
"Joe, jika sesuatu terjadi, segera hubungi aku," ucap Marcello kepada Joe yang akan segera berangkat menuju Rumah Sakit.
"Baik, Tuan!"
Mobil yang dikemudikan oleh Bodyguard itupun segera meluncur, meninggalkan mansion bersama Sofia dan Joe di dalamnya.
"Apa Bu Sri akan baik-baik saja, Dad?" tanya Marissa cemas.
Marcello merengkuh tubuh Marissa kemudian menuntunnya memasuki kediaman mereka.
"Kita berdoa saja, semoga Bu Sri baik-baik saja, Cha."
Marcello memperhatikan bando berbentuk telinga macan yang masih menempel di kepala Marissa dan hal itu membuatnya tersenyum. Apalagi saat ia membayangkan wanita itu lengkap dengan lingerie berekor yang tadi dikenakannya. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Marissa memeluk pinggang Marcello sambil menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.
"Daddy, aku jadi merasa bersalah. Karena permintaan bodohku yang memaksa Sofia untuk dinner bersama Om Joe, Sofia jadi jadi tidak bisa menemani Ibunya. Padahal Ibunya sedang sakit parah," lirih Marissa.
"Hush, jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Sebaiknya kamu berdoa saja, semoga Bu Sri baik-baik saja," ucap Marcello.
Setibanya di kamar mereka, Marissa melepaskan kimono tidurnya dan melemparnya ke sembarang arah kemudian duduk di tepian tempat tidur dengan wajah sendu. Marcello kembali tersenyum ketika menyaksikan Marissa yang masih lengkap dengan lingerie macannya, ia menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.
"Hei, macan buntingku. Jangan sedih begitu," ucapnya sembari meraih wajah Marissa hingga mereka pun saling bertatap mata.
Marissa menghembuskan napas berat. "Aku jadi kasihan sama Sofia, Dad."
"Lupakan sejenak Sofia dan Ibunya, sekarang aku ingin menemui macam buntingku yang nakal tadi. Dimana dia, ha?" tanya Marcello sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari seseorang.
__ADS_1
Marissa memukul lengan Marcello sambil menekuk wajahnya.
"Dasar kucing kecil!"
Sementara itu di dalam mobil.
Sofia masih terisak sambil memeluk tubuh Ibunya yang masih tidak sadarkan diri. Joe yang duduk di samping kursi kemudi beberapa kali melirik Sofia yang duduk di kursi belakang. Ia begitu iba melihat gadis itu apalagi saat ia ingat pesan Bu Sri waktu lalu, bahwa Sofia tidak memiliki siapapun lagi selain Bu Sri.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Bodyguard itupun tiba di halaman Rumah Sakit. Joe bergegas mengangkat tubuh lemah Bu Sri dan menyerahkannya kepada para tim medis yang sigap membantunya.
"Berdoalah semoga Ibumu baik-baik saja, Sofia," ucap Joe sembari menepuk pelan pundak Sofia.
Tiba-tiba saja Sofia menghambur ke pelukan Joe dan terisak disana. Joe membulatkan matanya ketika gadis itu memeluknya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pelukan mendadak dari gadis itu.
Perlahan Joe membalas pelukan gadis itu dengan tangan gemetar. Jantungnya pun berdetak dengan sangat cepat.
Joe mengelus puncak kepala Sofia yang kini berada di dada bidangnya dengan lembut. Walaupun sebenarnya Joe sangat gugup, tetapi ia masih bisa mengontrol dirinya agar tidak terlihat bodoh di depan gadis itu.
"Yakinlah, bahwa Ibumu akan baik-baik saja, Sofia."
Cukup lama Joe dan Sofia duduk di luar ruangan dimana Bu Sri di rawat. Mereka menunggu Dokter yang masih menangani Bu Sri di dalam ruangan itu.
"Minumlah." Joe menyerahkan sebotol air mineral kepada Sofia. Air mineral yang baru saja dibeli oleh Bodyguard di toko yang letaknya tepat di depan Rumah Sakit.
Sofia menyambutnya kemudian mulai meneguk minuman yang diberikan oleh Joe tersebut.
"Roti?"
__ADS_1
Joe kembali menyerahkan sebuah roti berisi selai strawberry kepada Sofia, tetapi gadis itu hanya menolehnya tanpa berkeinginan menyambut roti tersebut.
"Aku masih kenyang, Tuan. Terima kasih," ucap Sofia.
"Ya, sudah."
Joe meletakkan roti itu di samping tubuhnya dan membiarkannya begitu saja. Sofia kembali melirik roti tersebut dan ia iba melihat makanan yang di anggurkan seperti itu.
Sofia meraih roti tersebut dan membuka bungkusnya. Ia menggigit roti tersebut sambil menyeka air matanya.
"Kata Ibu jangan pernah sia-siakan makananmu," ucap Sofia.
Joe terkekeh pelan sambil memperhatikan Sofia saat itu. Gadis itu masih terisak, tetapi mulutnya tidak menolak untuk mengunyah makanannya.
"Kamu benar," sahut Joe.
Tak terasa roti itupun ludes disantap oleh Sofia dan tidak berselang lama, Dokter yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul di hadapan mereka.
"Keluarga Bu Sri?" tanya Dokter.
"Saya anaknya, Dok."
"Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?"
"Tentu saja, Dok."
Sofia dan Joe mengikuti Dokter tersebut hingga ke ruangannya. Wajah Dokter itu terlihat murung dan jelas sekali bahwa ada yang tidak beres, yang sedang terjadi pada Bu Sri saat ini.
__ADS_1
...***...