Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 241


__ADS_3

Perlahan Akira meraih ponsel milik Melvin dan memperhatikan foto seorang gadis yang begitu mirip dengannya.


"Ya, Tuhan!" pekik Akira sembari membulatkan matanya.


"Ayo, tertawalah lagi," ucap Melvin sambil tersenyum tipis melihat ekspresi Akira saat itu.


"Bagaimana bisa? Dia begitu mirip denganku hanya saja aku tidak pernah punya setelan seperti ini."


Akira memperhatikan foto Shakila dengan seksama bahkan kedua bola matanya tidak berkedip sedikitpun.


"Eh, aku masih ragu, ya! Jangan-jangan ini editan lagi dan kamu punya rencana buruk padaku, ya 'kan?"


"Ya Tuhan, Nona Akira! Bagaimana lagi caranya agar aku bisa meyakinkan dirimu bahwa aku tidak memiliki niat jahat. Aku hanya ingin tahu apa hubunganmu dengan Shakila. Apakah kalian memang memiliki hubungan darah atau hanya sekedar kebetulan mirip saja. Lagipula apa untungnya aku mengedit-edit fotomu, seperti tak ada kerjaan saja," gerutu Melvin.


Melvin kembali meraih ponselnya dari tangan Akira kemudian membuka kumpulan foto-foto Shakila.


"Nah, apa aku kurang kerjaan dengan mengedit fotomu hingga sebanyak ini?"


Akira meraih ponsel milik Melvin dan kembali memperhatikan koleksi foto-foto Shakila yang menghambur di galeri lelaki itu.


"Kamu benar, dia benar-benar mirip denganku."


Akira kembali terdiam dan matanya masih fokus menatap foto Shakila satu-persatu. Sedangkan tatapan Melvin terus tertuju pada Akira yang menurutnya sangat cantik.


"Setahuku, aku adalah anak satu-satunya dan kedua orang tuaku pun tidak pernah menyinggung bahwa aku memiliki saudara kembar."


"Benarkah? Itu artinya kalian berdua hanya kebetulan mirip saja, begitu?"

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi entahlah. Oh ya, ngomong-ngomong Shakila itu kekasihmu, ya?"


Akira menyerahkan kembali ponsel milik Melvin dan segera disambut oleh lelaki itu.


"Eh, bukan-bukan!" jawab Melvin kelabakan. "Dia adalah anak dari Om dan Tanteku."


"Oh, aku kira dia kekasihmu. Soalnya galeri fotomu penuh dengan foto gadis itu," sahut Akira sambil terkekeh pelan.


Wajah Melvin terlihat memerah karena malu.


"Akira, maafkan aku. Bolehkan aku bertanya sesuatu? Mungkin pertanyaanku akan menyinggung perasaanmu," ucap Melvin dengan sangat hati-hati.


Akira terdiam sejenak sambil berpikir. Tidak lama setelah itu, ia pun menganggukkan kepalanya secara perlahan.


"Baiklah, apa?"


Perkataan Melvin terhenti ketika melihat ekspresi wajah Akira yang menjadi sendu.


"Ya, kamu benar, Tuan. Aku memang sedikit aneh. Banyak orang yang mengira aku melakukan pekerjaan itu hanya untuk mencari uang, padahal itu sama sekali tidak benar. Aku melakukan pekerjaan itu bukan untuk mencari uang, melainkan hanya untuk kepuasan. Entah mengapa aku merasa puas jika berhasil menari di atas pentas dengan penonton-penonton pilihan. Penonton yang begitu antusias melihat tubuhku tetapi tidak bisa menyentuhku."


Tersungging sebuah senyuman tipis di wajah Akira.


"Jadi berita itu benar, bahwa kamu tidak menerima job selain menari?"


Akira menoleh kepada Melvin sambil tersenyum hangat. "Ya, tentu saja itu benar. Aku masih perawan dan aku tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Coba saja sentuh aku jika ingin merasakan bogeman mentah dari kedua Bodyguardku," sahutnya.


Melvin bertepuk tangan sambil tersenyum puas. "Hebat! Aku salut. Maaf sekali lagi, apa kedua orang tuamu tahu pekerjaanmu selama ini?"

__ADS_1


"Gila aja! Kalau orang tuaku tahu apa pekerjaanku, bisa-bisa aku diusir oleh mereka. Apa kamu tahu, Tuan Melvin. Kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan dunia mereka. Mereka bahkan lupa bahwa ada aku yang juga butuh perhatian. Bukan hanya sekedar tentang materi, tetapi juga kasih sayang. Aku butuh itu, tetapi mereka tidak pernah mengerti," ucap Akira dengan nada kesal dan matanya pun terlihat berkaca-kaca.


"Jadi itu masalahnya."


"Ya, dan aku melampiaskan kekesalanku dengan menari nakal di atas pentas dan di tonton oleh orang-orang pilihan."


"Astaga, aku tidak habis pikir," gumam Melvin sembari memijit pelipisnya.


"Sudahlah lupakan itu! Dan sekarang kamu harus jaga rahasia ini, Tuan Melvin. Aku tidak main-main, aku bisa saja memerintahkan kedua Bodyguardku menyingkirkan dirimu," ancam Akira sembari menunjuk wajah Melvin dengan jari telunjuk mungilnya.


Melvin tersenyum kemudian meraih jari mungil yang mengacung di hadapan wajahnya. "Aku tidak percaya bahwa gadis secantik kamu bisa berlaku sekejam itu, Akira. Dan kamu tidak usah khawatir, rahasiamu aman bersamaku."


"Tentu saja bisa, kenapa tidak? Dan satu lagi, jangan panggil aku Akira. Akira adalah nama panggungku. Panggil saja aku Aira, tapi ku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, Tuan Melvin. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan orang sepertimu," jawab gadis itu.


Melvin terus melemparkan senyuman manisnya kepada Akira. "Tapi aku berharap bisa bertemu lagi denganmu, Nona Aira. Aku juga ingin mempertemukan dirimu dengan Shakila.


"Ya, mungkin nanti. Sekarang kembalikan ponselku," pinta gadis itu sembari mengulurkan tangannya kepada Melvin.


Melvin meraih ponsel milik Aira yang ia simpan kemudian mengembalikanya.


"Sebaiknya aku antar kamu kembali ke kampusmu, ya."


"Tidak usah, aku sudah terlambat. Sebaiknya antar aku pulang saja," jawab Aira.


"Baiklah, kalau begitu."


Melvin memutar balik mobilnya dan mengantarkan gadis itu kembali ke kediamannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2