lelaki itu pun segera meraihnya. Ia meletakkan pena yang sejak tadi ia pegang dan juga beberapa lembar berkas yang ada di tangannya keatas meja.


Joe menerima sebuah pesan chat dari seorang Mahasiswi yang ia sewa untuk memata-matai Marissa dan Dosennya. Lelaki itu segera membuka pesan tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama.


"Hmm," gumam Joe dengan wajah masam sekaligus kecewa setelah melihat isi pesan tersebut.


Joe terdiam sejenak sambil berpikir keras. "Beritahu atau tidak? Jika tidak diberitahu, takutnya Tuan Marcello tahu dari orang lain dan itu pasti akan berdampak pada pekerjaanku. Dan jika aku beritahu, Lelaki itu pasti akan meradang dan aku merasa kasihan sama Nona Marissa yang pastinya akan kena marah oleh Tuan Marcello," gumam Joe.


Setelah mengambil keputusan berat, akhirnya Joe bangkit dari tempat duduknya. Lelaki itu melangkah dengan cepat menuju ruangan Tuan Marcello.


"Ada apa, Joe?" tanya Marcello ketika Joe tiba di ruanganya dengan wajah masam.


"Ehm, saya baru saja mendapat pesan chat dari Mahasiswi yang saya tugaskan untuk memata-matai Nona Marissa dan lelaki itu," dari Joe sembari menyerahkan ponselnya kepada Marcello.


Marcello memperhatikan foto-foto kebersamaan Marissa dan Fattan di kampusnya. Wajah Marcello seketika memerah. Ia benar-benar terbakar rasa cemburu. Apalagi ketika ia melihat foto terakhir, dimana Fattan menatap Marissa sambil tersenyum, begitupula Gadis itu, iapun membalas senyuman Fattan.


"Menyebalkan! Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Marissa? Kuliah atau berpacaran dengan Dosen itu?!" hardik Marcello.


"Jika mereka saling mencintai, kenapa tidak direstui saja, Tuan. Maafkan saya jika saya sudah lancang," sahut Joe sambil menundukkan kepalanya.


Brakkk!!!


Marcello menggebrak mejanya dengan sangat keras.Ia kesal mendengar masukan dari Asistennya itu.


"Enak saja kamu bilang restui! Tidak semudah itu, Marissa harus benar-benar mendapatkan laki-laki yang mapan, tidak seperti Dosen itu! Kamarku saja lebih besar dari rumahnya!" geram Marcello.

__ADS_1


Joe memasang wajah malas, tetapi pada saat itu kepala Joe masih tertunduk hingga Marcello tidak menyadari akan hal itu.


"Hmm, alasan Anda tipis, Tuan Marcello. Kenapa tidak akui saja bahwa Anda jatuh cinta pada Nona Marissa! Lagipula Gadis itu bukanlah anak kandungmu," batin Joe.


Sementara itu,


Marissa berdiri didepan gerbang kampus, menunggu Joe yang akan segera menjemputnya.


Tin ... tin ...


"Marissa, mau aku antar?" ucap Fattan sembari terkekeh pelan. Mengingat terakhir kali ia berniat mengantarkan Gadis itu, ia berada dalam masalah besar.


Marissa pun ikut terkekeh, "Tidak usah, Pak. Takut ketahuan sama Daddy," sahut Marissa.


"Ya, sudah! Aku duluan, ya!" ucap Fattan sembari melajukan mobilnya.


Sepeninggal Fattan, tiba-tiba ponsel Marissa berdering. Gadis itu meraih ponsel dari dalam saku celananya kemudian mengecek siapa yang sedang menghubunginya. Dengan wajah semringah, Marissa meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.


l"Ya, foto dan video barang tersebut akan aku kirimkan ke nomor WA-mu. Dan aku akan mengirimkan barangnya setelah kamu transfer uangku," sahut Lelaki itu.


"Ish, sudah kubilang jangan persoalkan masalah upahmu! Aku akan bayar dua kali lipat. Sini, mana nomor rekeningmu dan juga jumlah yang harus kubayar! Akan ku transfer uangmu hari ini juga dan aku tidak mau tahu, pokoknya barang itu harus tiba hari ini karena aku sangat membutuhkannya!" ucap Marissa.


"Tidak masalah, aku jamin hari ini paketanmu akan segera sampai di tanganmu," sahut lelaki itu.


Tepat disaat itu, Joe tiba. Lelaki itu bergegas membukakan pintu mobil untuknya.


"Ya, sudah kalau begitu. Terima kasih," ucap Marissa sembari memutuskan panggilan lelaki tersebut.

__ADS_1


"Silakan, Nona," ucap Joe


"Terima kasih," sahut Marissa sembari masuk kedalam mobilnya.


. . .


"Aduh! Lama sekali! Bisa-bisa gagal rencanaku jika paketan itu tidak juga tiba hari ini!" gerutu Marissa.


Marissa mondar-mandir didepan Mansion dengan wajah cemas. Sedangkan saat itu orang-orang sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangan Marcello dan Sarrah yang akan dilaksanakan pada besok malam.


Tidak berselang lama, seorang pengantar paket berhenti tepat didepan gerbang Mansionnya. Lelaki itu membuka kaca helm yang sedang ia kenakan sambil memperhatikan Mansion mewah milik Marcello dengan mata membulat sempurna.


"Aha, mungkin itu dia orangnya!" gumam Marissa sembari berlari kecil menuju gerbang depan.


"Ada paket atas nama Marissa," kata Kurir tersebut kepada penjaga keamanan.


"Boleh saya lihat?!" sahut Penjaga keamanan sambil menatap Kurir itu dengan tatapan curiga.


"Ah, itu paketanku, Pak!" seru Marissa dengan napas terengah-engah menghampiri mereka.


"Marissa, ya?" tanya Kurir tersebut sambil memperhatikan penampilan Hot Marissa.


"Nona Marissa dan tolong jaga mata Anda sebelum saya melakukan sesuatu yang tidak Anda inginkan," ancam penjaga keamanan tersebut.


"Ehm, baiklah. Maafkan saya," ucap Kurir tersebut sembari menundukkan kepalanya. Setelah menyerahkan paketan tersebut, Kurir itu pun segera melajukan motornya tanpa berani menoleh lagi.


Setelah Marissa meraih paketan tersebut, kini gadis itu menatap Penjaga keamanan dengan tatapan penuh selidik. Namun, Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikannya. Ia tetap menatap lurus kedepan tanpa peduli bagaimanapun reaksi Marissa saat itu.

__ADS_1


"Sebenarnya mereka itu kenapa?" gumam Marissa sembari berlari menuju Mansion sambil memeluk paketan tersebut.


...***...


__ADS_2