
"Om, Uuummm ..."
Maria memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam ke arah Dylan. Dylan terkekeh kemudian mendorong pelan wajah gadis itu.
"Heh, bocah. Sudah sana masuk!"
"Hhh, Om gak peka!"
"Bukan gak peka, Nona. Tapi, belum saatnya. Oh ya, bilangin sama Mommy dan Daddymu, malam ini aku akan berkunjung ke mansion untuk membicarakan masalah hubungan kita."
"Serius!" pekik Maria dengan mata membulat.
"Ya, Nona. Aku serius," jawab Dylan sembari membuka pintu mobil dan bersiap memasukinya.
"Siap, Om Udin! Aku akan bilangin sama Mommy dan Daddyku bahwa malam ini kamu akan berkunjung ke kediaman kami!"
Dylan tersenyum kemudian masuk ke dalam mobilnya. "Cepat masuk," titah Dylan sebelum ia melajukan mobil tersebut.
"Ok, bye!"
Maria melambaikan tangannya sebelum ia berlari kecil memasuki halaman sekolahnya. Setelah Maria menghilang dari pandangannya, Dylan pun segera melaju menuju perusahaannya.
Dylan tidak sadar, tepat di belakang mobilnya, mobil Aidan sedang melaju mengikuti kemanapun mobilnya bergerak. Dan ketika berada di tempat yang cukup sepi, Aidan menyalip mobil Dylan kemudian berhenti tepat di hadapannya.
"Huft, Aidan!" desahh Dylan sembari membuang napas panjang.
__ADS_1
Aidan keluar dari mobilnya kemudian menghampiri mobil Dylan. Wajah lelaki itu nampak memerah dan rahangnya terlihat dengan sempurna.
"Buka!" titah Aidan sambil mengetuk kaca pintu mobil Dylan dengan kasar.
Perlahan Dylan membuka pintu mobilnya sambil mempersiapkan diri, siapa tahu Aidan tiba-tiba saja menyerangnya. Namun, ternyata lelaki itu masih bisa menahan amarahnya.
"Ada apa, Aidan?"
"Tidak usah basa-basi, Dylan! Sekarang aku tanya padamu, apa hubunganmu dengan Maria, calon tunanganku!" geram Aidan dengan tatapan tajam menohok kepada Dylan.
"Dialah gadis itu, Aidan. Gadis yang memberikan aku gelang ini!" sahut Dylan sembari memperlihatkan gelang couple yang masih melekat di pergelangan tangannya.
"Sialan!"
Aidan mengepalkan tangannya ke udara dan ingin ia luncurkan ke wajah Dylan. Namun, dengan cepat ditahan oleh Dylan yang sejak tadi sudah bersiap menghadapi serangan mendadak dari lelaki itu.
"Baik-baik, katamu?! Lalu bagaimana dengan sikapmu yang ingin merebut Maria dariku? Apakah itu baik menurutmu, Dylan? Apa kamu sudah lupa bahwa kamu itu sahabatku?!"
Dylan menepuk pundak Aidan dengan lembut dan terus mencoba menenangkan lelaki itu.
"Sebenarnya aku tidak berniat merebut siapapun darimu, Aidan. Aku dan Maria sudah saling kenal bahkan sebelum Tuan Marcello dan Ayahmu menjodohkan kamu dengan gadis itu."
"Hmm, alasan! Aku yakin kamu memang sengaja melakukan ini untuk membalas perbuatanku dulu, kan?"
Dylan terkekeh pelan. "Apa maksudmu? Apa kamu kira aku melakukan ini untuk membalas perbuatanmu dulu padaku? Oh ayolah, Aidan! Jangankan untuk balas dendam, aku bahkan tidak pernah mengingat kejadian itu."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu! Sekarang kita serahkan semuanya kepada gadis itu! Biarkan dia memilih salah satu diantara kita. Apakah dia akan memilihmu atau dia malah memilihku untuk menjadi calon suaminya," ucap Aidan sembari menyeringai kepada Dylan.
"Aidan, sekarang aku bertanya padamu, apakah kamu mencintai gadis itu?"
"Ya, tentu saja aku mencintainya! Aku akan melakukan apa saja untuk Maria-ku!" sahut Aidan.
Dylan menghembuskan napas berat. "Kalau menurutku kamu hanya terobsesi, Aidan. Kamu tidak pernah mencintai Maria. Kamu hanya menginginkan dirinya menjadi milikmu, sama seperti wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihmu sebelumnya."
"Ah, omong kosong! Sekarang kita lakukan saja sama seperti yang aku katakan. Biarkan Maria memilih salah satu di antara kita dan aku sangat yakin kamu akan mengalami kekalahan untuk kesekian kalinya, Dylan!"
"Ya, lakukanlah."
Dylan berbalik kemudian segera memasuki mobilnya, begitupula Aidan. Lelaki itu segera kembali ke mobilnya kemudian melaju meninggalkan tempat itu.
"Terimalah kekalahanmu yang kedua kalinya, Dylan. Dulu Amalia lebih memilihku karena aku jauh lebih mapan dan sukses darimu! Begitupula Maria, aku sangat yakin bahwa gadis itu pasti memilihku. Selain aku jauh lebih keren, usiaku jauh lebih muda darimu!"
Aidan terbahak setelah berkata seperti itu. Ia benar-benar sangat yakin bahwa Maria pasti akan memilihnya sama seperti Amalia, mantan kekasihnya.
Dylan tiba di kantor dan segera menuju ruangannya. Wajah lelaki itu terlihat kusut, tidak seperti biasanya. Ia duduk di kursi kesayangannya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada masalah apa, Tuan?" tanya Mac yang sejak tadi memperhatikan wajah kusut Dylan.
"Aidan baru saja menemuiku, Mac. Ia ingin Maria memilih salah satu di antara kami sama seperti dulu. Entah mengapa aku jadi ketakutan, Mac. Aku teringat saat Amalia lebih memilih dirinya dan aku takut hal itu terjadi lagi pada Maria," lirih Dylan sambil menutup matanya rapat.
"Yakinlah, Tuan Dylan. Nona Maria pasti akan memilihmu," sahut Mac.
__ADS_1
...***...