
Sementara Sofia dan Marissa bicara di tempat itu, Marcello segera bangkit kemudian menghampiri Marvel yang sedang asik duduk disalah satu kursi sambil membuka-buka sebuah buku.
Walaupun dia tidak tahu bacaan apa yang tertulis di buku tersebut, tetapi ia begitu menghayati lembaran demi lembaran kertas di buku tersebut. Berbeda dengan Melvin, sang Adik. Bocah itu memilih berlarian bersama Arsya dan baby Alifa (Putri kecil Erika dan Fattan) yang baru saja pandai berjalan. Ketiga bocah kecil itu berlarian di tengah-tengah ruangan pesta dan menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
"Hei, Jagoan Daddy! Sebenarnya apa yang menarik dari buku itu? Kamu lihat disana? Melvin dan Om kecilmu sedang asik berlarian bersama si gadis cantik, tapi kamu malah asik disini dengan buku itu. Sebenarnya kamu sendiri tidak mengerti 'kan apa yang tertulis di buku tersebut?" goda Marcello sembari mencubit pipi cubby Marvel.
Marvel hanya tersenyum, tetapi tak ada satupun kata yang terucap di bibirnya yang mungil itu. Marvel memang jarang bicara. Anak lelaki itu memang lebih pendiam dibanding saudara kembarnya, Melvin. Di ruangan itu saja hanya terdengar suara pekikan dan tawa Melvin yang menggema hingga ke langit-langit ruangan.
Sementara itu.
Sofia menghela napas panjang kemudian mengangkat kepalanya menatap Marissa yang sangat penasaran.
"Sebenarnya aku juga berencana ingin mengadopsi bayi mungil itu, Nona."
Untuk sejenak Marissa terdiam sambil memperhatikan wajah serius Sofia. Namun, beberapa detik berikutnya Marissa menyunggingkan senyuman lebar di wajah cantiknya.
"Kamu serius, Sofia?"
"Ya, Nona," jawab Sofia.
"Kemarilah, Sofia. Peluk aku," pinta Marissa sembari mengulurkan sebelah tangannya kepada Sofia. Sedangkan sebelah tangannya yang lain, ia digunakan untuk menahan tubuh bayi mungil tersebut.
Sofia mendekat kepada Marissa kemudian memeluk tubuh wanita itu dari samping. Marissa pun membalas pelukan Sofia dengan wajah semringah.
"Aku sangat senang mendengarnya, Sofia. Jika kamu benar-benar serius ingin mengadopsi bayi ini, maka akan aku serahkan bayi ini kepadamu. Aku percaya bahwa kamu akan merawatnya dengan baik dan tidak akan menyia-nyiakannya," ucap Marissa.
Sofia melepaskan pelukan Marissa kemudian menatap wajah majikannya itu dengan tatapan serius.
"Serius, Nona? Nona akan memberikan bayi ini kepadaku?" tanya Sofia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Marissa menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya Sofia, tapi berjanjilah padaku bahwa kamu akan menyayangi bayi ini seperti anak kandungmu sendiri."
"Ya, Nona. Tentu saja, aku berjanji akan menyayangi bayi ini seperti anak kandungku sendiri," sahut Sofia mantap.
Perlahan Marissa menyerahkan bayi mungil itu kembali kepada Sofia sambil tersenyum hangat. Kemudian disambut oleh Sofia dengan mata berkaca-kaca karena saking terharunya.
"Terima kasih, Nona. Karena sudah memberikanku kesempatan untuk merawat anak ini."
"Sama-sama, Sofia."
Marissa menghampiri Marcello yang berada tak jauh darinya kemudian memeluk tubuh lelaki itu dari belakang. Marcello sempat terkejut, tapi setelah mengetahui bahwa yang sedang memeluknya adalah Marissa, ia pun tersenyum.
"Icha sayang." Marcello mengelus lengan Marissa yang melingkar di perut six pack-nya.
"Sofia yang akan mengadopsi bayi mungil itu, Dad," ucap Marissa sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Marcello.
"Kamu benar, Dad."
Akhirnya acara ulang tahun meriah itupun selesai. Sementara para pelayan dan pekerja lainnya masih sibuk membereskan sisa-sisa pesta, para pemilik mansion sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.
Pasangan Marissa dan Marcello kini tengah asik bersandar di sandaran tempat tidurnya sambil berceloteh ria bersama kedua anak kembarnya.
"Bagaimana pestanya, Melvin? Kamu suka?"
"Ya, Melvin tuka," celotehnya.
Sedangkan Marvel hanya diam sambil memeluk tubuh Marissa.
"Kalau Kakak Marvel bagaimana? Kakak suka?" tanya Marissa sembari mengelus puncak kepala anaknya itu.
__ADS_1
Marvel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Marissa. "Ya," jawabnya singkat.
Di kamar Sofia dan Joe.
"Mas, tadi aku hampir saja putus asa," tutur Sofia sembari mengenakan piyama tidurnya.
"Kenapa?" tanya Joe sambil menatap wajah Sofia dengan serius.
"Ternyata Nona Marissa juga menginginkan bayi mungil itu."
"Lalu?"
"Setelah aku mengatakan bahwa aku juga ingin mengadopsi bayi mungil itu, akhirnya Nona Marissa mengerti dan menyerahkan bayi mungil itu kepadaku," tutur Sofia sambil tersenyum hangat.
"Kenapa Nona Marissa juga menginginkan bayi itu? Bukankah mereka sudah punya dua jagoan tampan yang selalu meramaikan hari-hari mereka. Lagipula mereka tidak akan kesusahan jika ingin punya bayi lagi."
"Mungkin Nona Marissa hanya merasa iba kepada bayi mungil itu. Sama seperti halnya kita, Mas."
"Kamu benar. Oh ya, aku sudah bicara dengan Bu Kepala Panti dan wanita itu bilang bahwa mereka akan membantu mempercepat urusan adopsi bagi mungil itu untuk kita," tutur Joe sembari memeluk tubuh Sofia.
"Benarkah?!"
"Ya."
"Akh, aku senang sekali!"
(Bayi mungil yang diadopsi oleh Joe dan Sofia akan jadi salah satu tokoh di cerita selanjutnya. Jadi, biarin dia gede sama Mak Sofia sama Pak Joe, ya 😆😆😆)
...***...
__ADS_1