
Joe berjalan cepat meninggalkan Sofia di belakang. Dengan setengah berlari, Sofia mencoba mensejajarkan langkahnya bersama lelaki itu. Padahal saat itu kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar.
"Mas, kamu cemburu, ya?" tanya Sofia sembari melirik wajah Joe yang terlihat lebih bringas dari biasanya.
"Menurutmu?" jawabnya tanpa menoleh sedikitpun dan tatapan lelaki itu terus fokus ke depan.
"Cemburu!"
"Nah, itu kamu tahu!!!"
Dengan secepat kilat Joe berbalik dan menghadap ke arah Sofia yang masih mengikutinya di belakang. Sofia sampai terkaget-kaget ketika lelaki itu sudah berdiri di hadapannya. Joe bahkan menunjuk wajah Sofia dengan jari telunjuknya.
"Kepalaku pusing, Mas. Beruntung Bodyguard itu sigap menangkap tubuhku, kalau tidak mungkin aku sudah jatuh ke lantai. Ini saja kepalaku masih terasa pusing dan tempat ini pun terasa berputar-putar 360 derajat dan aku tidak tahu kenapa," jelas Sofia.
Joe menautkan kedua alisnya dan sekarang wajahnya terlihat panik. Ia memegangi kedua pipi Sofia dan menatapnya lekat.
"Benarkah? Jangan-jangan kamu sedang sakit. Coba lihat wajahmu, wajahmu begitu pucat!"
"Aku tidak tahu, apa mungkin aku mengalami anemia, ya? Soalnya 'kan tiap malam aku begadang terus," sindir Sofia.
"Benarkah seperti itu?!"
"Ya, siapa tahu 'kan?"
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar dan beristirahatlah nanti aku panggilkan Dokter untukmu," ucap Joe sembari menuntun istri kecilnya itu menuju kamar mereka.
Setibanya di kamar, Joe memerintahkan Sofia untuk berbaring di tempat tidur mereka sembari menunggu kedatangan Dokter.
"Dokternya masih di perjalanan, tunggulah sebentar lagi," ucap Joe.
Tidak berselang lama, Dokter pun tiba di halaman depan mansion. Kebetulan saat itu Marissa dan Marcello baru saja mengantarkan kepulangan Dian dan Riyadh.
__ADS_1
"Bukankah itu mobil Dokter? Siapa yang memanggilnya?" tanya Marissa kepada Marcello.
"Aku juga tidak tahu," jawab Marcello.
Tepat di saat itu Joe tiba di sana. Joe segera menghampiri Dokter dan menyambut kedatangannya.
"Selamat siang, Dok. Mari, saya antar ke kamar saya. Istri saya sedang istirahat disana. Katanya kepalanya pusing, apa mungkin dia sedang mengalami anemia, ya?" tanya Joe tanpa basa-basi sambil menyalami Dokter tersebut.
"Selamat siang juga, Tuan Joe. Sebaiknya saya periksa dulu, biar kita tahu apa penyebabnya," jawab Dokter.
Marissa dan Marcello menghampiri Joe dan Dokter tersebut. Mereka penasaran dan ingin tahu siapa sebenarnya yang sedang sakit.
"Siapa yang sakit, Joe?" tanya Marcello.
"Istri saya, Tuan. Dia bilang kepalanya sakit dan terasa berputar-putar," sahut Joe sembari membungkuk hormat ketika lelaki itu menghampirinya.
"Apa jangan-jangan Sofia hamil? Aku 'kan dulu juga begitu, kepalaku sakit tanpa sebab dan bahkan aku sampai pingsan dibuatnya," tutur Marissa sambil terkekeh pelan, mengingat pertama kali ia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.
"Ya, bisa saja, 'kan. Ya, 'kan, Dok?!" ucap Marissa.
Dokter hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum hangat kepada Marissa.
Mereka pun segera melangkah menuju kamar Joe. dimana Sofia menunggu kedatangan Dokter.
Setibanya di ruangan itu, Dokter segera melakukan tugasnya. Memeriksa keadaan Sofia saat itu. Dokter mengecek tekanan darah Sofia dan ternyata wanita itu baik-baik saja.
"Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Nona Marissa benar," gumam Dokter sambil memijit pelipisnya.
"Saya kenapa, Dok?" tanya Sofia panik.
"Kapan terakhir kali Anda mendapatkan tamu bulanan, Nona Sofia?" tanya Dokter balik sembari menggeledah isi tasnya dan mencari-cari sesuatu.
__ADS_1
"Bulan kemarin masih dapet, Dok. Dan bulan ini--" Sofia mencoba mengingat-ngingat tanggal biasanya ia mendapat tamu bulanan.
"Bulan ini telat, satu, dua, tiga-- ya, tiga hari! Seharusnya tiga hari yang lalu saya sudah dapet, Dok. Memangnya kenapa sih, Dok? Apa anemia dapat menyebabkan tamu bulananku terlambat?" tanya Sofia.
Akhirnya Dokter menemukan benda yang sejak tadi ia cari-cari. Dokter itu tersenyum kemudian memperlihatkan benda itu kepada Sofia.
"Sebaiknya kita test dulu. Mari, Nona."
Sofia membulatkan matanya dengan sempurna. Bahkan mulutnya pun ikut-ikutan membulat, tetapi ia tutup dengan tangannya.
"Ja-jadi saya-- "
"Sebab itulah kita cek dulu, siapa tahu benar, 'kan." Dokter itu tersenyum kepada Sofia dan membantunya bangkit dari tempat tidur.
"Pelan-pelan, Nona."
Dokter memegangi tubuh Sofia dengan erat karena kepala Sofia masih terasa sangat berat. Setibanya di dalam kamar mandi, Dokter pun segera melakukan tugasnya.
"Loh, Sofia kenapa dibawa ke kamar mandi?" gumam Joe heran.
"Apa, kamar mandi?!" pekik Marissa.
Setelah itu Marissa pun tersenyum lebar. "Wah, jangan-jangan benar apa kataku, Sofia itu sedang hamil!" sambung Marissa sambil memukul lengan Joe.
Marcello menepis tangan Marissa kemudian menggenggamnya dengan erat. "Kondisikan tanganmu, Cha!" kesal Marcello.
Joe nampak semringah mendengar ucapan Marissa dan ia sangat berharap, apa yang dikatakan oleh Marissa itu benar.
"Jika benar Sofia sedang hamil, berarti rumah ini akan semakin ramai dengan suara tangisan bayi. Dua bayi kita, bayi Om Joe, sama bayinya Ibu. Wah! Aku tidak bisa membayangkan!" Marissa heboh sendiri.
Sedangkan Marcello hanya bisa menggaruk tengkuknya. Ia tidak bisa membayangkan bahwa mansion mewahnya akan dipenuhi oleh bayi-bayi.
__ADS_1
...***...