
"Ayo cepat, naik! Atau ku tinggal disini kamu," kesal Dylan.
"Idih, kejam amat."
Maria segera naik dan duduk di belakang Dylan. Gadis itu melingkarkan tangannya dengan erat ke pinggang lelaki itu. Dylan sempat terkejut dan sontak menatap tangan mungil yang kini melingkar di perut six packnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kamu memelukku. Kamu cari kesempatan dalam kesempitan, ya!" protes Dylan.
"Lah, trus bagaimana, Om? Kalo gak pegangan seperti ini, Maria bisa jatuh. Apa Om Udin ingin ganti rugi dengan nominal yang lebih besar lagi?" balas Maria sambil membulatkan matanya.
"Ah, terserah kamu saja lah."
Sebenarnya bukan apa-apa, hanya saja Dylan takut tidak bisa menahan perasaan anehnya. Sama seperti saat Maria menyentuh wajahnya ketika berada di bengkel.
"Sekarang kita mau kemana? Ke sekolahmu?" tanya Dylan yang sedang mengemudikan motor matic kesayangan Maria.
"Aku sudah terlambat, Om. Tidak mungkin aku kembali ke sekolah di jam seperti ini. Bisa-bisa aku kena hukum sama Pak Guru.
"Trus, apa kamu ingin pulang? Biar aku anterin sampai rumahmu yang megah itu."
"Eh, ternyata Om Udin udah tau dimana rumahku, ya?"
"Siapa sih yang tidak kenal sama Tuan Marcello Alexander. Seluruh pengusaha di negara ini pasti kenal dengannya. Dan sekarang perusahaan Ayahmu dipegang oleh Kakak kembarmu, 'kan?"
"Eh, iya! Kamu benar, Om. Kok, Om Udin tau sih?"
"Ya, taulah. Sekarang perusahaan Bossku bekerja sama dengan perusahan milik Ayahmu sudah hampir setahun ini."
Maria melirik wajah tampan lelaki yang sedang berada di depannya itu.
"Bossmu yang tajir itu ya, Om? Siapa namanya? Dia sudah tua, apa masih muda? Kalau masih muda kayak Om, aku mau." Celoteh Maria sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Dylan tersenyum tipis mendengar celotehan gadis mungil itu.
"Ya, Bossku yang tajir itu. Namanya Dylan Elliot Carter, usianya 32 tahun dan dia lumayan tampan," jawab Dylan.
"Waahhh! Namanya keren sekali, Om Udin. Dylan Elliot Carter dan Maria Silvana Alexander, terdengar cocok ya!" seru Maria dengan sangat antusias.
"Jangan senang dulu, aku tidak yakin dia mau sama gadis ingusan seperti kamu. Dia menyukai gadis dewasa yang cantik dan seksi, tentunya. Lagipula aku heran sama kamu, Maria. Bukankah Daddymu kaya tajir melintir, tetapi kenapa nasibmu terlihat menyedihkan seperti ini."
"Menyedihkan bagaimana maksudmu?"
"Setahu aku, ya. Anak dari Boss tajir itu biasanya menggunakan mobil mewah dan kemana-mana diantar sama sopir pribadi. Coba lihat kamu! Sudah motor butut, suka jajan sembarangan, dan lebih parahnya lagi suka berkeliaran di jam-jam sekolah."
Maria terdiam sambil memikirkan ucapan Dylan saat itu. "Benar juga, ya? Tapi Daddy dan Mommyku tidak pernah mempermasalahkan hal itu."
Tepat disaat itu Dylan dan Maria berpapasan dengan sebuah mobil mewah.
"Bukankah itu Tuan Dylan?"
"Siapa itu, Om? Apa Om mengenalnya?" tanya Maria sembari membuka kaca helmnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengannya disini!? Gawat," gumam Dylan.
Lelaki yang mengemudikan mobil tersebut segera keluar dari mobilnya kemudian bergegas menghampiri Dylan dan Maria.
"Tuan Dy--"
"Shhttt!" Dylan mengedip-ngedipkan matanya kepada lelaki itu sembari mengulurkan tangannya.
"Tuan Mac, apa kabar."
Dylan mengajak lelaki yang bernama Mac tersebut menjauh dari Maria kemudian bicara tanpa kedengaran gadis itu.
__ADS_1
"Tuan Dylan, Anda kenapa?"
"Sudah, jangan banyak bicara. Sebaiknya kamu kembali ke kantor dan urus semua pekerjaanku. Sepertinya aku tidak akan masuk hari ini karena aku terjebak bersama gadis ingusan itu."
Dylan mendorong pelan tubuh Mac, Assisten pribadinya itu masuk kedalam mobil mewah miliknya.
"Baik, Tuan."
Baru saja Dylan ingin melangkah pergi, Mac kembali bicara.
"Tuan, Anda terlihat tampan dengan helm dan motor matic bermotif kucing imut itu," ucap Mac sambil mengulum senyum.
"Sialan kamu! Kamu mengejekku, ya! Awas ya, jangan sampai ini hal ini bocor dan jika sampai ada yang tahu tentang hal ini, itu artinya kamu yang memberitahu mereka," ucap Dylan dengan wajah masam menatap Mac.
Mac terkekeh sembari mengangguk pelan. "Baik, Tuan. Anda tenang saja. Rahasia Anda aman bersama saya,"
"Hhhh, yang benar saja!" gerutu Dylan.
Dylan kembali menghampiri Maria yang masih terbengong-bengong karena lelaki itu sempat menjauhinya.
"Dia siapa, Om Udin? Kenapa gerak-gerik kalian terlihat mencurigakan sekali," tanya Maria sambil memperhatikan wajah lucu Dylan saat mengenakan helm bermotif Hello Kitty tersebut.
"Dia adalah Assisten Boss Dylan. Dia bilang Tuan Dylan sudah mencari keberadaanku dan aku harus segera kembali," sahut Dylan.
Dylan menaiki motor Maria kemudian menghidupkan mesinnya.
"Sebaiknya kuantar kamu pulang," sambung Dylan.
"Baiklah."
Maria pun kembali ke posisinya semula. Ia memeluk Dylan dari belakang dan membiarkan lelaki itu mengantarkannya pulang ke mansion.
__ADS_1
...***...