
Dua bulan kemudian.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Marcello
Marissa menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Ya, aku siap."
Marcello tersenyum kemudian menyerahkan lengannya untuk dipeluk oleh Marissa. Setelah Marissa melingkarkan tangannya ke lengan kekar Marcello, mereka pun segera melangkahkan kaki mereka menuju halaman depan, dimana Joe sudah menunggu.
"Selamat siang, Tuan dan Nona."
Joe membukakan pintu kemudian mempersilakan pasangan itu masuk ke dalam mobil.
"Selamat siang juga, Om Joe. Terima kasih," sahut Marissa.
Setelah pasangan itu masuk, Joe pun segera menyusul mereka kemudian melajukan mobil tersebut menuju tempat praktek Dokter Kandungan. Ya, hari ini jadwal Marissa melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya. Tinggal beberapa hari lagi, si kembar pun akan segera hadir di antara mereka.
"Apa kamu masih tidak ingin tahu bagaimana keadaan bayi-bayi kita?" tanya Marcello sambil mengelus rambut Marissa yang kini tengah bersandar di dada bidangnya.
Marissa menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Apa kamu tidak penasaran dengan jenis kelamin mereka, Cha?" tanya Marcello lagi.
Lagi-lagi Marissa menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Marcello menghembuskan napas berat dan berhenti bertanya. Ia tidak ingin memaksa Marissa melakukan pemeriksaan itu secara detail seperti dulu. Marcello takut istri kecilnya kembali frustrasi karena sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Tapi-- untuk hari ini aku ingin memeriksa bagaimana kondisi mereka. Aku tidak peduli bagaimanapun bentuk mereka nantinya, apapun jenis kelamin mereka, yang penting mereka lahir dengan selamat. Hanya itu yang aku harapkan sekarang," tutur Marissa sembari membenamkan wajahnya ke dada Marcello.
__ADS_1
Tersungging sebuah senyuman di wajah tampan Marcello.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Joe pun tiba di halaman depan ruang praktek Dokter Kandungan tersebut.
"Silakan masuk Tuan dan Nyonya Marcello," sambut Sang Dokter.
Dengan hati berdebar-debar, Marissa memasuki ruangan itu. Entah mengapa Marissa merasa sedikit trauma saat memasuki ruangan Dokter Kandungan, dimanapun itu dan dengan Dokter manapun.
Wajah Marissa nampak pucat dan entah sudah berapa kali Marissa menghembuskan napas beratnya. Marcello melihat kegundahan Marissa saat itu. Saat Marissa duduk di kursi yang sudah tersedia di ruangan itu, Marcello malah menghampiri Dokter kemudian mengajaknya bicara.
"Dokter, Tolong dengarkan saya. Jika nanti Anda menemukan sesuatu yang aneh terhadap perkembangan salah satu bayi saya, saya harap Dokter diam saja. Jangan ceritakan hal itu pada Istri saya. Yang perlu Dokter jelaskan hanya bagaimana keadaan kedua bayi kembar saya tanpa menyinggung kekurangan yang mungkin akan Anda temui di saat pemeriksaan nanti," tutur Marcello sembari menatap lekat kedua mata Dokter.
Dokter menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. "Baiklah, Tuan. Saya mengerti," jawab Dokter.
Setelah memberitahu Dokter tentang itu, Marcello pun kembali menghampiri Marissa. Ia menarik sebuah kursi di samping Marissa kemudian duduk disana.
"Kamu dari mana saja, Dad?" tanya Marissa yang nampak cemas.
"Benarkah?" Marissa menatap Marcello penuh selidik.
"Serius, Sayang."
Dokter mulai memeriksa Marissa seperti biasanya. Mulai dari tekanan darahnya, berat badannya yang terus meningkat sesuai pertumbuhan bayi-bayi dalam kandungannya dan setelah itu, sang Dokter pun mengajak Marissa berbaring di atas tempat tidur pasien.
Marcello kembali menatap lekat sang Dokter seolah mengingatkan soal ucapannya tadi. Dokter pun mengerti apa maksud Tuan Marcello saat itu.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG pada kandungan Marissa. Saat itu Marissa memperhatikan ekspresi wajah Dokter dengan seksama dan sepertinya tidak ada yang mencurigakan disana. Hal itu membuat Marissa sedikit lebih tenang.
"Rencananya Nona ingin melahirkan secara normal atau cesar?" tanya Dokter serius.
__ADS_1
"Entahlah, Dok. Kalau saya tidak masalah mau secara normal ataupun cesar. Yang penting kedua bayi saya lahir dengan selamat dan sehat," jawab Marissa.
"Kalau menurut Dokter sendiri bagaimana, Dok? sela Marcello.
"Kalau menurut saya sebaiknya Nona Marissa melahirkan secara cesar saja."
"Tapi-- kenapa, Dok?" tanya Marcello cemas.
"Salah satu posisi bayi Anda ada yang sungsang, Tuan."
"Tapi dia baik-baik saja, 'kan?" Marcello semakin panik.
Dokter tersenyum. "Mereka baik-baik saja, Tuan. Hanya saja posisi salah satu diantaranya dalam keadaan yang seperti saya jelaskan tadi," sahut Dokter.
"Saya 'sih terserah Dokter saja. Apapun yang menurut Dokter terbaik untuk saya dan kedua bayi saya," sela Marissa.
"Apa Tuan dan Nona ingin tahu jenis kelamin bayi-bayi kalian?" tanya Dokter dengan senyum hangat menatap Marissa dan Marcello.
"Ya!"
"Tidak!"
Jawaban berbeda dari pasangan itu membuat Dokter heran. Jika sang suami begitu antusias ingin mengetahui jenis kelamin bayi kembarnya. Berbanding terbalik dengan sang istri yang menolak mengetahui jenis kelamin sang bayi.
"Jadi-- saya harus kasih tau atau tidak?" tanya Dokter bingung.
Marissa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Dok! Biarkan jadi kejutan buat kami," sahut Marissa.
Jawaban Marissa membuat Marcello tidak bisa berkutik. Ia pun pasrah dan akhirnya mengikuti kemauan sang istri.
__ADS_1
...***...