
Setelah selesai menguping pembicaraan Riyadh, Ismika kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir didalam ruangan itu dengan wajah cemas.
"Aku harus bertemu dengan kedua lelaki itu sebelum mereka tertangkap. Jika mereka tertangkap itu artinya aku dalam masalah," gumamnya.
Beberapa kali Ismika mencoba menghubungi nomor ponsel salah satu laki-laki tersebut. Namun, sayang nomor ponselnya sudah tidak aktif.
"Akh!" teriaknya kesal sembari melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
Tepat disaat itu, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar. Ismika menautkan kedua alisnya kemudian menghampiri dsun pintu.
"Siapa?" tanyanya.
"Ini aku, Ismika."
Terdengar suara Riyadh dari balik pintu kamar. Ismika sempat menghentikan pergerakan tangannya, meraih gagang pintu, tetapi setelah beberapa detik berikutnya, ia pun bersedia membukakan pintu tersebut.
Nampak sosok Riyadh sedang berdiri di hadapannya. Ismika memperhatikan wajah lelaki itu. Wajahnya terlihat cukup tenang, tidak seperti kemarin.
"Ada apa? Apa kamu ingin berdebat masalah Dian lagi?" ketus Ismika yang kini bersandar di bagian sisi samping pintu kamarnya.
"Sebenarnya bukan berdebat, Ismika. Tetapi lebih ke penyelesaian. Kita selesaikan masalah kita ini secara baik-baik dan cari solusi yang tepat, agar kita sama-sama nyaman," jawab Riyadh.
Ismika diam, ia hanya tersenyum sinis tanpa berkeinginan membalas ucapan lelaki itu.
"Jadi, bolehkan aku masuk?" lanjut Riyadh.
Ismika pun membukakan pintu kamarnya lebih lebar dan membiarkan lelaki itu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Riyadh.
Lelaki itu masuk kedalam kamarnya kemudian duduk di tepian tempat tidur Ismika.
"Duduklah."
Riyadh menepuk ruang kosong disamping tubuhnya dan mengajak Ismika untuk duduk di tempat itu. Ismika sempat ragu, tetapi setelah melihat senyuman yang di lemparkan oleh Riyadh kepadanya, Ismika pun luluh dan duduk disana.
Riyadh kembali tersenyum ketika Ismika duduk di sampingnya. Ia meraih tangan wanita itu kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Ismika, kita sudah sama-sama tahu dan mengerti bahwa hubungan yang kita jalani selama ini bukanlah hubungan yang sehat. Keretakan rumah tangga kita sudah dimulai bahkan sebelum kejadian naas itu terjadi. Jujur, aku mempertahan hubungan ini hanya untuk Zaid. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu sejak aku tahu bahwa kamu--"
Ismika kembali meradang. Ia bangkit dan menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Riyadh.
"Jadi kamu kemari hanya ingin membahas masalah itu?!" geram Ismika dengan wajah memerah.
"Sudah kukatakan padamu, Ismika. Aku kemari untuk menyelesaikan masalah kita agar kita sama-sama nyaman," tegasnya.
"Jadi, apa maumu sekarang? Katakan saja, jangan berbelit-belit," jawab Ismika.
"Aku ingin kita sudahi saja hubungan kita. Zaid sudah dewasa, ia pasti mengerti bagaimana keadaan kita jika kita menjelaskan secara baik-baik."
Ismika tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak terima dengan keputusan Riyadh yang hanya berpihak pada dirinya sendiri.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau! Itu sama saja artinya nyaman untuk kamu tapi tidak untukku," ketus Ismika.
"Lalu apa maumu? Apa kamu ingin kita terus bersandiwara dengan mempertahankan pernikahan ini? Jujur, aku sudah tidak sanggup harus berpura-pura bahwa kita baik-baik saja, Ismika. Aku berjanji, aku akan tetap menjamin biaya kehidupanmu sama seperti saat kamu menjadi istriku dan soal perlakuanmu terhadap Dian, aku akan melupakannya. Kita tidak perlu memperpanjang masalah itu," tutur Riyadh.
__ADS_1
Ismika lagi-lagi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tetap tidak setuju dengan keputusan yang ingin diambil oleh Riyadh.
"Jika ini tentang perceraian, maaf, Riyadh! Sebaiknya kamu lupakan saja. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah ingin bercerai darimu," ucapnya sembari bangkit dari posisi duduknya.
Riyadh pun akhirnya bangkit dan kini ia berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Sebenarnya apa tujuanmu mempertahankan hubungan ini, Ismika? Apa kamu ingin terus mengikatku dengan pernikahan kita yang tidak sehat ini?! Jika benar itu yang kamu inginkan, itu artinya aku akan tetap menyelidiki kejadian di malam itu, dimana kamu ingin melenyapkan Dian dan juga anak kami," kesal Riyadh yang kemudian melenggang pergi meninggalkan wanita itu.
"Aakkhhh!!!" jerit Ismika dengan deraian air mata.
Ismika menjatuhkan dirinya keatas tempat tidur. Tubuhnya meringkuk dan bergetar hebat. Di tengah isak tangisnya, benda pipih yang tadi ia lempar ke atas tempat tidur tiba-tiba bergetar.
Ismika menghentikan isak tangisnya dan meraih ponsel tersebut. Sambil menyeka air mata yang masih mengalir, Ismika mencoba mengecek nomor siapa yang sedang mencoba menghubunginya.
"Sialan, mau apa lagi dia?!" umpatnya.
Ismika mencoba duduk di tepian tempat tidur dan menerima panggilan itu.
"Sudah kubilang jangan pernah hubungi aku lagi!" teriak Ismika.
"Ismika, aku--"
Tiittt ...
Panggilan pun terputus karena Ismika memutuskan panggilan orang itu.
...***...
__ADS_1