
"Udin itu yang mana sih, Maria? Kakak jadi bingung?!" tanya Melvin sambil menggaruk pelipisnya.
"Yang itu, Kak! Yang paling keren!" sahut Maria sambil memperhatikan Dylan yang kini semakin mendekat kepada mereka.
"Kalau menurut Kakak, mereka berdua sama kerennya. Tapi, yang jadi pertanyaan sekarang, siapa diantara mereka yang bernama Udin?" pekik Melvin
"Ish, Kakak! Bukankah sudah Maria bilang kalau yang sedang berjalan bersama Om Udin itu, Mac! Assistennya Tuan Dylan."
Melvin refleks menoleh kepada Maria kemudian meraba kening gadis itu. "Ya, Tuhan! Ada apa dengan adikku ini?" pekik Melvin.
"Apaan sih, Kakak!" Maria menepis tangan Melvin sambil menekuk wajahnya.
"Vel, aku rasa adik perempuan kita sedang sakit! Masa Tuan Dylan dipanggil Om Udin sama dia? Dan anehnya lagi, dia masih tau bahwa Mac itu assistennya Tuan Dylan? So, yang jadi Tuan Dylan itu siapa?" bisik Melvin.
Marvel tersenyum.
"Entahlah, tapi kalau menurutku diantara Tuan Dylan dan Maria sedang terjadi kesalahpahaman," sahut Marvel.
"Ya, bisa jadi."
"Hei, kalian membicarakan apaan, sih?" tanya Maria.
"Bukan apa-apa. Kita lihat saja bagaimana kelanjutan ceritanya," sahut Melvin yang sepertinya sudah tidak ingin ambil pusing dengan adiknya itu.
"Hah?!"
Tepat disaat itu Dylan dan Mac sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Marvel dan Marissa masih terpelongo memperhatikan penampilan Udin yang benar-benar jauh dari perkiraan mereka.
__ADS_1
Sebagai kakak tertua, Marvel menyambut kedatangan Dylan. Ia mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
"Selamat datang di kediaman kami, Tuan Dylan. Mari, silakan duduk," ajak Marvel.
"Terima kasih," ucap Dylan sambil tersenyum sembari menyambut uluran tangan Marvel.
Maria kebingungan saat Kakaknya Marvel memanggil Om Udin kesayangannya dengan nama Dylan. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menatap semua orang di ruangan itu secara bergantian.
"Sebentar, sebentar! Kak Marvel, nama Om ini Udin, bukan Dylan!" jelas Maria. "Benarkan, Om?" Maria melirik Dylan yang kini mulai kebingungan dengan identitas dirinya sendiri.
Sontak saja, pernyataan Maria tersebut membuat Marvel dan Melvin terkekeh.
"Maria Silvana, adik perempuan Kakak yang paling Kakak sayang, Om ini namanya Tuan Dylan Elliot Carter, bukan Om Udin. Om Udin itu sopirnya, bukan begitu Tuan Dylan?!" ucap Melvin.
Dylan hanya bisa tersenyum kecut sambil memperhatikan ekspresi Maria saat itu. Ia mengelus tengkuknya sambil bergumam.
Mata Maria membulat sempurna. Ia merasakan kepalanya mulai terasa berat dan berputar-putar. Jantungnya seakan tak lagi berdetak setelah tahu bahwa selama ini ia sudah ditipu oleh Om Udin kesayangannya.
"Jadi-- selama ini Om Udin ...."
Belum habis Maria berucap, gadis itu jatuh tersungkur ke lantai dan tidak sadarkan diri. Ia benar-benar shok setelah mengetahui kebenaran itu.
Marissa panik, ia segera menghampiri putri kesayangannya yang sedang tidak sadarkan diri. Begitupula Marcello dan kedua kakak kembarnya.
"Maria sayang, kamu kenapa, Nak?" pekik Marissa dengan wajah panik.
"Biar Marvel angkat," ucap Marvel sembari mengangkat tubuh Maria yang tidak sadarkan diri, kemudian membawanya kembali ke kamar.
__ADS_1
Bukan hanya keluarga Tuan Marcello yang sedang dilanda kepanikan. Dylan dan Mac pun panik, terlebih Dylan karena ia merasa bahwa ini adalah kesalahannya.
"Apa Maria baik-baik saja? Ini semua karena salahku, Mac," gumam Dylan kepada assistennya, Mac.
Sementara yang lainnya menuju kamar Maria, Melvin memilih menemani Dylan dan Mac yang masih terdiam di ruangan itu.
"Maafkan aku, Tuan Melvin. Sebenarnya aku tidak bermaksud membohongi Nona Maria soal siapa aku yang sebenarnya. Saat itu terjadi kesalahpahaman diantara kami hingga akhirnya Nona Maria hanya mengenalku dengan nama Udin," jelas Dylan dengan wajah penuh rasa bersalah.
Melvin terkekeh pelan. "Pasti lucu ya, Tuan Dylan. Kami saja selalu tertawa jika Maria menyebut nama Om Udin. Entah kenapa kami merasa lucu saja jika dia menyebut nama itu."
"Saat ini aku benar-benar merasa bersalah, Tuan Melvin. Maafkan aku," lirih Dylan. "Sebenarnya aku memang berencana ingin memberitahukan siapa aku yang sebenarnya kepada Nona Maria malam ini dan aku harap ia bisa mengerti."
"Tenang saja, Tuan Dylan. Aku rasa Maria pasti bisa mengerti. Apalagi setahuku dia begitu mencintai sosok Om Udin."
"Ya, semoga saja begitu." Dylan menghembuskan napas berat sembari menundukkan kepalanya menghadap lantai.
Setelah yakin Maria baik-baik saja, Marcello kembali ke ruang utama dan duduk di tempatnya semula. Dylan tidak berani menatap wajah Tuan Marcello karena ia benar-benar merasa bersalah dan juga sangat malu.
"Maria baik-baik saja, Tuan Dylan. Dia sudah sadar, hanya saja dia masih shok," ucap Marcello yang ternyata menyadari kepanikan Dylan saat itu.
Perlahan Dylan mengangkat kepalanya kemudian membalas tatapan Tuan Marcello.
"Maafkan saya, Tuan Marcello. Saya tidak menyangka bahwa Maria akan begitu shok setelah mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Tapi, demi Tuhan saya tidak memiliki maksud apapun terhadap putri Anda," tutur Dylan dengan wajah memelas menatap Marcello.
Marcello tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Jelaskan semuanya kepada Maria, Tuan Dylan. Karena dialah yang sangat membutuhkan penjelasan darimu."
...***...
__ADS_1
Author minta maaf karena Up selalu telat mana gak bisa 3 bab lagi 😢😭 Bocil author sekarang suka ngerecokin emak kalau sedang ngetik. Emak disuruh joged-joget lah, kadang di ajakin jajan lah, mandi lah, 😵😵😵 macem-macem gaya dia 😱🙏 Kalau ada typo dan sebagainya, mohon di maklumi ya 😘😘😘 dari Author dengan bocil dua tahun yang sedang aktif aktifnya 😂😂😂